Oleh Hermawan Kartajaya 

http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/08/30/00155066/the.world.is.still.round.the.market.is.already.flat


ZAMAN dulu orang sempat bingung, bumi ini sebenarnya bulat atau datar.

Para ilmuwan seperti Nicolaus Copernicus dan Galileo Galilei pun
melakukan penelitian mengamati pergerakan bintang-bintang di langit.
Mereka akhirnya berpendapat bahwa bumi ini berputar mengelilingi
matahari; bertentangan dengan keyakinan saat itu bahwa
bintang-bintanglah, termasuk matahari, yang mengelilingi bumi sebagai
pusat alam semesta. Karena bumi yang berputar mengelilingi matahari,
maka pastilah bumi itu berbentuk bulat.

Selain kalangan ilmuwan, para pelaut malah sudah lama yakin bahwa bumi
ini bulat. Karena itu, mereka tidak takut lagi berlayar jauh. Mereka
tidak takut akan jatuh ke jurang yang dalam ketika telah mencapai
"ujung dunia".

Christopher Columbus salah satunya. Pelaut Italia ini berani
mengarungi Samudra Atlantik dan akhirnya pada tahun 1492 menemukan apa
yang disebut sebagai Dunia Baru (New World). Columbus menganggap bahwa
Dunia Baru yang ditemukannya itu merupakan dataran paling timur dari
Benua Asia. Karena itulah ia menyebut penduduk aslinya sebagai Indian
karena dikiranya mereka berasal dari India.

Setelah Columbus, sejumlah pelaut lainnya juga menjelajahi Dunia Baru
ini. Salah satunya adalah Amerigo Vespucci. Vespucci-lah orang pertama
yang menyatakan bahwa Dunia Baru tersebut bukanlah bagian dari Benua
Asia, tapi merupakan benua baru. Berkat jasa Amerigo Vespucci inilah,
benua baru ini kemudian diberi nama Amerika.

Buat saya, Christopher Columbus is a great sailor, but Amerigo
Vespucci is a great marketer!

Bagaimana tidak. Walaupun Amerigo Vespucci bukan si penemu, tapi
justru namanyalah yang diabadikan. Ini mengingatkan saya pada
pernyataan Al Ries dan Jack Trout, penulis buku legendaris
Positioning: The Battle for Your Mind. Mereka berdua mengatakan bahwa
yang penting bukan siapa yang pertama kali menemukan, tapi siapa yang
berani pertama kali mengklaimnya.

Hal ini juga terjadi pada zaman modern ini. Tahu-tahu ada orang yang
namanya Thomas L Friedman kembali mengklaim bahwa dunia ini datar, The
World is Flat.

Friedman, yang kolumnis tetap surat kabar The New York Times dan gemar
berkeliling dunia, ngomong panjang lebar bahwa dunia yang datar ini
berkat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang
membuat semua orang punya kesempatan sama, asal punya akses ke
internet tentunya.

Semua itu ditulisnya dalam buku The World is Flat. Buku ini memang
fenomenal karena akhirnya dikutip orang di mana-mana. Hebat, bukan?

Namun sebenarnya, sebelum Friedman, ada orang Jepang yang namanya
Kenichi Ohmae menulis buku The Invinsible Continent.

Di situ, Ohmae yang sering disebut Mr Strategist—merujuk pada buku
legendarisnya The Mind of the Strategist—berpendapat bahwa internet
itu walaupun sesuatu yang maya, tapi seperti kisah penemuan Benua
Amerika dulu.

Jika dulu Columbus menemukan emas di Amerika, sekarang banyak orang
jadi kaya dan bahkan sangat kaya karena bisa menemukan "emas baru" di
internet.

Buat saya, Kenichi Ohmae is a Great Strategist, but Thomas Friedman is
a Great Marketer!

Walaupun Ohmae sudah lebih dulu punya pemikiran serupa, tapi
Friedmanlah yang memopulerkannya.

Yang menarik, dunia TIK saat ini sedang heboh dengan apa yang disebut
sebagai Web 2.0. Inilah generasi berikutnya dari internet yang dulunya
cuma bisa memberikan informasi. Saat ini internet sudah bersifat
interaktif. Era Web 2.0 ini membuat internet tidak lagi bersifat
vertikal semata, tapi sudah bersifat horisontal.

Bukan cuma bersifat One-to-Many atau One-to-One, tapi sudah bersifat
Many-to-Many. Karena itulah, pasar menjadi datar. Artinya, tidak ada
perbedaan status antara Marketer dan Customer. Marketer dan Customer
sama rata. Marketer sudah berbaur dengan Customer-nya.

Dengan demikian, hanya marketing yang bersifat horisontal yang akan
efektif.

Meminjam kata yang populer dipakai di bidang TIK, I Nyoman G
Wiryanata, Direktur Konsumer PT Telkom Indonesia, bilang ke saya bahwa
Era Legacy telah bergeser menjadi Era New Wave.

Karena itulah saya lantas terinspirasi untuk mengembangkan New Wave
Marketing sebagai jawaban dari tantangan baru yang bersifat horisontal
itu.

Selama seratus hari berturut-turut, mulai hari ini sampai dengan 11
Desember 2008 saat penyelenggaraan The MarkPlus Conference 2009 di
Pacific Place, Jakarta, saya akan menulis esai yang merupakan kumpulan
pemikiran komprehensif tentang hal tersebut.
Dengan mengikuti seratus tulisan tersebut, yang selain di KOMPAS.com
ini, juga bisa Anda baca versi ringkasnya di koran Kompas (cetak),
saya ingin mengajak Anda menjadi Marketer seperti Amerigo Vespucci
yang berada di zamannya Thomas Friedman. Saya ingin mengajak Anda
untuk menjadi Marketer yang mampu menemukan "emas-emas baru".

Selamat datang di Era New Wave Marketing!

Percayalah pada saya. Dunia masih tetap bulat kok. Hanya pasarnya yang
jadi datar!

 

Kirim email ke