Saya sependapat dengan Opung (?), tapi untuk ke situ perlu proses
panjang. Menjadi "terhormat" sebagai sebuah nilai memerlukan proses
yang salah satunya melalui milis FPK ini. 
Apa yang dilakukan oleh rekan-rekan yang posting soal RUU-P adalah
keterpaksaan belaka. Bangsa terjajah yang "tiba-tiba" merdeka tentu
mencari kesepakatan nilai. Ternyata cara/bahasa rekan-rekan ini kurang
berkenan di hati para penjunjung nilai-ketimuran. Saya sangat mengerti
betapa manneke telah kehabisan kesabarannya untuk mengajak bicara
substansi, namun ternyata "bobot" tidak bersambut malah selalu
dihadapi dengan bahasa "pokoknya". 
Lihat Obama dalam debat kedua lebih santai daripada debat pertama. Dia
telah melewati proses itu dengan sangat cepat, tidak sampai satu bulan
sudah menjadi lebih simpatik. Kalau "kita" mungkin membutuhkan waktu
lebih dari 63 tahun. 
Saya katakan di atas, kita merdeka tiba-tiba. Memang demikian, meski
dalam sejarah dikatakan bahwa kemerdekaan itu melalui riwayat yang
sangat panjang, tetapi pelakunya adalah para pemimpin yang sudah
dewasa berpikirnya. Seperti juga Obama yang anak menteng itu, nilai-
nilai indonesia sangat menonjol dibawakannya. Dia serahkan keputusan
kepada sang rakyat pemilih tanpa ngotot. Tidak seperti kita yang suka
menang-menangan dan merasa yang paling benar sendiri.  
salam, robama. 
--- In [email protected], "R. H. Uno"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
> BERDEBAT DENGAN TERHORMAT
> 
> 
> 
> Kita ini sedang giat2nya membangun masyarakat yang pada akhirnya bisa
> dijajarkan dengan bangsa2 lain yang tertib dan bermartabat.
> 
> 
> 
> Semua itu bermula dengan bahasa yang kita pakai dalam berkomunikasi. Ada
> pepatah kita yang sudah diajarkan sejak di Sekolah Dasar, yaitu : BAHASA
> MENUNJUKKAN BANGSA....
> 
> 
> 
> Tentang isu pro/kontra RUU-P, kita bisa diskusikan dengan tertib dimilis
> ini. Walaupun milis FPK ini adalah mimbar bebas merdeka, dalam
berbahasa ada
> kaidah2 yang harus bersama kita patuhi. Kita tidak usah menunjuk hidung
> siapa yang menggunakan bahasa yang pantas maupun tidak pantas. Semuanya
> terlihat dengan jelas. 
> 
> 
> 
> Memang ada tendensi menarik perhatian dengan cara berlebihan, misalnya
> berbahasa diluar tatakrama, suatu upaya kompensasi psikologis bagi
mereka2
> yang merasa ada kekurangan pada dirinya. Apalagi kalau mereka tidak
> terjangkau oleh suatu sangsi.
> 
> 
> 
> Mari kita upayakan milis ini menjadi suatu forum yang berdebat secara
> dewasa, bertatakrama,menghindari debat kusir, sehingga menjadi semakin
> terhormat.
> 
> 
> 
> Salam&sorrry, Opung
>


Kirim email ke