http://kompas.com/read/xml/2008/08/27/0820444/soal.elpiji.pemerintah.tidak.boleh.lepas.tangan


JAKARTA, RABU - Pemerintah diingatkan, program konversi elpiji
terancam gagal apabila disparitas atau senjang harga elpiji subsidi
dan nonsubsidi semakin lebar. Rakyat akan kembali memakai minyak tanah.

Ekonom Senior Indef Fadhil Hasan, Selasa (26/8), mengatakan walaupun
harga gas kapasitas 3 kilogram (kg) tidak naik, sebagian masyarakat
dipastikan akan beralih ke tabung gas 3 kilogram yang jauh lebih
murah. "Bisa juga beralih kembali ke minyak tanah. Dikhawatirkan,
harga gas 3 kilogram ikut-ikutan naik di tingkat konsumen. Rakyat
seakan ditipu dengan program konversi energi," ujar Fadhil.

Menurut Fadhil, semestinya harga gas elpiji kemasan 12 kg bisa ditahan
pada harga lama, jika pemerintah menyisihkan subsidi untuk penyediaan gas.

Hanya selang sebulan sejak naik Rp 1.000 per kilogram pada awal Juli
2008, PT Pertamina menaikkan harga elpiji kemasan 12 kg maupun 50 kg
mulai 25 Agustus. Kenaikan berkala akan terus dilakukan setiap bulan
sampai harga elpiji mencapai keekonomian. Perseroan mengklaim bahwa
selama ini terus merugi karena harga jual elpiji jauh di bawah harga
pasar. Potensi kerugian semakin besar dengan harga minyak yang semakin
tinggi. Tahun ini potensi kerugian diperkirakan mencapai Rp 6,5
triliun. Konsumsi elpiji kemasan 12 kg sekitar 800.000 ton setahun.

Selain menjual elpiji dalam kemasan 12 kg, 50 kg, maupun dalam bentuk
curah, yang menjadi bisnis murni korporat, Pertamina sejak tahun lalu
ditugasi untuk mendistribusikan elpiji bersubsidi. Elpiji bersubsidi
dijual dalam kemasan tiga kilogram untuk masyarakat berpendapatan
rendah yang selama ini menggunakan minyak tanah.

Program konversi minyak tanah ke elpiji merupakan upaya pemerintah
untuk mengurangi beban subsidi bahan bakar minyak. Meskipun sama-sama
disubsidi, kalori elpiji yang setara dengan 2-3 kali minyak tanah,
akan mengurangi biaya yang dikeluarkan pemerintah. Sebelum konversi,
kuota minyak tanah bersubsidi mencapai 10 juta kilo liter setahun.

Sesuai rencana, pemerintah menghapus subsidi minyak tanah pada 2009.
Sekitar 42 juta paket konversi elpiji akan didistribusikan untuk
mengganti minyak tanah. Minyak tanah kemudian akan dijual dengan harga
pasar.

Fokus 3 kilogram

Sementara itu, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan
Anggito Abimanyu menegaskan, pemerintah hanya memfokuskan perhatian
pada penyaluran subsidi untuk gas berkapasitas 3 kilogram, sebab untuk
gas dengan kapasitas 12 kg sudah merupakan kewenangan Pertamina untuk
mengamankan pasokan dan harganya. Subsisi harga gas tabung tiga
kilogram sudah dialokasikan dalam APBN, sedangkan subsidi untuk gas
tabung 12 kg dimasukan dalam perhitungan Pertamina. "APBN, hanya
menopang gas-gas di level bawah saja," ujar Anggito.

Direktur Lembaga Kajian Reformasi Pertambangan dan Energi Pri Agung
Rakhmanto menilai pemerintah melakukan kebijakan "pembiaran" dan tidak
menjalankan kewenangannya sebagai regulator. "Pertamina dibiarkan
berkelahi dengan masyarakat, PLN dibiarkan berkelahi dengan pengelola
mal dan hotel. Pemerintah lepas tangan. Padahal, seharusnya di sinilah
fungsi pemerintah sebagai regulator. Program konversi ini kan
kebijakan pemerintah," paparnya.

Pemerintah telah memutuskan bahwa hanya elpiji 3 kilogram yang
disubsidi, tetapi tata niaganya tidak jelas. Mekanisme pendistribusian
elpiji yang disubsidi terbuka sehingga siapa saja bisa membeli.

Tidak khawatir

Sementara, pihak Pertamina menyatakan tidak khawatir kalau masyarakat
menyerbu elpiji 3 kilogram. Sebab, volume pengisian elpiji 3 kilogram
masih sangat rendah, hanya sekitar 20-30 persen. "Jadi bukan rumah
tangganya yang salah sasaran, tapi volume minyak tanah yang selama ini
menjadi acuan kita yang ternyata terlalu besar," ujar Direktur Niaga
dan Pemasaran PT Pertamina Achmad Faisal.

Menurut Faisal, pengisian yang rendah itu mengindikasikan bahwa selama
ini minyak tanah bersubsidi banyak yang diselewengkan. Ia mencontohkan
di Provinsi DKI Jakarta yang pelaksanaan konversinya sudah selesai
sejak tiga bulan lalu, rata-rata konsumsi elpiji hanya 800 ton per
hari. Sementara, jumlah minyak tanah yang sebelumnya dikonsumsi
mencapai 3.200 kiloliter per hari.

"Kalau dari rasionya, seharusnya konsumsi elpiji yang menggantikan
minyak tanah minimal 1.200 ton per hari. Jadi selama ini siapa yang
memperdagangkan minyak tanah yang jumlahnya sebesar itu?" tanya Faisal.

Indikasi masyarakat yang kembali ke minyak tanah terlihat di Samarinda
dan Pontianak. Hal ini terjadi karena dipicu selain kenaikan harga
elpiji 12 kg, juga sulitnya mendapatkan bahan bakar tersebut. Kalaupun
ada, pengecer di Samarinda menjualnya mencapai Rp 100.000 per tabung.
Harga normalnya Rp 69.000 per tabung.

"Penjualan minyak tanah langsung naik dua kali lipat," kata Murzani
Masdi, pemilik Toko Harapan yang menjual elpiji, minyak tanah, dan
minyak pelumas. Toko ini menjual 2.000 liter (10 drum) minyak tanah
tiap hari sejak Senin atau pemberlakuan harga baru elpiji. Sebelumnya
minyak tanah yang terjual 1.000 liter tiap hari.

Harga jual itu jauh di atas harga jual di Pulau Jawa, di mana gas
elpiji 12 kg Rp 69.000. Sementara untuk kemasan 50 kilogram, harganya
Rp 362.750. Pantauan harga gas elpiji di tingkat penjual pengecer di
Kalbar untuk kemasan 12 kg berkisar Rp 96.000-Rp 100.000. Sebelum ada
kenaikan, harga jualnya sekitar Rp 90.000.

Subsidi pengangkutan

Menyikapi persoalan ini, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat telah
mengajukan permohonan kepada pemerintah pusat untuk memberikan subsidi
pengangkutan gas elpiji dari kilang ke Kalbar. Dengan adanya subsidi
itu, diharapkan harga jual elpiji di Kalbar tidak jauh berbeda dengan
di Pulau Jawa. "Permohonan subsidi (pengangkutan elpiji) sudah
diajukan Gubernur," kata Wakil Gubernur Kalbar Christiandy Sanjaya.

Di Sukabumi, dua hari terakhir ini warga makin sulit mendapatkan
minyak tanah. Pasalnya, pangkalan minyak tanah langsung diserbu
pembeli begitu pasokan minyak tanah dari depo datang ke pangkalan.
Setelah harga elpiji dua kali naik dalam waktu dua bulan ini, semakin
banyak pemakainya yang beralih ke minyak tanah.

Ny Umi (50), warga Jalan Oto Iskandardinata, Sukabumi mengatakan,
sudah mencari minyak tanah hingga ke tiga pangkalan berbeda. Namun,
tak ada satupun yang memiliki persediaan. Kondisi itu juga dialami
banyak warga di Kota Sukabumi padahal kebijakan konversi energi belum
juga dilaksanakan di Kota Sukabumi.

Kenaikan harga gas elpiji menyebabkan para konsumen semakin terjepit.
Di Palembang, Sumatera Selatan para konsumen harus melakukan berbagai
cara untuk menghemat pemakaian gas elpiji. Indra (38) warga Jalan
Demang Lebar Daun yang memiliki usaha warung ayam goreng terpaksa
mengurangi ukuran ayam goreng yang dijualnya. Hal itu karena Indra
membutuhkan dua tabung gas elpiji 12 kg setiap bulannya.

"Saya harus pintar mencari cara supaya pembeli tidak lari. Saya tidak
mungkin menaikkan harga makanan. Ukuran ayam goreng terpaksa
dikecilkan yang penting tetap terasa ayam," kata Indra.
(DOT/OSA/OIN/WHY/BRO/MDN/ENG/WAD/AHA)


Sumber : Kompas Cetak

Kirim email ke