notes:
Orang harus survive.. jangan salahkan rakyat jika kembali mengandalkan arang 
kayu atau kayu bakar. Pemerintah sendiri yang plin-plan, tidak jelas maunya, 
dan tidak prorakyat... tadinya mendukung kompor batubara sebagai alternatif 
minyak tanah, terus ganti ke elpiji, dan sebagainya, entah apa lagi nanti,  
tapi yang jelas nggak meringankan beban rakyat.....

http://www.antara. co.id/arc/ 2008/7/20/ warga-gunakan- arang-kayu- pengganti- 
minyak-tanah- dan-elpiji/

20/07/08 19:58
Warga Gunakan Arang Kayu Pengganti Minyak Tanah Dan Elpiji

Pangkalpinang (ANTARA News)- Sebagian warga Pangkalpinang, Provinsi
Bangka Belitung (Babel), terpaksa beralih ke arang kayu untuk
keperluan memasak sehari-hari, karena sulit mendapatkan minyak tanah
dan gas elpiji.

"Saya membeli arang kayu di pasar Rp3.000/kg dan tahan untuk masak
seminggu.Harus bagaimana lagi, karena elpiji langka dan minyak tanah
susah, harganya pun mahal," ujar Jumiati,ibu rumah tangga di
Pangkalpinang, Minggu.

Memang,kata dia, agak susah menggunakan arang kayu ketimbang gas dan
minyak tanah. Sebab, harus menyediakan dapur khusus untuk memasak
pakai arang kayu di belakang rumah untuk menghindari kebakaran dan
kepulan asap yang masuk ke ruangan tamu.

"Sudah dua bulan ini saya menggunakan arang kayu dan ternyata biayanya
lebih hemat ketimbang gas dan elpiji.Hanya Rp3.000/kg tahan untuk
seminggu, sementara minyak tanah Rp4.500 hingga Rp5.000 per liter dan
gas elpiji mencapai harga Rp125.000/ukuran tabung 12 kg,"ujarnya.

Romidah,juga melakukan hal serupa,sejak harga minyak tanah dan elpiji
mahal dan langka, ia terpaksa menggunakan arang kayu yang lebih mudah
mendapatkannya di pasar, harganya pun lebih murah.

"Mendapatkan arang kayu di pasar sangat mudah,banyak yang jual. Berapa
pun yang saya inginkan, bisa didapati.Bahkan tidak hanya arang kayu,
arang batok kelapa juga banyak di pasar dan bisa juga digunakan untuk
memasak,"ujarnya.

Namun ia memilih arang kayu untuk memasak. Kalau arang batok kelapa,
kata dia, biasanya banyak diminati para pedagang bakso dan sate.

"Dulu,saya memasak pakai minyak tanah atau gas elpiji.Namun belakangan
ini beralih ke arang kayu karena kesulitan mendapatkan gas dan minyak
tanah,"ujarnya.

Persediaan gas dan minyak tanah, kata dia, praktis menghilang di
pasaran dan sudah terjadi dalam beberapa bulan ini.Bahkan dalam dua
minggu terakhir, kelangkaan gas dan minyak tanah semakin parah.

"Gas elpiji paling susah mendapatkan dibanding minyak tanah. Kalau
minyak tanah, masih bisa dibeli sama warga yang mendapat jatah minyak
tanah subsidi dari kelurahan, saya tidak punya kupon minyak tanah,"
ujarnya.

Sementara itu, Ayub, penjual arang kayu di pasar tradisional
Pangkalpinang, mengatakan, daya beli warga terhadap arang kayu sangat
tinggi.

"Saya baru empat bulan ini menjual arang kayu dan ternyata penjualan
saya lumayan banyak bisa mencapai 50 hingga 75 kg per hari dan stok
arang kayu saya 150 kg per hari,"katanya.

Arang kayu tersebut, kata dia, dipesan dari penduduk di desa-desa yang
ada di daerah itu dan diantar langsung ke warung miliknya.

"Kalau proses membuat arang kayu ini, saya tidak tahu karena saya
hanya menjual saja yang diantar langsung oleh warga ke warung
saya,"ujarnya sembari mengatakan arang kayu dijual seharga Rp3.000/kg
dan naik dari harga sebulan lalu Rp2.500/kg.( *)

COPYRIGHT © 2008


 



Satrio Arismunandar 
Executive Producer
News Division, Trans TV, Lantai 3
Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 
Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4023,  Fax: 79184558, 79184627
 
http://satrioarismunandar6.blogspot.com
http://satrioarismunandar.multiply.com  
 
"Perjuangan seorang mukmin sejati tidak akan berhenti, kecuali kedua telapak 
kakinya telah menginjak pintu surga." (Imam Ahmad bin Hanbal)



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke