Dulu waktu kecil saya suka baca buku Michael H. Hart dan salah satu
tokoh yang paling saya suka adalah Jain, yang katanya suka bertapa
telanjang bulat macam pengelana spiritual bergaja India.

Saya pikir Jain tidak Atheis, konsepsi Tuhan di setiap kejakinan
berbeda, Seorang Atheis adalah orang yang tidak mempercajai adanja
kekuatan diluar benda yang dia liat, sementara Agama Jain adalah
agama yang paham bagaimana jiwa bisa membentuk kekuatan itu melalui
proses meditasi dan kebajikan-kebajikan sosial, ini artinja Jain
meyakini adanya kekuatan spiritual yang bisa membentuk jiwa. Jadi
Jain tidak bisa dikatakan Atheis.

Anton


--- In [email protected], Agus Sugeng
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Semakin lama atau semakin tua dunia ini mau tidak mau masyarakat
dunia harus semakin toleran dengan perkembangan "peragamaan" di dunia
ini. Saya pun sepakat dengan Pak Bambang yang menulis bahwa sangat
tidak setuju dengan perbuatan oang-orang yang berlindung pada "agama"
di KTP nya. Atau bahkan yang paling parah lagi (menurut saya) adalah
memaksakan kehendak kita bahwa agama kita adalah yang paling benar
kepada orang lain. Gagasan mengenai agama sangat luas adanya,
sehingga bukan merupakan pekerjaan yang mudah untuk menemukan
definisi yang memadai. Persamaan apa yang terdapat pada Shamanisme,
Budha, Hindu Taoisme, Islam, Nasrani dll. Kelirukah kita (atau saya?)
jika memakai satu terminologi saja yakni "agama" untuk "jenis-jenis "
agama tersebut ? Jadi kita gak akan perang dengan kotak kotak agama
itu.
> Kalau dihubungkan kembali dengan tulisan bung Ulil, saya juga
sependapat bahwa tidak 100% orang yang beragama (atau berTuhan?) akan
menjadi baik. Seperti kita ketahui bersama bahwa ada beerapa agama
yang tidak memiliki Tuhan, contohnya adalah Jainisme yang ateistis
dan Budha yang merupakan "etika hidup tanpa Tuhan dan fahan ateis
tanpa jagat raya". Toh masyarakatnya baik-baik saja, bahkan melebihi
kebaikan dari orang-orang yang mengaku berTuhan.
>
>
> Salam damai
> Agus

Kirim email ke