Bung Irwan, Pekerja SPBU tidak saja mengalami penderitaan instan akibat terpapar hydrocarbon (uap bensin) seperti pusing, dada sesak, iritasi mata, atau batuk-batuk karena iritasi pada saluran pernafasan, ... tetapi mereka juga dalam proses "slowly killing" di mana kala saatnya tiba diprediksi (secara medis) mereka akan menderita kanker. Bukan menakut-takuti tetapi itu setidaknya kata pakar public health bahwa siapa pun yang terpapar hydrocarbon secara terus menerus baik dalam bentuk benzene maupu aromatic maka dia berpotensi menderita kanker.
Sebagaimana pernah diulas Kompas pada tanggal 4 April 2008, penelitian paparan hydrocarbon di Jakarta (2006) dengan mengambil sample urine Pekerja SPBU, Pedagang Asongan dan Polisi Lalu Lintas menunjukkan rata-rata konsentrasi asam mukonat (biomarker atas terjadinya paparan benzene) adalah 2193,3 mg/g kreatinin atau lebih dari 4 kali lipat dari nilai referensi yang diperkenankan (500 mg/g kreatinin). Demikian halnya rata-rata konsentrasi hydroksipirena (biomarker atas terjadinya paparan PAH) mencapai 8,62 mg/g kreatinin atau hampir 30 kali lipat dari nilai referensi yang diperbolehkan (0,3mg/g kreatinin). Itu artinya mereka dalam ancaman kanker. Namun sayangnya paparan hydrocarbon tidak dapat ditangkal dengan masker karena ujudnya sebagai gas => VOC (Volatile Organic Compound). Satu-satunya cara menghindari paparan hydrocarbon adalah memperbaiki fuel handling atau memperbaiki penanganan proses pengisian bahan bakar. Seperti yang dilakukan di negara lain, langkah utama dalam fuel handling ini adalah dengan menggunakan karet penyekat pada moncong selang dispenser (nozzle dispenser) yang didesign agar uap hydrocarbon tertahan dan tidak melayang ke udara terbuka saat petugas SPBU melakukan proses pengisian BBM ke kendaraan bermotor. Nah ... celakanya, seluruh SPBU di Indonesia (sepengetahuan saya) tidak mengindahkan ini dan bahkan keadaan ini DIBIARKAN oleh MIGAS dan Pertamina. Salam, Ppt ----- Original Message ----- From: Irwan Ariston Napitupulu To: [email protected] Sent: Wednesday, October 22, 2008 3:05 PM Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Dibalik Senyum Petugas Pom Bensin Dibalik Senyum Petugas Pom Bensin Ketika mengisi bensin, saya sering kali ngobrol dengan petugas pom bensinnya. Kebiasaan saya memang suka mengobrol dengan siapa saja. Sering kalinya saya hanya ingin menambah wawasan saja dari hal-hal yang mungkin tidak terpikirkan oleh saya sebelumnya. Kembali ke soal perbincangan saya dengan beberapa petugas pom bensin. Hal yang beberapa bulan ini saya tanyakan ke mereka di berbagai tempat pom bensin adalah apakah mereka tidak pusing mencium bau bensin setiap hari dan kenapa mereka tidak memakai masker penutup hidung agar mengurangi uap bensin yang terhirup. Hal tersebut saya tanyakan, karena saya saja yang berdiri sebentar sambil ngobrol, sudah langsung pusing karena menghirup bau bensin tersebut. Mereka, kurang lebih sepuluh orang, yang saya tanyakan semuanya menjawab bahwa sebenarnya mereka juga pusing. Mereka merasakan dada yang sesak. Dan makin parah lagi kalau pas mereka sedang sakit, katakan saja flu, perasaan sakit di dada semakin menjadi. Ketika saya tanyakan kenapa mereka tidak memakai masker, jawaban mereka semuanya sama yaitu karena kebijakan perusahaan. Perusahaan melarang mereka memakai masker karena demi pelayanan ke pelanggan. Mereka diwajibkan untuk tetap tersenyum ketika melayani pelanggan. Mereka bilang, kalau mereka pakai masker, mereka tidak bisa lagi menunjukkan senyum mereka ke nasabah dan itu akan dianggap tidak sopan karena tidak menghargai pelanggan. Hazrah kazrah! Saya terkaget mendengar jawaban mereka. Jawaban mereka semuanya seragam. Jawaban mereka pun semakin diperkuat dengan iklan Pertamina di televisi yang mengutamakan senyum petugasnya ketika melayani pelanggan. Ironisnya, dibalik senyum yang mereka berikan, ada derita yang harus mereka tanggung dengan mencium uap bensin setiap hari yang dapat memberikan gangguan yang serius kepada kesehatan mereka, khususnya paru-paru dan otak mereka. Saya sebagai pelanggan lebih senang melihat mereka memakai masker penutup hidung, ketimbang mereka melayani dengan senyum tapi saya tahu dibalik senyumnya, mereka menanggung derita yang tidak ringan. Melalui tulisan ini, saya mengajak kita yang peduli terhadap nasib para pekerja pom bensin untuk menyerukan kepedulian kesehatan petugas pom bensin agar pertamina dan pemilik pom bensin melengkapi petugas pom bensin dengan masker penutup hidung. Saya sebagai pelanggan pom bensin lebih peduli kesehatan petugas pom bensin ketimbang senyuman mereka ketika mereka mengisikan bensin ke kendaraan saya. Saya sudah mulai merasa tidak nyaman karena tahu dibalik senyuman petugas pom bensin ada derita yang harus mereka tanggung akibat menghirup uap bensin. Semoga melalui tulisan ini, nasib kesehatan petugas pom bensin bisa diperbaiki dimulai dengan memakai masker penutup hidung. catatan: Sekedar tambahan catatan, untuk pom bensin yang buka 24 jam, diterapkan tiga shift kerja. Kurang lebih mereka bekerja seharinya sekitar 8-9 jam. Jumlah jam yang cukup lama untuk menghirup uap bensin terus menerus. Silahkan di forward tulisan ini, khususnya ke mereka yang anda pikir dapat mempengaruhi untuk merubah kebijakan agar para petugas pom bensin dibolehkan memakai masker penutup hidung. jabat erat, Irwan Ariston Napitupulu [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]
