Oleh Hermawan Kartajaya 

http://kompas.com/read/xml/2008/09/05/00555998/three.stages.of.marketing.pseudo.legacy.and.new.wave



BAGI saya, Asia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya, telah dan
sedang mengalami tiga era marketing.

Era yang pertama terjadi sebelum tahun 1998. Saya menyebutnya sebagai
era Pseudo Marketing.

Pada era ini, orang sudah belajar marketing, tapi tidak banyak yang
menerapkan dengan benar.

Kenapa? Ya karena lebih enak ber-"KKN ria".

Lihat saja, berapa banyak konglomerat, bukan cuma di Indonesia, tapi
juga di Malaysia, Thailand, Filipina dan bahkan Korea, yang masuk ke
bisnis apapun. Mereka bisa berkembang dengan pesat terutama karena
"dekat" dengan pemerintahan saat itu.

Kompetensi tidak terlalu diperlukan, yang penting koneksi. Apalagi
saat itu masih banyak monopoli dalam berbagai sektor bisnis.

Setelah krisis Asia, banyak perusahaan jadi sadar bahwa kalau mau
survive mereka harus bisa lebih kompetitif.

Buku-buku marketing mulai dibuka kembali. Konsep-konsep yang ada dalam
buku-buku tersebut mulai diterapkan.

Sejumlah konglomerat juga melakukan refocusing supaya bisa lebih
konsentrasi menjalankan bisnisnya.

Analisis pasar dilakukan, dan persaingan mulai berlangsung secara fair.

Era setelah 1998 sampai sekarang inilah yang saya sebut sebagai era
Legacy Marketing.

Setelah tahun 2008, sepuluh tahun setelah krisis Asia, saya mengatakan
sekarang inilah dimulainya era New Wave Marketing.

Di Indonesia, era New Wave Marketing ini sudah bisa terlihat
tanda-tandanya secara jelas.

Di zaman Pak Harto dulu, semuanya sangat vertikal. Mulai dari
politiknya, di mana Golkar menang terus dan presidennya Pak Harto
terus. Peraturan-peraturan diputuskan oleh Pemerintah Pusat dan
berlaku untuk seluruh Indonesia.

Ekonominya juga sangat terpusat dan vertikal karena semuanya diatur
dari Jakarta. Daerah-daerah cuma bisa mengajukan usulan untuk kemudian
menunggu pembagian rezeki dari Pusat (baca: Jakarta).

Begitu juga aspek sosial-budaya. Semua orang ramai-ramai belajar
bahasa Jawa, yang dianggap merupakan bahasa nasional kedua tidak resmi.

Grup lawak Srimulat juga jadi terkenal karena guyonan-guyonan khas
Jawanya.

Banyak orang yang sebenarnya tidak mengerti bahasa Jawa terpaksa
belajar bahasa Jawa agar bisa diterima di lingkungan pergaulan maupun
di kantornya.

Market pun sangat terpusat. Karena itu, strategi perang pemasaran pun
terpusat di Jakarta. Semuanya dibuat oleh Kantor Pusat di Jakarta.

Persis seperti struktur pemerintah, maka organisasi perusahaan juga
begitu. Kepala wilayah atau kepala cabang tinggal jadi pelaksana belaka.

Inilah ciri-ciri pasar yang Vertikal.

Lantas, bagaimana sekarang?

Masih banyak perusahaan atau organisasi yang tidak menyadari bahwa
pasar telah jadi Horisontal.

Banyak yang belum mendesentralisasikan organisasi pemasarannya.

Padahal, mulai dari aspek Political-Legal, Economy, sampai ke
Social-Culture, semua daerah di Indonesia sudah beda-beda akibat
otonomi daerah.

Dalam bidang politik misalnya, koalisi partai di satu daerah dan
daerah lain bisa sangat berbeda.

Bahkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang punya konstituen orang
Islam dan Partai Damai Sejahtera (PDS) yang punya konstituen orang
Kristen pun bisa berkoalisi untuk pemilihan kepala daerah di Papua.

Apalagi ekonominya.

Sekarang, orang di luar Jawa bisa lebih kaya daripada orang di Jawa
justru ketika terjadi inflasi secara nasional. Hal ini karena sumber
daya alam yang menghasilkan komoditas ekspor ada di luar pulau Jawa semua.

Begitu juga dengan aspek sosial-budaya.

Tiap-tiap daerah sekarang sangat bangga dengan budaya masing-masing.

Karena itu, sebuah perusahaan sekarang membutuhkan strategi perang
pemasaran market by market.

Kemenangan Anda akan ditentukan oleh jumlah secara agregat dari
kemenangan perang di daerah. Anda tidak bisa lagi hanya membuat satu
strategi untuk semua.

Tentu, Anda harus mempunyai sebuah Umbrella Strategy. Tapi, setelah
itu tiap-tiap Field Marketer di daerah harus menerjemahkannya menjadi
strategi daerah masing-masing.

Di era pasar yang Horisontal ini, Kepala Cabang bukan lagi Middle
Manager yang hanya jadi pelaksana. Tapi, Kepala Cabang harus jadi
Mini-General Manager yang membuat keputusan strategis.

Pertanggungjawaban vertikal ke atas (Kantor Pusat) harus dicapai lewat
aplikasi strategi ke samping secara horisontal (pasar). Kepala Cabang
harus punya kreativitas dan bisa melakukan penyesuaian-penyesuaian
sesuai dengan kondisi pasar yang dihadapinya. Tentu saja harus tetap
dalam koridor-koridor Umbrella Strategy yang telah ditetapkan.

Bukankah customer memang harus dilayani secara Horisontal?

Karena mereka memang gak peduli. Di manapun mereka berada, mereka
menuntut layanan yang sama dari brand yang sama. Kalau ada perbedaan
layanan, customer akan bingung dan bukan tidak mungkin akan
meninggalkan Anda.

Kirim email ke