Oleh Korano Nicolash LMS http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/08/28/01320971/pertamina.terus.coba.bangun.citra
Pertamina tak sanggup lagi merugi Rp 6,5 triliun per tahun dari bisnis elpiji, begitu judul salah satu media cetak ibu kota yang terbit Senin (25/8). Itu sebabnya beban masyarakat sudah pasti semakin berat karena badan usaha milik negara yang mengurus minyak dan gas bumi negeri ini, PT Pertamina (Persero), resmi menaikkan harga elpiji, khususnya untuk tabung ukuran 12 kilogram dan 50 kilogram. Untuk tabung 12 kilogram kenaikannya mencapai 9,5 persen. Kalau saat ini harga tiap kilogram elpiji tabung 12 kg mencapai Rp 5.250, setelah pengumuman harganya mencapai Rp 5.750. Dengan demikian, harga per tabungnya naik dari Rp 63.000 menjadi Rp 69.000. Sementara untuk yang 50 kg kenaikannya 5 persen karena diskonnya dikurangi dari 15 persen menjadi 10 persen saja. Dengan begitu, dari harga per kilogramnya yang hanya Rp 6.878 menjadi Rp 7.255. Atau untuk tabung 50 kg akan mencapai Rp 362.750 dari harga sebelumnya yang Rp 343.900. Pertamina harus mengambil langkah tersebut lantaran tak kuat menanggung rugi, dengan alasan harga kemasan elpiji 12 kg dan 50 kg masih jauh dari harga keekonomian yang seharusnya Rp 11.400 per kg. Tentu kita juga sedih ketika mendengar kabar bahwa setiap bulan Pertamina akan menaikkan harga elpiji untuk tabung 12 kg sebesar Rp 500 per kg serta akan terus mengurangi diskon untuk tabung 50 kg. "Nanti harga elpiji di Indonesia akan sesuai dengan harga gas dunia. Tidak ada lagi subsidi kecuali untuk elpiji ukuran 3 kg," kata juru bicara Pertamina, Wisnuntoro, Minggu (24/8). Pengeluaran lain Kebijakan menaikkan harga gas dengan alasan secara perlahan mencabut subsidi, seperti apa yang dilakukan pada jenis bahan bakar minyak (BBM) lainnya, menimbulkan pertanyaan besar. Kenapa Pertamina bisa merugi hingga triliunan rupiah, sementara masih ada pengeluaran lain yang bisa dikatakan sebenarnya tidak perlu. Contoh paling mudah, pengeluaran yang katanya untuk bantuan sekaligus menjadi sponsor pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional XVII 2008 Kalimantan Timur yang baru usai pertengahan Juli lalu yang jumlahnya mencapai Rp 12,5 miliar. Masing-masing Rp 3 miliar untuk Paket Kemitraan Emas yang sebagian besar untuk promosi. Baik promosi itu berupa iklan di televisi, media cetak, maupun sarana promosi lainnya. Sisanya yang mencapai Rp 9,5 miliar, katanya, untuk perbaikan padang golf Pertamina Sepinggan Country Club di Balikpapan, lapangan Gelora Patra, lapangan sepak takraw, serta fasilitas cabang drum band di Bontang. Hal tersebut juga di sampaikan Wisnuntoro akhir Juni lalu. Kala itu Wisnuntoro antara lain di dampingi Miranty Abidin, Presiden Direktur Fortune PR, perusahaan yang akan mempromosikan kegiatan akbar olahraga nasional tersebut. Akan tetapi, menjelang hari H pelaksanaan cabang golf, diketahui bahwa uang yang dikucurkan hingga Rp 9,5 miliar itu sama sekali tidak memberikan dampak pada kelancaran pelaksanaan PON XVII 2008 Kaltim karena dua hal. Pertama, masalah perbaikan atau renovasi Pertamina Sepinggan Country Club, Balikpapan, yang dibuktikan oleh suara alam. Ketika hujan mengguyur Kota Balikpapan, perbaikan padang golf tersebut sepertinya tidak pernah terjadi. Suara alam itu memperlihatkan dengan jelas bahwa Pertamina Sepinggan Country Club laksana kubangan. Hal tersebut dipertegas Ketua Panitia Pelaksana PON XVII Kaltim untuk cabang golf, Firman Halab. Menurut Firman, yang memang tinggal di Balikpapan, tidak pernah ada pekerjaan perbaikan yang dilakukan terhadap Pertamina Sepinggan Country Club. Itu sebabnya, ketika hujan kembali turun pada beberapa hari kemudian setelah pertandingan PON XVII 2008 berlangsung, jadwal pertandingan harus diundur untuk menunggu surutnya air yang menggenang di sejumlah fair way padang golf milik Pertamina itu. Masalah kedua, yakni kabar yang menyatakan belum dibayarkan biaya penyewaan lapangan Pertamina Sepinggan Country Club, yang sehari mencapai Rp 90 juta, sesuai dengan surat dari manajemen Pertamina Sepinggan Country Club kepada PB PON, 24 Juni lalu. Ditambah karena alasan restoran di club house Pertamina Sepinggan Country Club tidak bakal memperoleh pemasukan selama pelaksanaan PON XVII Kaltim, manajemen Pertamina Sepinggan Country Club juga meminta PB PON membayar Rp 8 juta per hari. Dengan demikian, total dana yang harus dibayarkan hampir mencapai Rp 100 juta per hari. Sementara penghubung Pengurus Besar Persatuan Golf Indonesia (PB PGI) sebelumnya sudah meminta agar manajemen Pertamina Sepinggang Country Club untuk menutup padang golf mereka mulai 30 Juni hingga 17 Juli. Itu artinya, PB PON XVII 2008 Kaltim harus membayar dana sekitar Rp 1,62 miliar di luar kompensasi restoran. Fakta perlu diperjelas Dari kedua hal di atas tadi terlihat seperti ada beberapa fakta yang masih harus dijelaskan pihak Pertamina. Seperti apakah dari Rp 9,5 miliar dana bantuan yang disalurkan Pertamina itu hanya untuk perbaikan semata. Atau sudah termasuk untuk biaya penutupan padang golf Pertamina Sepinggan Country Club selama 18 hari, yang bisa mencapai Rp 1,62 miliar. Itu baru pengeluaran untuk PON. Padahal, masih banyak lagi pengeluaran lain Pertamina sebagai sponsor pelaksanaan beberapa kegiatan olahraga lainnya, misalnya berbagai kegiatan otomotif seperti A1, sepak bola dengan Piala Kemerdekaan yang kini masih berlangsung, bahkan juga di cabang golf profesional, yakni Pertamina Indonesia President Invitational 28 sampai 31 Agustus ini di Pantai Indah Kapuk Course, Damai Indah Golf, Jakarta Utara. Sayangnya, hingga saat ini belum ada satu cabang olahraga pun yang disponsori Pertamina di mana atlet Indonesia berprestasi internasional. Khusus untuk turnamen golf profesional Pertamina Indonesia President Invitational sudah memasuki tahun kedua, di mana tahun pertama Pertamina menjadi sponsor utamanya. Tentu dengan melihat total hadiah yang mencapai 400.000 dollar AS, sekitar Rp 3,6 miliar dengan hitungan kurs 1 dollar AS sama dengan Rp 9.000, kita sudah bisa memperkirakan berapa besar dana yang dikeluarkan Pertamina untuk menjadi sponsor utama turnamen tersebut sekalipun Wisnuntoro dalam jumpa pers sebelum pelaksanaan turnamen tersebut tidak mau membeberkan jumlah yang dikeluarkan Pertamina. Itu belum termasuk tahun lalu, yang total hadiahnya 350.000 dollar AS atau sekitar Rp 3,15 miliar. Jelas dengan pengeluaran Pertamina yang mencapai miliaran pada bidang yang jelas-jelas bukan menjadi bisnis utama BUMN migas ini, tentu hal itu menjadi ganjil bila pada sisi wajah lainnya Pertamina berteriak mengalami kerugian miliaran pula. Sementara masih banyak keluhan masyarakat tentang pelayanan dari bisnis utamanya. Tak usah masalah harga BBM dan elpiji yang bakal terus dinaikkan, masalah literasi di SPBU pun Pertamina masih belum dapat menertibkan sesuai ukuran sebenarnya serta sesuai dengan semboyan "PAS"-nya Pertamina. Bangun citra Wisnuntoro yang dihubungi secara khusus pada Rabu (27/8) siang menegaskan bahwa dengan menjadi sponsor event internasional, Pertamina tengah ikut membangun pencitraan, baik untuk Pertamina maupun untuk bangsa ini. "Kalau dibilang rugi, memang rugi untuk elpijinya. Tetapi secara keseluruhan tahun 2007, Pertamina memperoleh keuntungan mencapai Rp 24,5 triliun. Jadi, kalau elpijinya tidak merugi, mungkin keuntungan Pertamina bisa lebih dari Rp 30 triliun," katanya. Kalau begitu, mungkin Pertamina tak perlu back to basic. Jadi, terus memperbaiki kinerja pelayanan BBM dan gas, tetapi juga terus membantu membangun citra bangsa agar menjadi nomor satu lagi di Asia Tenggara, sedikitnya. Dengan catatan, semua laporan untung rugi tetap disampaikan secara terbuka kepada masyarakat. Dengan demikian, kita juga tahu bahwa kesulitan membeli BBM atau elpiji bukan untuk membantu memperkaya sejumlah orang, melainkan memang karena Pertamina tengah menjadikan masyarakat pengguna BBM dan gas mandiri tetapi keuangannya sehat 100 persen.
