Terima kasih Bung Seto buat infonya. Dua orang Islamis kacau ini makin keliatan ngawurnya. Yang lucu adalah sebetulnya pernyataan Mahendradatta dan Egy Sudjana ini saling bertolak belakang satu sama lain. Mahendra mengklaim bahwa RI adalah negara Islam karena UUD 1945 (yang memuat istilah "Allah", Pancasila, dan ketuhanan YME), sementara justru Egy tak mengakui Pancasila (artinya juga tak mengakui UUD 1945). Mestinya dua pecundang ini diadu saja di ring tinju. manneke
--- On Sun, 9/21/08, thseto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: thseto <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Re: Hentikan Polarisasi Nasionalisme-Agama To: [email protected] Received: Sunday, September 21, 2008, 8:06 PM mahndradatta bilang bahwa di preambule UUD45 kemerdekaan itu atas bekat rahmat allah (lihat pada menit ke 6 video ini): http://jp.youtube. com/watch? v=1yxQwYmOKQg sementara yg lebih detail mengatakan bahwa dasar negara bukan pancasila tetapi allah dan berarti hukumnya adalah alquran dan hadist adalah egi sujana di: http://jp.youtube. com/watch? v=xXxBVH- LdQs&feature= related --- In Forum-Pembaca- [EMAIL PROTECTED] ps.com, manneke budiman <hepaesthos@ ...> wrote: > > Jika betul, ini kian memamerkan kegoblokan kaum Islamis mediocre macam Mahendradatta itu. MUngkin ada perubahan strategi: kalau pakai basis sejarah khalifat dirasa kurang meyakinkan, maka basisnya sengaja dipaksakan dan dicari-cari dari UUD. Berhubung di UUD ada istilah "Allah", maka itu dipakai sebagai pintu masuk legitimasi negara Islam. > > Beberapa waktu lalu juga pernah ada upaya dari sejumlah tokoh Islamis untuk melarang umat agama selain Islam memakai istilah "Allah" untuk menyebut Tuhan, dengan dalih Allah itu hanya Tuhannya umat Islam. Tentu saja kalau di Indonesia ini cuma jadi bahan ketawaan, sementara di negeri jiran amalh ini jadi kukum negara. > > manneke
