http://kompas.com/read/xml/2008/08/23/10343759/iklan.politik.contohlah.iklan.rokok


JAKARTA, SABTU â€" Iklan politik sejumlah politisi dan partai politik
yang akan bertarung pada Pemilu 2009 mulai meramaikan media massa.
Paling mencolok muncul di berbagai stasiun TV, bahkan iklan Ketua Umum
PAN Soetrisno Bachir mendapat protes dari bintang iklannya sendiri,
Suster Rabiah alias "suster apung". Bagaimana idealnya iklan politik?

Pengamat televisi Arswendo Atmowiloto mengatakan, seharusnya iklan
politik mencontoh iklan rokok. Iklan rokok selalu menyisipkan
peringatan dalam setiap iklannya. Misalnya, "Merokok dapat menyebabkan
gangguan kesehatan, impotensi....". Nah, menurut Arswendo, iklan
politik pun sejatinya memberikan peringatan kepada para konsumennya.

"Iklan politiknya itu seharusnya ngasih peringatan. Misalnya,
hati-hati iklan ini akan menyebabkan kanker alias kantong kering,
hati-hati iklan ini ada trik menipunya, atau iklan ini berisiko
menyebabkan negara ambruk kalau Anda salah pilih. Atau peringatan
seperti apalah. Tapi itu perlu, minimal memberikan penjelasan pada
masyarakat. Kalau yang ada sekarang, menurut saya bukan iklan tapi
kampanye. Karena munculnya berkali-kali," ujar Arswendo dalam diskusi
"Iklan Politik antara Dana dan Etika" di Jakarta, Sabtu (23/8).

Menurut Arswendo, saat ini media televisi menjadi media yang paling
efektif untuk beriklan. Negatifnya, biaya iklan menjadi semakin besar
sehingga hanya menguntungkan bagi mereka yang berduit. Sedangkan dari
sisi substansi, iklan-iklan politik yang ada saat ini hanya sekadar
pengenalan figur dan partai.

Ketua Indo Barometer M Qodari mengatakan, sistem pemilihan langsung
membuat partai dan politisi harus melakukan sosialisasi agar
masyarakat memilih mereka, apalagi dengan jaringan partai yang
terbatas. Media televisi yang daya jangkaunya paling luas menjadi
pilihan utama. "Wajar kalau politisi atau parpol iklan di TV. Daya
jangkau TV itu kan mencapai 90 persen di Indonesia. Ini efektif supaya
mereka cepat dikenal. Jaringan parpol kan juga terbatas, kalau datang
sendiri mereka bisa gempor di wilayah Indonesia yang luas ini," ujar
Qodari.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Badan Pengawas Periklanan P3I Ridwan
Handoyo mengakui ada perubahan iklan politik di Indonesia. Saat ini,
iklan politik lebih untuk membangun brand awareness, individual
awareness, dan party awareness. "Bahkan, iklan sekarang sudah berani
menyerang saingannya. Kalau dulu sebatas ajakan, coblos A, B, atau C.
Seharusnya, memang ada panduan bagaimana iklan politik yang baik dan
sesuai etika," kata Ridwan.

Secara etika, unsur-unsur yang harus dipenuhi adalah jujur, benar,
berani bertanggung jawab, bersaing secara sehat dan melindungi serta
menghargai khalayak, sesuai dengan etika, tidak melanggar hukum dan
nilai-nilai agama.

Inggried Dwi Wedhaswary




Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network

Kirim email ke