Orang yang memberikan penjelasan panjang lebar tanpa ditanya itu namanya dosen. Orang yang memberikan penjelasan seadanya dan kalau bisa mengalihkan topik dari materi yang ditanyakan itu baru namanya politikus.
Wartawan itu perpanjangan mata-telinga rakyat. Wartawan punya akses untuk menjangkau apa-apa yang tidak terjangkau orang awam. Kalau kemampuan wartawan politik Indonesia cuma sebatas kemampuan wartawan gosip yang pertanyaannya seputar "jadi caleg ganggu kuliah apa ngga?", jangan heran kalo banyak caleg di Indonesia terpilih cuma karena bermodal tampang, uang, keturunan. -caroline --- In [email protected], "Harya Setyaka" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Mbak Caroline, > > Jaawaban si CaLeg itu menjadi parameter kecerdasannya dan kesiapannya dalam > berpolitik... > > NarSum nya adalah caleg.. yg bobot &kualitas-nya dapat dinilai dari jawaban > dan ucapan-2 nya.... > > si CaLeg (NarSum) harusnya cukup cerdas, piawai dan berpengalaman dalam > menghadapi wawancara... > Harusnya sudah lihai mengidentifikasi pertanyaan-2 yg 'kurang cerdas' dan > tahu bagaimana menyikapinya... > > kalau si CaLeg memang merasa perlu merinci jawabannya, mengapa tidak > dilakukan saja... koq malah meladeni pertanyaan wartawan? > kalau memang berbobot dan berkualitas, tentu tidak akan terbawa arus si > wartawan.. (baik o'on maupun cerdas) > > wartawan o'on sih masih bisa dimaafkan.. CaLeg o'on... oh noo.. > > > salam, > -K- >
