Biarkan Anjing Menggonggong!
 
Oleh: Gadis Arivia
 
“Dalam matanya dan dalam kata-katanya, aku melihat masa depanku”.
 
Demikian ucap seorang penggemar Hillary Clinton sambil terisak, usai Hillary 
berpidato di Konvensi Partai Demokrat di Denver, Colorado pada tanggal 26 
Agustus 2008.  Debra, seorang perempuan keturunan Afrika Amerika, masih belum 
bisa melepas mimpinya melihat seorang perempuan seperti Hillary yang menurutnya 
sangat berpengalaman dan kompeten menjadi presiden Amerika Serikat.  Sambil 
menyeka air mata, ia menuturkan bahwa hingga hari ini, ia masih belum 
menentukan pilihannya, apakah memilih Obama seperti yang dianjurkan Hillary 
atau membelot dan memilih McCain karena kekesalannya.  
 
Tampaknya kekesalan perempuan Amerika tengah memuncak karena perlakuan bias 
gender yang menimpa Hillary.  Mereka menganggap media berlaku seksis dan partai 
mereka telah membiarkan seksisme berkembang di masyarakat.  Padahal partai 
mereka sangat tegas pada perlakuan rasis, hal ini dirasakan tidak adil.  Belum 
lagi mereka menganggap hasil keputusan partai untuk tidak memasukkan hasil 
pemilihan negara bagian Florida dan Michigan telah merugikan Hillary.
 
Kini Hillary dituntut untuk memberikan pidato yang dapat menenangkan 
pendukungnya agar Partai Demokrat terselamatkan.  Maka, ia menyerukan kepada 
pendukungnya untuk bersatu dan memilih Barack Obama sebagai presiden.  Pidato 
Hillary memang penting dan diharapkan dapat membujuk 18 juta pemilihnya. 
Apalagi, hasil polling akhir-akhir ini memperlihatkan John McCain mulai 
mengungguli Obama.  Serangan McCain atas kurangnya pengalaman kepemimpinan 
Obama karena memiliki curriculum vitae yang tipis agaknya mulai menyakinkan 
publik Amerika.  
 
Malam Konvensi Partai Demokrat sangat gemerlap.  Hillary hadir dengan senyum 
cerah dan baju warna oranye yang terang (ciri khas perempuan Partai Demokrat).  
Ribuan pendukungnya histeris melihat Hillary di atas podium, lambaian plakat 
Hillary mendominasi di segala penjuru ruangan.  Hillary tidak membuang waktu, 
dengan suara tegas, ia menyerukan saatnya pendukungnya bersatu memilih Barack 
Obama.  Ia mengatakan:
 
”Saya tidak menghabiskan waktu selama 35 tahun ini, bekerja keras untuk 
advokasi kepentingan anak, mengkampanyekan biaya kesehatan yang murah, membantu 
orang tua menyeimbangkan waktu antara pekerjaan dan keluarga, memperjuangkan 
hak-hak perempuan di dalam negeri dan di seluruh dunia, hanya untuk melihat 
pada akhirnya seorang dari partai Republik lagi yang akan menduduki Gedung 
Putih, menumpas janji dan harapan rakyat kita.  Dan anda bekerja keras selama 
18 bulan ini bukan untuk melihat kegagalan kepemimpinan negara kita lagi.  No 
way. No how. No McCain!  Barack Obama adalah kandidat saya dan dia harus 
menjadi presiden kita!”
 
Kata-kata yang menyihir dari Hillary seakan meruntuhkan gedung tempat konvensi 
diadakan, ribuan orang mendapatkan amunisi slogan kata-kata yang akan 
mengalahkan McCain.  Selanjutnya, Hillary mengajak kaum Demokrat untuk 
memikirkan apa yang penting untuk kehidupan mereka dan mengapa Partai Demokrat 
harus menang.  Ia bercerita dengan berapi-api, orang-orang yang ia jumpai 
selama berkampanye; ada ibu yang memiliki dua anak autis sementara si ibu 
terkena sakit kanker dan tidak memiliki biaya rumah sakit, ada tentara yang 
khawatir dengan nasib teman-temannya yang masih di medan perang, ada seorang 
anak kecil yang sedih karena ibunya di PHK dan bingung bagaimana keluarganya 
akan bertahan.  Hillary mengatakan bahwa cerita sehari-hari rakyat Amerika, 
membuatnya semakin percaya mengapa harus ada perubahan dan mengapa Amerika 
harus bekerja keras.  Ia menegaskan pula bahwa:
 
”Saya bekerja keras untuk bisa membuat janji baru bagi Amerika.  Membangun 
kelas menengah yang kuat agar pekerjaan mereka menghasilkan, bisa mengirim 
anak-anaknya kuliah, membeli makanan yang layak, memiliki uang pensiun yang 
memadai, mempromosikan energi ramah lingkungan untuk menciptakan lapangan 
ekonomi , menciptakan sistim kesehatan yang universal, mewujudkan sistim 
pendidikan berkelas dunia...”  
 
Suara Hillary yang menggema membuat para hadirin berdiri dan bertepuk tangan 
riuh.  Hillary tidak berhenti dan terus membombardir pendengarnya dengan 
kata-kata tajam:
 
”Kita di sini berjuang untuk Amerika, dari hak-hak sipil hingga hak-hak 
pekerja, dari hak-hak perempuan hingga hak-hak kaum gay, dari mengakhiri 
diskriminasi hingga mendorong dan membantu setiap keluarga, membantu setiap 
anak dapat mewujudkan potensi mereka, membuat Amerika sebagai bangsa imigran 
yang taat pada hukum dan kembali menegakkan martabat Amerika di mata dunia 
dengan mengakhiri perang di Irak, membawa tentara kita pulang serta memberikan 
pelayanan memadai bagi para pejuang kita...inilah antara lain mengapa saya mau 
menjadi kandidat presiden dan mengapa sekarang saya mendukung Barack Obama dan 
anda pun juga harus mendukungnya!” 
 
Selain Hillary menyanjung Obama sebagai kandidat terbaik, ia juga menyanjung 
Michelle Obama sebagai perempuan yang cerdas dan dari pidato Michelle malam 
sebelumnya, ia yakin bahwa Michelle akan menjadi ibu negara yang hebat.  
Amerika memiliki perempuan-perempuan yang hebat dan semua itu karena kerja 
keras Amerika yang kini telah berusia 232 tahun.  Tak lupa Hillary mengingatkan 
bahwa semua hasil kemajuan perempuan terjadi karena 88 tahun yang lalu, pada 
tanggal 26 Agustus, amendemen ke-19 menjamin perempuan hak-hak politiknya untuk 
dapat memilih.
 
”Ibu saya lahir ketika perempuan Amerika dilarang memilih, tapi sekarang anak 
saya dapat memilih ibunya sendiri untuk menjadi kandidat presiden.”
 
Tentunya ucapan tersebut membuat hadirin perempuan memekik dengan gembira dan 
mereka menari-nari kesenangan dengan ucapan-ucapan Hillary yang sangat memihak 
pada perempuan.  Tak pernah di dalam sebuah konvensi partai, perempuan begitu 
mendapatkan tempat yang terhormat.  
 
”You never gave in.  You never gave up.  And together we made history…To my 
supporters, my champions-my sisterhood of the traveling pantsuits-from the 
bottom of my heart: Thank you.”
 
Sebuah kata manis untuk para pemilih perempuan yang berjumlah separuh lebih, 
tepatnya 52% anggota Partai Demokrat adalah perempuan.  Hillary menyakinkan 
mereka bahwa ia mengerti apa makna perjuangan perempuan dan apa yang 
dikhawatirkan para pendukungnya. Ia merasakan sendiri ketidakadilan.  Ia tahu 
begitu banyak perempuan merasa putus asa bahwa ketidakadilan gender terus 
terjadi.  Tapi ia mengingatkan bahwa Amerika bukan negara yang mudah menyerah.  
Bahwa kebebasan sangat mahal harganya dan sulit untuk didapatkan.  Ia 
mengingatkan cerita Harriet Tubman, seorang budak perempuan kulit hitam yang 
berjuang selama 10 tahun membebaskan budak-budak dengan cara menyelundupkan 
mereka di bawah tanah rel kereta api.
 
Hillary menceritakan bahwa Harriet Tubman tak pernah menyerah, ia terus 
berusaha dan berusaha sepenuh hati.  Dan ketika Harriet menempuh jalan buntu ia 
tidak berhenti.  Harriet selalu memberikan nasehat:
 
”Kalau kau mendengar anjing menggonggong, tetaplah jalan terus.  
Kalau kau melihat api di hutan, tetaplah jalan terus.
Kalau mereka meneriaki kau, tetaplah jalan terus.
Jangan pernah berhenti.  Tetaplah jalan terus.
Bila kau ingin mencicipi kebebasan, tetaplah jalan terus.
Pada saat-saat yang gelap sekalipun kita tetap jalan terus”.
 
Hillary meminta untuk selalu ingat akan pengorbanan yang telah dilakukan oleh 
orang-orang terdahulu yang telah berjuang keras untuk mereka.  Orang-orang ini 
menurutnya telah memberikan sebuah harapan dan posibilitas baru.  Pemilihan 
umum yang akan dilakukan dalam waktu dekat tentunya bukan sebuah permainan tapi 
merupakan hal yang serius dan harus dilakukan dengan rasa tanggung jawab yang 
besar karena menyangkut hidup banyak orang.  Hillary berpesan dan mengharap:
 
”Kita tidak bisa membuang-buang waktu apalagi mesia-siakan pilihan, karena ini 
semua menyangkut kehidupan anak-anak kita”.
 
Pesan yang amat bijaksana dari seorang kandidat presiden perempuan, karena 
bagaimanapun Hillary paham bahwa sebagai perempuan, nilai politik tidak 
terletak di kekuasaan semata tapi pada taruhan masa depan anak-anak mereka.  Ia 
memiliki pengalaman pribadi tentang ini, Chelsea anak perempuannya yang berumur 
25 tahun telah begitu setia mendampinginya dalam setiap kampanye.  Peranan 
Chelsea sama sekali bukan untuk kepentingan politik, ia tidak berminat masuk 
partai politik meskipun kedua orang tuanya adalah politikus beken.  Chelsea 
berada di samping ibunya karena kecintaannya yang dalam pada ibunya. Bukan 
hanya itu, pada malam konvensi ia memperkenalkan ibunya di hadapan para 
hadirin, sebagai pahlawannya.  ”My hero, my mother, senator Hillary Rodham 
Clinton.”  Kalimat seperti itu sudah cukup menyentuh hati ibu siapapun.  
 
Oleh sebab itu, setiap politikus perempuan sangat paham bahwa perjuangan 
politiknya adalah demi masa depan anak-anaknya, dan ujian apapun yang dihadapi, 
mereka menyikapi dengan; biarkan anjing menggonggong, tetaplah jalan terus!


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

=====================================================
Pojok Milis Forum Pembaca KOMPAS :

1.Milis FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS
2.Topik bahasan disarankan bersumber dari KOMPAS dan KOMPAS On-Line (KCM)
3.Moderator berhak mengedit/menolak E-mail sebelum diteruskan ke anggota
4.Moderator E-mail: [EMAIL PROTECTED] [EMAIL PROTECTED]
5.Untuk bergabung: [EMAIL PROTECTED]

KOMPAS LINTAS GENERASI
=====================================================
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke