Pak Ronal, sebenarnya tergantung kebijakan persediaannya. LIFO, FIFO,
atau Rata2 tertimbang.

Kalau LIFO (Last In First Out) barang yg terakhir dibeli untuk
persediaan nantinya menjadi barang yg pertama keluar kalau terjual.
Misal kalau penjual punya stok 10 liter BBM dibeli minggu lalu dengan
harga Rp4,000/liter, dan 15 liter BBM yg dibeli kemarin dengan harga
Rp 6,000/liter. Maka kalau terjadi penjualan 5 liter bensin hari ini
akan memakai harga stok yg terakhir yaitu Rp6,000/liter. Kalau stok
terakhir sudah habis baru memakai harga Rp4,000/liter.

Kalau FIFO (First In First Out) kebalikan dari FIFO, jadi barang yang
pertama masuk persediaan itulah barang yg pertama buat dijual. Kalau
ada penjualan 5 liter bensin hari ini maka akan memakai barang yang
Rp4,000/liter. Kalau stok yg Rp4,000/liter sudah habis baru memakai
yg Rp6,000/liter.

Kalau rata2 tertimbang, nanti merata2kan harga barang persediaan yg
dibeli dengan harga yg berbeda2. Jadi 10xRp4,000 + 15xRp6,000 =
Rp130,000 / 25 liter (10+15) = Rp 5,200/liter. Kalau terjadi
penjualan, berapapun kuantitasnya, dipatok dengan harga Rp5,200/liter.

p

--- In [email protected], "Ronal Baharuddin
Hutagaol" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Sebenernya juga menurunkan agak sulit bos..
>
>
>
> Kebetulan babeh gw mantan pedagang, jadi waktu babeh beli tuh
barang pas harganya lagi tinggi-tingginya dan babeh gak bisa nurunin
harga karena stok gudangnya masih dengan harga yang tinggi yang
walaupun harga udah turun.
>
>
>
> Kayaknya demikian juga dengan minyak yang 6000, kayaknya pemerintah
masih punyak stok dengan harga yang tinggi, jadi harusnya dihabiskan
dulu untuk membeli stok baru yang harganya sesuai dengan harga
pasaran (harga yang udah turun), kira2 bener gak ya pendapat saya
ini??
>
>
>
> RBH

Kirim email ke