saya pahamnya hibrida masih sbg pesilangan utk mengumpulkan sifat yg 
baik dr  berbagi sifat yg ada tapi maish dlm rumpun yg sama

kalao GM sudha memindahkan gen dari mana aja.. , nggak pelru dr serumpun

dari bakteri ke padi juga bisa.

Jadi GM mestinya lebih menjanjikan.. walau hrs di kaji dulu resikonya 
sevara lebih teliti


tentu bibit hiobrida  atau lainnya dgn teknilk pemuliaan ya harus di 
uji dan dipasarkan

tapi sy pikr teknologi yg lebih canggih perlu terus di kembangkan

di Amrik , mrk sdh sampai menghasilkan sapi utk pedaging dan utk susu 
melalui proses kloning.

dan ini sudah lolos  uji FDA


Soal degradasi [petugas penyuluh lapangan.. , ini kan yg sedang di 
koreksi .., degradasi itu terjadi krn otonomi daerah  menyebabkabn 
tugas itu lari ke pemda. , dan pemda gak suka dpt kerjaan maunya 
dapat pendapatan daerah tambahan.

akibatnya pertanian terpuruk.

eksrensifikasi ok.. intensifikasi harus

secara global. kata teori malthus ..ornag akan betrambah secara deret 
ukut.. kalao produksi pertanian ?? kalau mengandalkan hany apada 
penambahan lahan akan bertambah sesuai deret ukur

Puji Tuhan, Alhamdullilah ada teknologi yg bisa melipat gandakan hasil

sehingga ramalan malthus bhw akan terjadi kesimbangan krn beda jumlah 
orang dgn jumlahmakanan melalui pengurangan juml;ah ornag tidak pelru terjadi

Teknologi bisa bikin , produk yg tadinya hanya sekali panen setahun 
bisa jadi dua kali

teknologi bis abikin yg tadinya hasilnya 4 ton perha jadi 8 ton

teknologi bisa bikin    adanya bibit baru yg bisa  ditanam di lahan 
yg tadinya gak bisa di tanami krn kurang air .. atau kurang panas.

Teknologi biosa haislkan sapi dgn kloning


HS


At 10:02 AM 10/10/2008, you wrote:
>Justru itu mas HS kenapa ini bisa terjadi, karena iklan yang gencar hasil
>yang dijanjikan dari GMO itu lebih tinggi dari varietas lokal (150%).
>Istilah Hibridisasi lebih melekat untuk varietas GMO di tingkat petani.
>Mengenai produk GMO untuk konsumsi langsung baik untuk jangka pendek untuk
>mengatasi kekurangan supply, tetapi di jangka panjang perlu dijaga dengan
>jaring pengaman berupa cinta varietas lokal.
>
>Untuk GMO non-makanan di Indonesia mungkin perlu uji multi-lokasi dulu,
>tetapi impact kepada lingkungan mungkin banyak pakarnya (terputusnya rantai
>makanan prey-predator). Pertanyaannya apakah metode konvensional saat ini
>tidak mampu menandingi mutasi atau transgenik.
>
>Bukan saya menggurui LIPI dan deptan , tetapi dari ratusan varietas berbagai
>tanaman yang di lepas tidak membumi dimasyarakat karena penemunya hanya
>tertarik dengan gelar profesor riset. Bagian ini perlu di koreksi (antara
>breeder ---- penangkar benih ------ petani). Toh buktinya supertoy bisa
>berkembang dengan cepat walau sedikit menipu, bagaimana nasib
>varietas-varietas yang tersimpan hanya sebagai plasma nuftah.
>
>Sayang kan hasil penelitian yang dananya besar dari inventor --- tidak
>meluruh ke implementor bahkan investor.
>
>Mengenai produktivitas dan efisiensi saya rasa petani sudah sangat paham
>tentang ini (tapi ingat mekanisasi pertanian hanya layak untuk lahan yang
>sangat luas). Jadi untuk lahan-lahan kecil perlu ada reformasi koperasi yang
>lebih berpihak kepada sharing anggota. Saya juga agak heran dengan mulai
>terjadi degradasi peranan Petugas Penyuluh Pertanian dan Peternakan yang ada
>di daerah-daerah dan ada yang sudah mulai dihapus dibeberapa daerah, justru
>ini telah ditiru oleh Malaysia di in-situ project mereka di beberapa wilayah
>dengan aktivitas yang mirip dengan panca usaha tani..
>
>Kenapa saya masih menekankan lahan (ekstensifikasi) karena inilah yang
>paling murah biayanya dibandingkan intensifikasi dan perlakuan khusus
>terhadap lahan. Bisa sajakan sentra pertanian di kalimantan.
>
>Gitu aja dulu mas HS tambahannya
>
>Ilmi

Kirim email ke