Rekan-Rekan FPK,

Akhirnya kita sudah mencapai titik terang mengenai antipati terhadap
SPEKULASI. Rupanya adanya suatu misleading mengenai spekulasi
terhadap crude oil karena komoditas ini sangat dibutuhkan oleh
masyarakat umum.

Misleading ini disebabkan oleh cara pandang yang sudah berlaku selama
bertahun-tahun bahwa minyak itu murah dan harus murah untuk
selamanya. Sama juga cara pandang bangsa Eropa jaman dulu bahwa dunia
itu rata dan bila kita berlayar ke ujung dunia maka kita akan jatuh
ke jurang. Demikian juga saat pandangan Geosentris (matahari memutari
bumi) masih menjadi pandangan umum, sedangkan HeliosSentris (bumi
memutari matahari) adalah pandangan sesat.

Artinya ada anggapan Peak Oil itu adalah suatu pandangan sesat dari
agen spekulan ternama dunia yang menyengsarakan umat manusia. Dan
nampaknya kita memerlukan waktu untuk mengakui bahwa Peak Oil itu
nyata senyata bahwa yang ditemukan Christopher Columber sebenarnya
benua Amerika, bukan India. Telah ratusan tahun pula orang meyakini
Geosentris sebelum akhirnya mengakui Heliosentris.

George Soros pun menuding Peak Oil adalah suatu misleading concept
karena menurut George Soros mahalnya harga minyak dunia secara
ekonomis akan memungkinkan untuk pengembangan sumber energi
alternatif.

Saya sependapat dengan George Soros dalam hal pengembangan sumber
energi alternatif. Tapi saya tidak sependapat bahwa sumber energi
alternatif itu cukup dalam menunjang PERTUMBUHAN EKONOMI. Berbeda
dengan bahan bakar fosil yang praktis hanya perlu ditambang, energi
alternatif lain membutuhkan energi lain untuk menghasilkan energi
tersebut. Artinya NET ENERGY-nya kecil. Jadi masalahnya tidak semudah
yang dikatakan George Soros.

Ada satu kutipan yang mungkin mencerminkan apa konsekuensinya kalau
kita memandah remeh Peak Oil atau bahkan menganggapnya isapan jempol:

The economists are telling us we have nothing to worry about. Oil may
get a bit more expensive, but there will always be plenty of liquid
fuel to keep us going�to keep the planes flying, the tractors
plowing, and the SUVs ferrying kids to soccer practice. If these
people are wrong (and I strongly believe they are), they are not just
"misleading" us conceptually; they are guiding us straight over a
cliff.

Ulasan lengkapnya bisa dilihat di:
http://postcarbon.org/peak_oil_misleading_concept

1)Era Geosentris usai, datanglah era Heliosentris
2)Pandangan bahwa Christopher Columbus menemukan India melalui jalur
alternatif, diubah oleh Amerigo Vespucci menjadi BENUA AMERIKA.
3)Pandangan bahwa Peak Oil adalah bualan Goldman Sachs dan
menyengsarakan rakyat banyak akan berubah menjadi:
Peak Oil itu nyata, para spekulan telah menghasilkan likuiditas bagi
para produsen minyak dan investor energi alternatif untuk menyediakan
energi yang cukup bagi pertumbuhan ekonomi dunia.

Tentunya harga energi yang harus dibayar tidaklah sama dengan jaman
dulu. Kalau kita ingin menenangkan masyarakat bahwa semuanya baik-
baik saja dan membebankan semua kesalahan kepada spekulan sebagai
KAMBING HITAM, justru itulah yang akan menggiring masyarakat ke tepi
jurang.

Best Regards,
Rudyanto
Mari Hemat BBM, Ayo Nebeng!
Leave oil before oil leaves us

--- In [email protected],
"cpatriawgmail" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> ada dua macam spekulasi, pertama adalah spekulasi untuk counter-
> posisi, ini bagus dan menghasilkan likuiditas. Mister John long
saham
> XYZ sementara Mister Johannes short XYZ pada saat yang sama.
Mungkin
> tercipta stabilisasi harga. Market mungkin "correct".
>
> Jadi spekulasi mana yang berbahaya ? Spekulasi yang berbahaya
adalah
> spekulasi  untuk mengkontrol barang atau materi yang sangat
dibutuhkan
> oleh masyrakat umum. Seperti misalnya crude oil,  emas , LPG , obat
> batuk, obat kanker dlsb.
>
> Laporan dari hedge fund sendiri juga mengatakan bahwa "jika terjadi
> massive  spekulasi yg dilakukan terhadap komoditas yang sangat
> dibutuhka  masyrakat , akan timbul gejolak sosial dan efek negatif
> lainya ".
> Persislah dengan krisis minyak itu. Dan inilah yang dari dulu,
memang
> jadi serangan kaum sosialis dan bahkan tengah-kiri terhadap free
> market theory.
>
> Spekulasi di AS itu panjang ceritanya, dari spekulasi saham persh
> dotcom di awal 2000, yang diuntungkan jelas pegawai persh hitech
dan
> early investors. At the end ini menghasilkan krisis (unnecessarily)
 ,
> hancurnya duit average investor dan banyaknya persh (tech dan
> finansial) yang tutup. Krisis ini selesai setelah state
intervention
> lagi, banyak peraturan2 finansial baru terutama dalam accounting
persh
> seperti Sabarnes-Oaxley.  Masyrakat umum (di Indonesia) terkena
> getahnya nggak ? umumnya tidak, karena tidak banyak masyrakat
> indonesia yg bisa investasi di persh dotcom. Jadi spekulasi dotcom
ini
> gak separah spekulasi minyak karena bukan "HAJAT hidup orang
banyak".
>
> Krisis spekulasi selanjutnya adalah spekulasi harga emas dan rumah
di
> AS. Harga rumah di AS pada beberapa daerah bisa naik 2-4 kali lipat
> dalam tempo 3-4 tahun saja ? penyebabnya bermacam2, dari rendahnya
> interest rate di jaman greenspan , financial innovationya para
> investment bank untuk membuat "CDO" , sebuah inovasi financial
> 'hutang' dimana investment bank yang hakekatnya bukan bank tapi
> bertindak seperti bank ( jadi dia bisa meminjamkan duit kepada
retail
> tapi dalam waktu yang sama tidak terikat peraturan tradisional
> perbankan di AS) , sampai spekulator perumahan  yang ada di tiap
state
> di AS.  Spekulator perumahan (BROKER)  di AS pada masa jaya jayanya
> selalu
> mengatakan "they build no more land" ... what a foolish statement
saya
> pikir. Masyrakat umum (di Indonesia) terkena getahnya nggak ?
secara
> direct ya tidak tetapi secara tidak langsung sangat terkena
getahnya.
>
>
> Sekarang ada lagi nich spekulasi baru "Krisis OIL" namanya,
> hehehe..krisis ini katanya sich...dipicu dari teorinya "Peak Oil"
> seorang finansial analysti di goldman sachs. Lalu semua orang heboh
> dan tiba2 harga minyak dunia naik dimana2. Efek bagusnya cuman
satu:
> orang jadi punya kesadaran untuk menghemat BBM. Meskipun sangat
jelas,
> harga minyak dunia naik karena pensiun fund di AS mengalokasikan
> investasinya kepada komoditas ( ngikutin om jim rogers sebagai
"self-
> fullfiling prophecy" ). Masyrakat umum (di Indonesia) terkena
getahnya
> nggak ? secara langsung ya terkena getahnya karena BBM adalah
FINITE
> RESOURCES yang merupakan HAJAT hidup orang banyak.
>
>
> hal ini sebenarnya merupakan perdebatan berabad-abad antara kaum
kiri,
> tengah dan kanan.
>
> Terus, tugas negara (state) apa dong ? ya melindungi warga
negaranya
> yang lemah. Makanya bung hatta bilang hajat hidup orang banyak itu
> harus dikuasai negara. Harus itu hukumnya wajib...bukan sunnah lagi
> :) biar kalau harga-harga dimainkan spekulan lokal atau global,
rakyat
> kecil tidak terkena ekses negatifnya.
>
>
>
> wassalam ,
>
>
>
> carlos

Kirim email ke