Salam, 

Eksploitasi oleh kerakusan akan profit hanya mungkin terjadi dalam 
ketiadaan aturan-rambu-batasan; negara kehilangan daya untuk 
melindungi warganya dari ancaman ---termasuk ancaman nikotin. Hal 
yang mirip sudah sering dan baru saja terjadi dengan dunia keuangan; 
kerakusan di tengah minimnya/tiadanya rambu-batasan menghasilkan 
eksternalitas yang menyengsarakan banyak orang. Ketika aktor negara 
sudah takluk, stakeholder lain ---kekuatan-kekuatan masyarakat sipil--
- semakin sulit mengoptimalkan upaya. Saya ingat tulisan Pak KM di 
(maaf, bkn Kompas) SP akhir Maret lalu; Negara Yang Lemah (?), 
juga 'Anak-anak Merokoklah' dari Kak Seto di satu momen Hari Anak 
Nasional .

Pengalaman Indonesia sangat ironis karena ---konon--- Indonesia 
termasuk negara yang delegasinya getol merumuskan dokumen FCTC; namun 
Indonesia juga negara yang bandel dalam proses ratifikasi FCTC 
(lihat : http://www.fctc.org/index.php?
option=com_content&view=article&id=19&Itemid=17). 

Sekadar cerita, bahkan ibu-ibu dusun di Gunungkidul dengan tegas 
mengatakan belanja rokok adalah belanja yang meningkatkan kerentanan 
(ya kerentanan keluarga, kerentanan masyarakat, dan juga pasti 
kerentanan negara-bangsa).
Perlu semakin banyak sosok 'Wigan' yang keukeuh memegang prinsip...
Pinjam kalimat dari teman-teman INFID, 'tidak ada pencapaian MDGs 
tanpa kebijakan pengendalian rokok' (hehehe, bukankah ada temuan 70% 
perokok Indonesia berasal dari kelompok warga miskin? Terus banyak 
pengalaman bapak-bapak yang mengeluhkan biaya pendidikan anak tapi 
tidak sayang membelanjakan duit untuk beli rokok bahkan ketika anak 
mengalami kurang gizi?).

Hirup udara lebih segar-sehat tanpa asap rokok...
Wiji




Kirim email ke