http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/08/25/02130749/ledakan.jumlah.penduduk.mencemaskan

Jakarta, Kompas - Program Keluarga Berencana untuk mengendalikan
kelahiran sekarang terabaikan seiring dengan otonomi daerah.
Akibatnya, Indonesia mengalami ledakan jumlah penduduk atau baby
booming yang diestimasikan 220 juta tahun ini menjadi 247,5 juta jiwa
pada tahun 2015 dan 273 juta jiwa pada tahun 2025.

Ledakan jumlah penduduk ini akan berdampak luas terhadap penyediaan
anggaran dan fasilitas kesehatan, pendidikan, serta ketersediaan
pangan. Ledakan jumlah penduduk ini pun akan berdampak terhadap
pemenuhan gizi bayi serta meningkatnya angka pengangguran.

”Jika penduduknya berkualitas, tidak menjadi masalah. Namun, jika
kualitasnya rendah, akan menjadi beban bagi negara dan masyarakat,”
kata Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)
Sugiri Syarief di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dari aspek kesehatan, misalnya, biaya imunisasi akan meningkat dari Rp
791,6 miliar pada tahun 2008 menjadi Rp 1,4 triliun pada tahun 2015.

Begitu pun untuk pangan, menghitung rata-rata konsumsi beras 139,15
kilogram per kapita setiap tahun, pada tahun 2025 ketika jumlah
penduduk Indonesia mencapai 273 juta jiwa, proyeksi kebutuhan beras
sebanyak 38,85 juta ton. Dengan kata lain, Indonesia memerlukan
tambahan produksi beras sekitar 5 juta ton atau naik 15 persen dari
total produksi beras sekarang yang mencapai 33 juta ton.

”Jelas, ini merupakan masalah serius bangsa,” kata Kepala Badan
Ketahanan Pangan Departemen Pertanian Achmad Suryana.

Dari segi pendidikan, anggaran operasional pendidikan dasar
diperkirakan akan melonjak dari Rp 100,3 triliun pada tahun 2008
menjadi Rp 187,4 triliun pada tahun 2015.

Penganggur mengancam

Kepala Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
Suahasil Nazara mengingatkan, ledakan jumlah penduduk akan berdampak
terhadap meningkatnya jumlah penganggur apabila tidak disertai dengan
pembukaan lapangan kerja. Padahal, saat ini sudah sekitar 10 juta
orang menganggur, sedangkan pertumbuhan ekonomi terjadi di
sektor-sektor yang tidak menyerap banyak tenaga kerja.

Tingginya angka pengangguran juga menyebabkan tingginya migrasi ke
sejumlah daerah yang secara ekonomis menjanjikan, seperti Provinsi
Riau dan Kalimantan Timur.

Di Provinsi Riau, umpamanya, dalam kurun 2000-2005, rata-rata
pertumbuhan penduduk mencapai 4,05 persen. Jika tahun 1990 penduduk
Riau hanya 2,7 juta jiwa, pada tahun 2000 menjadi 3,7 juta jiwa, dan
tahun 2008 mencapai 5,07 juta jiwa.

”Tidak dapat dimungkiri, faktor peluang ekonomi menjadi daya tarik
migrasi,” kata Kepala Bidang Status Sosial Badan Pusat Statistik Riau
Rufiansyah Putera.

Guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Ascobat
Gani mengingatkan, selain persoalan baby booming di tahun 2025,
ancaman kemiskinan dan gizi buruk, Indonesia akan menghadapi persoalan
penuaan (aging).

”Akan ada 20 juta orangtua yang membutuhkan layanan yang canggih dan
mahal yang berbasis rumah sakit, dan tidak mungkin ditangani di
puskesmas. Mereka juga perlu dokter spesialis karena menghadapi
penyakit degeneratif. Itu akan menarik anggaran, sementara kita juga
menghadapi baby booming,” kata Ascobat menjelaskan.

Komitmen memudar

Sugiri Syarief mengingatkan, baby booming tahap kedua bisa terjadi
jika program KB kurang mendapatkan dukungan. Di sisi lain, posisi,
struktur, dan kewenangan BKKBN berbeda dengan masa Orde Baru. Saat ini
persoalan kependudukan ditangani pemerintah daerah. Sayang, komitmen
sejumlah pemerintah daerah kurang serius menangani masalah kependudukan.

”Setelah Orde Baru, Badan KB hanya nempel saja di badan lain, seperti
urusan pemakaman, catatan sipil. Tidak ada kepedulian pemerintah
kabupaten atau kota,” kata Sugiri.

Itulah sebabnya, jumlah peserta program KB cenderung turun
dibandingkan dengan 10 tahun lalu. Begitu juga persentase peserta KB
baru dengan pasangan usia subur cenderung mengalami penurunan. Jika
tahun 1998 persentase peserta Keluarga Berencana baru mencapai 70,4
persen, tahun 2006 hanya 69,6 persen.

Atasi ledakan penduduk

Dengan adanya ancaman baby booming tahap kedua, Ascobat Gani
menyatakan, Indonesia harus serius mengatasi persoalan tersebut. Ia
memberi masukan, perlu revitalisasi program Keluarga Berencana untuk
mengatasi ledakan jumlah penduduk.

Jumlah Petugas Lapangan KB (PLKB) di zaman Orde Baru yang mencapai
35.000 orang, dan menyusut menjadi 19.000 orang tiga tahun lalu, kini
telah bertambah menjadi 21.000 orang. ”Tetapi angka ini masih kurang
sekali,” kata Ascobat.

Untuk mengatasi kekurangan itu, kader pos pelayanan terpadu (posyandu)
dan desa siaga dilatih untuk memerankan fungsi PLKB, terutama merekrut
akseptor KB baru. Juga mengintegrasikan suplai alat kontrasepsi yang
kurang. Strategi KB pun tak bisa digeneralisasi.

Struktur BKKBN di daerah kabupaten/kota juga harus jelas. Ada
Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat
Daerah.

Dari sisi ketahanan pangan, Achmad Suryana menegaskan, tidak ada
pilihan lain bagi bangsa Indonesia pada masa mendatang selain
melakukan diversifikasi pangan. Diversifikasi yang dilakukan bukan
mengalihkan sumber pangan ”superior”, seperti beras, ke sumber pangan
”inferior”, seperti ubi-ubian, tetapi bagaimana konsep diversifikasi
dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas pangan. Misalnya saja
dengan lebih banyak mengonsumsi makanan yang mengandung protein,
seperti daging, telur, dan ikan.(LOK/SAH/BRO/MAS/THY)

Kirim email ke