http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/19/0108354/calon.intelektual.yang.berkelakuan.barbar
Batu-batu kerikil berserakan di Jalan Diponegoro, Salemba, Jakarta Pusat. Ratusan polisi mengepung jalan di sekitar Kampus Universitas Kristen Indonesia dan Universitas Persada Indonesia Yayasan Administrasi Indonesia atau YAI. Suasana mencekam itu terjadi pada Selasa (14/10) sekitar pukul 11.00. Lalu lintas di Jalan Diponegoro seketika lumpuh. Pedagang kaki lima berlarian menyelamatkan diri dengan membawa dagangan mereka. Layanan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) terganggu karena akses masuk tertutup. Hingga Sabtu (18/10), Kepolisian Resor Metro Jakarta Pusat, pihak rektorat kedua universitas, maupun mahasiswa yang terlibat tawuran tidak dapat memastikan penyebab perkelahian itu. Hanya ada isu, mahasiswa UKI berusaha membebaskan kawan mereka yang diculik mahasiswa YAI. Namun, tuduhan itu tak terbukti. Anehnya, sejak tahun 2002, tawuran serupa kerap terjadi dan masyarakat sekitar selalu menjadi korban dirugikan. âPada akhir tahun 2007, seorang mahasiswa tewas. Akhir Mei 2008, mereka tawuran lagi,â kata Kepala Polres Metro Jakarta Pusat Komisaris Besar Ike Edwin, Sabtu kemarin. Razia yang dilakukan Polres Metro Jakarta Pusat, Rabu (15/10), di dalam kedua kampus, menunjukkan betapa senjata tajam, minuman keras, dan obat-obat terlarang akrab dalam kehidupan mahasiswa. Pengaruh pemakaian barang haram, peredaran dan persaingan perdagangannya diduga melibatkan oknum-oknum berstatus mahasiswa. Bisa jadi, ini menjadi penyebab tawuran. Namun, dari penyelidikan polisi, ada masalah lain, yaitu sengketa kepemilikan tanah antara pengelola UKI dan YAI. âKecemburuan sosial mungkin juga bisa menjadi penyebab suasana panas. UKI sudah lebih dulu ada di sana, tiba-tiba ada kampus baru yang mungkin lebih megah dan banyak perbedaan lain. Sayangnya, ini tidak dibina menjadi persaingan sehat,â kata pakar pendidikan, Arief Rahman. Rektor UKI Bernard Hutabarat dan Rektor YAI Yudi Yulius menyatakan tulus meminta maaf kepada seluruh lapisan masyarakat. Mereka berjanji akan menindak para mahasiswa yang terlibat sekaligus membina mereka. Ini adalah janji keempat dalam dua tahun terakhir dan belum ada hasil positif. âPerlu diklarifikasi, tidak semua mahasiswa UKI atau YAI suka tawuran, apalagi terlibat narkoba, miras, atau turut campur dalam sengketa tanah. Mereka yang bermasalah itu amat sedikit dibanding ribuan mahasiswa di sini. Kalau yang bermasalah tidak ditangani tuntas, sama saja memelihara api dalam sekam. Nama baik kami dipertaruhkan,â kata Edo (20), mahasiswa Fakultas Hukum UKI. Wali Kota Jakarta Pusat Sylviana Murni pun memberi ultimatum kepada kedua rektorat. Mereka harus menyelesaikan masalah ini demi kebaikan semua pihak. Jika tawuran berulang, kedua kampus akan dipindahkan. Tawuran yang dilakukan calon intelektual itu sungguh sudah mengganggu lingkungan sekitar. Orang terpelajar, kok bergaya barbar sih!. (NELI TRIANA)
