Jakarta, Kompas - Umat beragama di kawasan Asia menghadapi tantangan
yang sangat besar dan berat. Tantangan itu terutama untuk
mengantisipasi kebangkitan kawasan Asia Pasifik atau Asia Timur
sebagai kawasan pertumbuhan masa depan. Itu sebabnya keberagamaan
harus progresif agar dapat menjawab tantangan zaman.

Hal ini disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din
Syamsuddin, Selasa (21/10), seusai menghadiri Konferensi Agama untuk
Perdamaian Se-Asia (Asia Conference of Religion for Peace/ACRP) di
Manila. Organisasi yang sudah dibentuk sejak 32 tahun lalu ini juga
memilih Din Syamsuddin sebagai Presiden ACRP dan menempatkannya
sebagai tokoh Indonesia pertama sebagai Presiden ACRP.

"Agama-agama harus tampil sebagai faktor pendorong kemajuan Asia, maka
perlu dikembangkan keberagamaan progresif dengan spiritualitas dinamis
bagi kemajuan," ujarnya.

Keberagamaan progresif itu, menurut Din, juga harus didukung dengan
keimanan dan kesalehan tengahan yang tidak terjebak pada dua ekstrem,
baik radikal maupun liberal.

Jalan tengah, menurut Din, merupakan alternatif sekaligus solusi bagi
pemecahan problematika umat manusia saat ini. Problem itu adalah
ketiadaan damai yang bukan sekadar diartikan sebagai perang fisik,
tetapi juga perang terhadap kemiskinan.

"Dalam deklarasi ACRP juga dimuat komitmen untuk mengatasi berbagai
bentuk ketiadaan damai ini, termasuk menanggulangi berbagai konflik
yang masih berlangsung di beberapa bagian negara Asia, seperti di Sri
Lanka, Thailand, Filipina, dan Semenanjung Korea," ujarnya.

Direktur Eksekutif Centre for Dialogue and Cooperation among
Civilizations (CDCC) Abdul Mu'ti mengatakan, sikap kalangan agama yang
bisa menghargai semua golongan akan sangat berguna untuk mengembangkan
peradaban. Sikap umat beragama yang ikut mencari solusi atas problem
masyarakat juga sangat dibutuhkan untuk meningkatkan harkat dan
martabat manusia.

Misalnya, problem kemiskinan sering kali hanya menjadi polemik dan
diperdebatkan tanpa ada langkah penyelesaian dalam bentuk kebijakan
negara yang nyata. Kalangan umat beragama yang mempunyai tanggung
jawab untuk ikut mengangkat harkat dan martabat manusia juga masih
kurang memberikan solusi.

"Ini tugas kita, apalagi masih banyak orang yang hidup dalam kondisi
miskin. Lebih menyedihkan lagi, rakyat miskin dari segi ekonomi ini
juga miskin akses terhadap perlindungan hukum," ujarnya. (MAM)

 
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/22/0025011/keberagamaan.harus.progresif

Kirim email ke