Machiavelli sekalipun kalau hidup saat ini akan terkagum-kagum melihat 
pengembangan teorinya oleh politisi Indonesia yang mungkin tidak pernah dia 
bayangkan. Salah satu seni berpolitik di Indonesia adalah pegang memegang 
kartu. Sebuah kartu bisa menjadi mahal jika dibuka pada saat yang tepat.
 
Belum lama ini Jusuf Kalla menuduh Megawati melakukan kontrak LNG dengan China 
yang katanya merupakan terburuk yang pernah dilakukan dalam hal minerba 
(berarti lebih buruk dari kontrak karya Freeport made in Ginandjar). Megawati 
langsung bereaksi dengan mengatakan bahwa kontrak itu dibuat kolektif oleh 
Pemerintah RI dimana Jusuf Kalla dan SBY juga termasuk di dalamnya. Mestinya 
Megawati juga bilang Amien Rais turut bertanggungjawab karena pada saat itu 
beliau adalah Ketua MPR yang "sukses" memakzulkan Om Gus Dur dan mengangkat 
Tante Mega.
 
Terlepas dari motif politiknya (karena yang dituding dan menuding keduanya 
Ketum Partai Besar), saya memiliki beberapa pertanyaan bodoh khas orang awam 
kepada para ahli migas yang ada di milis ini (apakah Pak Kurtubi ada disini?) :
 
1. Apakah kontrak jangka panjang 25 tahun adalah kelaziman dalam industri 
migas? Karena menurut logika orang awam seperti saya, kalau saya memiliki atau 
memproduksi suatu barang yang harganya cenderung naik, lebih baik saya jual 
jangka pendek saja karena begitu kontrak berakhir, saya dapat melakukan kontrak 
baru dengan harga yang lebih tinggi. Jadi mengapa dijual futures LNG kita itu? 
Kenapa tidak jual spot saja???
2. Bagaimana cara menemukan suatu angka yang fixed untuk jangka waktu 25 
tahun atas sebuah komoditas yang setiap hari ber-volatility ?
3. Mengapa pricing tidak dilakukan dengan melakukan benchmarking terhadap 
komoditas lain yang sifatnya komplementer atau substitusi....Misalnya, harga 
kontrak 3 bulan ke depan adalah rata-rata harga crude oil di NYMEX tiga bulan 
terakhir??? Sehingga yang menjadi kontrak tetap adalah volume gas yang dikirim 
sementara harganya sesuai current market price...
 
Meskipun saya bukan fansnya Om JK (kepikiran milih partainya saja tidak ada 
sama sekali), tetapi kerugian 10 Milyar $ per tahun yang beliau sebutkan sangat 
dapat saya pahami....Kenapa ya bikin kontrak kok seperti itu????

Kenapa ya orang-orang pintar seperti para petinggi negeri ini bisa-bisanya 
melakukan kesalahan yang sangat fatal seperti itu???? Sebagai rakyat yang 
powerless saya hanya bisa menghela nafas dan mengurut dada..........Kasihan 
daripada rakyat.......Kasihan deh saya....Kasihan deh anak cucu saya......
 
 
 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke