Cuma mau tanya dikit Bung Anton ,Pahamkah tentang bahaya Outsourcing bagi Bangsa ini dan maukah ikut mengkampanyekan hapus & tolak outsourcing illegal demi anak cucu dan generasi bangsa ini . Kaum buruh sedang dalam bahaya besar dengan adanya bahaya outsourcing illegal dan perlawanan besar rasanya patut dimulai dari yang kecil .
--- In [email protected], "anton_djakarta" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Satu lagi yang saya tambahkan tentang Budiman. Saya ini kalo udah > ngomong politik dan sejarah terlalu banyak omong, karena memang saya > jarang sekali berjumpa lawan bicara yang memiliki daya wawasan yang > luas dalam memahami sejarah politik serta makna dibalik sejarah itu. > Ketika saya berjumpa dengan Budiman dan kawan-kawan di suatu tempat, > saya bicara banyak dan panjang lebar seperti layaknya kuliah umum > saja tentang sejarah politik dan sejarah terbentuknya susunan > masjarakat dalam konteks KeIndonesiaan. Dan saya perhatikan, Budiman > Sudjatmiko adalah pendengar yang baik serta bersikap santun, > realitanya dia adalah pahlawan besar inspirator gerakan muda, namun > dia adalah seorang pembelajar. Kepemimpinan yang baik adalah > kepemimpinan yang bisa memasukkan unsur pembelajaran dalam salah satu > variabel ciri kepemimpinan itu, dan Budiman memiliki kapasitas itu. > Tapi dari semuanya keunggulan Budiman terletak di watak > konsistensinya terhadap keberpihakannya pada rakyat banyak. Jauh dari > semua yang tangkap, sosok Budiman saya tegaskan adalah orang yang > mampu menangkap pesan-pesan berdaya abstrak, lalu merangkainya > menjadi suatu realitas. Dari sinilah kemudian keberanian bermula. > Menciteer kata-kata WS Rendra : ....Dan Perjuangan adalah Pelaksanaan > Kata-Kata, Keberanian Menjadi Cakrawala. > > Sosok Budiman mengingatkan saya pada dua orang : Sukarno dan Tan > Malaka yang sering berdialog dengan saya dalam buku-bukunya, Sukarno > saya kenal sejak saya berusia 6 tahun sejak gambarnya yang mempesona > itu saya liat, sejak SD saya trus menerus mendalami sejarah > Indonesia, hari-hari saya lebih banyak berkutat di perpustakaan LIPI > ketimbang saya berkutat di pelajaran sekolah, saya banyak menimba > dari buku-buku yang kemudian disebut antitesis dari terbentuknya Orde > Baru kemudian saya dampingkan dengan buku-buku biografi para begundal > Orde Baru yang pada saat itu 1980-an-1990-an bisa terbit dan dijual > bebas -ingat hanya buku-buku tokoh begundal Orba yang saat itu bisa > terbit, jadi kita dipaksa baca sejarah dari perjalanan satu sisinya > saja, bukan sejarah yang timbul karena proses dialektis- , saya baca > Pram, saya baca MIRI-nya Aidit, saya baca Madilog, saya baca Dibawah > Bendera Revolusinya Sukarno, Saya baca Tahta Untuk Rakyat Sri Sultan > terbitan pertama, Saya tekuni semua ruang alam pemikiran Gunawan > Muhammad sedetil-detilnya, Saya Baca 100 tokoh Michael H Hart > terjemahan Mahbub Djunaidi, Saya baca itu Catatan Harian Wahib, > Catatan Harian Gie, Semua edisi Prisma, Saya baca semua bukunya > Soedjatmoko, Saya baca catatan-catatan Hatta, Saya baca Deliar Noer > tentang Hatta dan biografinya sendiri yang meraksasa, Saya baca Marx > terbitan London pada saat saya SD-SMP tapi saya juga baca Otobiografi > Suharto Dwipayana, saya baca itu riwayat hidup Jenderal Mitro gendut > yang dengan santainya memerintah tembak mati Njoto,saya baca konsepsi > pembangunan 25 tahun Ali Moertopo, saya baca itu konsep-konsep > pembangunan Orde Baru lewat buku-buku yang sering bapak saya bawa > pulang dari perpustakaan kantornya, Saya baca sejarah yang > berparadoks dari kemal idris, saya baca semua volume buku AH > Nasution saya baca catatan-catatan intelektual-militer TB Simatupang > saya habiskan waktu berhari-hari untuk membaca ruang pemikiran banyak > pemikir-pemikir dunia dari santayana sampai Freire, dari Tolstoy > sampai Tagore, dalam kamar yang sepi dan membolos sekolah dan saya > banyak baca lagi buku2 yang sampai ribuan di lemari library saya, > kemudian saya paham sejarah adalah proses dialektis, ada ruang > pemaknaan disana, dari sanalah saya belajar dan memahami sampai detik > ini, bahwa ruang materialistis historis dalam kerangka Marx adalah > yang paling tepat dalam mengupas-ngupas apa yang ada dibalik jalannya > sejarah. Sampai saat ini saya masih berkeyakinan susunan ekonomilah > yang harus dijadikan babak pembuka untuk membongkar lalu menganatomi > bagaimana susunan masjarakat Indonesia justru melahirkan susunan > masjarakat yang menindas, memang kemudian banyak mengalir pemikiran- > pemikiran yang bahkan Baskara T Wardaya ( inilah kenapa saya salut > dengan sejarawan yang total pada bidang akademis bergelut mencari > kebenaran seperti Baskara Wardaya, Asvi W Adam, Kartono Kartodirdjo, > Ong Hok Ham, atau kawan dekat saya Bonnie Triyana yang sampai detik > ini masih solid dalam bentuk pencarian kebenaran atas kebenaran > sejarah, ketimbang sejarawan yang kemudian tergoda libidonya mencari > kekuasaan ketimbang total berbakti pada pencarian kebenaran atas > sejarah, namun menjual intelektualitasnya hanya untuk proses > berpolitik yang tidak memiliki daya getar ubah bangsa- karena dari > sejarawan-lah banyak dijadikan ilham bagi kaum yang mampu berpolitik > untuk bertindak) - Baskara Wardaya yang bagi saya, selama ini sungguh > tepat dalam mulai mengupas-ngupas dimensi yang paling krusial dalam > babakan sejarah Indonesia dimana dia memunculkan kesadaran sejarah > bahwa " Indonesia pada dasarnya didirikan dengan satu komitmen > mendirikan negara yang berpihak pada kerakyatan, berpihak pada > sosialisme, kemudian sejarah Indonesia malah terbentuk sebagai > sejarah yang berpihak pada modal asing dan mengasingkan rakyat > terhadap kesejahteraannya sendiri" INILAH AWAL DARI PANGKAL > KEGAGALAN KITA MELIHAT KESADARAN SEJARAH BAHWA MEMANG SEJAK 1966 > NEGARA INI SUDAH MENGALAMI PROSES KOLONIALISASI DALAM BENTUK PALING > BARUNYA, SEIRING JATUHNYA SUKARNO. DAN DETIK INI DI TAHUN 2008, > NEKOLIM BERLANGSUNG DALAM BENTUKNYA YANG PALING SEMPURNA DENGAN > SUSUNAN PEMEGANG ELITENYA ADALAH KAUM OLIGARKIS YANG BERKUMPUL BUKAN > LAGI MENCUKONGI KEKUASAAN, TAPI MASUK DALAM KEKUASAAN DAN MENDIKTE > BANGSA INI. MEMECAH BELAH SEGUMPALAN KAUM OLIGARKIS YANG MEMILIKI > KEKUASAAN DAN KAPITAL BERLIMPAH ADALAH TUGAS SEJARAH SATU-SATUNYA > KAUM PEMBAHARU MUDA AGAR JALANNYA SEJARAH INI KEMBALI PADA REL YANG > SEMULA YANG DIAMANATKAN PARA PENDIRI NEGERI INI, KEMAKMURAN BERSAMA, > SOSIALISME DALAM KEKAYAAN BERSAMA, TIDAK ADA ANAK YANG MENJERIT TIDAK > BISA SEKOLAH KARENA BIAYA, SEMENTARA NUN JAUH DISANA ADA ANAK YANG > BISA MENDAPATKAN HADIAH BERLIBUR KELUAR NEGERI HANYA KARENA NAIK > KELAS, TIDAK ADA ORANG YANG MENGANTRE MINYAK TANAH, SEMENTARA > BEBERAPA RATUS METER MOBIL MEWAH MENYEDOT PERTAMAX BERHARGA RATUSAN > LITER MINYAK TANAH, TIDAK ADA PERKAWINAN DENGAN BIAYA PULUHAN MILYAR > SEMENTARA ETIKA TANGGUNG JAWAB LAPINDO BELUM JELAS, KESEJAHTERAAN > BERSAMA ADALAH KESEJAHTERAAN YANG MEMBAHAGIAKAN, BUKAN KESEJAHTERAAN > YANG MENUMBUHKAN RASA CONGKAK. UNTUK ITULAH GARIS DEMARKASI HARUS > JELAS, TIDAK ADA LAGI DIKTUM YANG MENURUT ULIL 'SEMUA PARTAI BAIK' > ITULAH SALAH SATU BENTUK KOMPROMI YANG KONYOL, ITULAH SALAH SATU > BENTUK BAGAIMANA INTELEKTUALITAS MENJADI TIDAK TAJAM DALAM > MENGANALISA PERSOALAN......JELAS LANGKAH AWAL KITA MELIHAT PARTAI > BUKAN HANYA DARI DIMENSI KEKINIAN TAPI DARI KESELURUHAN DIMENSI, AKAR > SEJARAH ADALAH YANG PALING UTAMA UNTUK MEMAHAMI LATAR BELAKANG > INDIVIDU DAN ENTITAS BERTINDAK, KARENA AKAR SEJARAHLAH YANG MEMBUAT > ALAM BAWAH SADAR BAGAIMANA INDIVIDU DAN ENTITAS BEKERJA. > > Inilah kenapa saya tidak salut dengan kaum intelektual yang mau > bekerjasama dengan Golkar, tidak terkecuali guru saya Nurcholis > Madjid, satu buku yang benar-benar harus dijadikan pegangan untuk > menyadarkan kaum intelektual tidak tergoda dan berulang kali saya > referensikan pada kaum intelektualis adalah buku dari seorang > Intelektual dalam ukurannya yang Raksasa : Daniel Dhakidae tentang > Negara Orde Baru, Cendikiawan dan Kekuasaan. Baca dan Maknailah, > karena dari Membaca dan Memaknai, kita tidak akan tergoda untuk > mengembalikan roda sejarah mundur ke belakang, terjebak lagi ke dalam > alam keterbelakangan. > > Bagi saya Budiman Sudjatmiko adalah salah satu bintang terang yang > akan menjadi suar negeri ini, dan masih akan ada lagi bibit-bibit > unggul negeri ini, yang tidak atau memang belum muncul sekarang. Tapi > memulai untuk percaya pada Budiman, adalah memulai untuk percaya pada > bahwa REL SEJARAH INDONESIA AKAN DIKEMBALIKAN PADA ARAH YANG BENAR, > ARAH YANG DIIMPIKAN BAPAK/IBU PENDIRI BANGSA INI, YANG DIIMPI-IMPIKAN > DALAM DUKA DAN SENANG PARA PENDIRI BANGSA. NEGARA YANG MEMAKMURKAN > SEMUA ELEMEN BANGSA, NEGARA YANG MENSEJAHTERAKAN SEMUA RAKYAT, BUKAN > NEGARA YANG MEMBERIKAN KESEMPATAN PADA SEGELINTIR ORANG UNTUK > MEMBANGUN KEKAYAAN DAN KEKUASAAN DENGAN MENINDAS SEMUA ORANG YANG > TIDAK MEMILIKI AKSES KAPITAL. NEGARA YANG TIDAK MEMBERIKAN KESEMPATAN > MEMBANGUN KEKAYAAN DIATAS KECONGKAKAN KAUM OLIGARKIS, MAKA UNTUK ITU > KESADARAN BERSAMA DARI RAKYAT YANG DIBANGUN DENGAN KESADARAN KEKUATAN > RAKYAT BAHWA NEGARA INI MASIH DIJAJAH KAUM OLIGARKIS HARUS > DIHANCURKAN. > > MAKA GERAK SEJARAH YANG MENGHANCURKAN SISTEM KEKUASAAN YANG DIDIKTE > KAUM OLIGARKIS HARUS DIHANCURKAN TANPA ....TANPA.....TANPA > KOMPROMI!!!!!!!!!!! > > > ANTON > > > SALAH SATU ANGGOTA 'KOMUNITAS PERCAYA BUDIMAN'
