Oleh Sarie Febriane dan Iwan Santosa

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/11/04/01241023/kekerasan.bingkai.besar.kriminalitas



Merebaknya budaya kekerasan di tengah masyarakat saat ini merupakan
bingkai besar dari ragam praktik kriminalitas dengan berbagai gradasi
kekejian. Di tengah kondisi itu media massa seharusnya kembali kepada
perannya yang juga mengemban tanggung jawab sosial. Media massa tidak
sepatutnya terus terjerumus dalam kendali pasar serta mengutamakan
kepentingan modal.

"Bingkai besarnya adalah kekerasan yang menjadi budaya di tengah
masyarakat kita. Kekerasan menjadi jalan, menjadi cara yang digunakan
masyarakat dalam menghadapi masalah. Demokrasi yang kita nikmati saat
ini adalah demokrasi yang menciptakan kekerasan. Kriminalitas menjadi
salah satu wujudnya," kata Hotman Siahaan, sosiolog dari Universitas
Airlangga.

Hotman menambahkan, secara akademis dan statistik memang belum dapat
dikatakan bahwa kriminalitas saat ini cenderung makin keji atau sadis.
Sebab, di masa lampau pun tindak kriminalitas yang keji atau sadis
beberapa kali telah terjadi.

"Meski begitu, frekuensi kriminalitas yang tampak berturut-turut bisa
mengindikasikan masyarakat saat ini berada dalam situasi yang anomali,
cenderung mencari cara gampang, penyelesaian yang cepat, dengan segala
risikonya," kata Hotman.

Hotman menjelaskan, situasi anomali merupakan suatu keadaan tidak
normal, kacau, dan gamang. Realitas sosial saat ini, kata Hotman,
banyak diwarnai oleh kekerasan dengan berbagai gradasinya. "Mulai dari
kekerasan politik, yang saban hari kita lihat di media. Masyarakat
mudah marah tanpa takut terhadap konsekuensi hukumnya, gejala
sektarian menguat, masyarakat tidak bisa memahami perbedaan. Tanpa ada
rasa tanggung jawab dan dampak hukumnya," papar Hotman.

Media massa

Dalam kondisi demikian, menurut Hotman, media sedikit banyak turut
berperan.

"Sebenarnya masih debatable (diperdebatkan) apakah media massa membuat
orang melakukan imitasi praktik kekerasan. Namun, ada juga yang
berpendapat media justru membingkai bahwa perbuatan-perbuatan yang
melanggar hukum akan mendapat ganjarannya sehingga orang tidak mudah
berbuat kriminal," kata Hotman.

Terlepas ada atau tidak pengaruh media, Hotman berpandangan, media
massa harus sekuat mungkin mempertahankan perannya dalam mengemban
tanggung jawab sosial. Meskipun, tambah Hotman, media massa cenderung
terkungkung dalam kekuasaan pasar dan persaingan antarmedia yang ketat.

Senada dengan Hotman, Awang Ruswandi, pengajar Jurnalistik Televisi di
Departemen Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Indonesia, berpandangan, media massa cukup berperan dalam
memengaruhi perilaku agresif di tengah masyarakat, termasuk yang
berujung pada praktik kriminalitas.

Paling tidak, menurut Awang, pengemasan pemberitaan kriminal,
khususnya di televisi, memiliki kekuatan untuk menginspirasi
penontonnya dalam perbuatan kriminal.

"Kasus Smack Down (acara di televisi yang menginspirasi anak kecil
berbuat serupa), misalnya, itu terbukti. Tayangan rekonstruksi
perbuatan kriminal di televisi dengan detail itu juga sebenarnya tidak
beretika," kata Awang.

Awang berpendapat, sebagian praktisi media, khususnya televisi, tidak
lagi berpedoman kuat kepada etika jurnalistik. Peristiwa kriminal
dieksploitasi sedemikian rupa tanpa mengindahkan etika. Menurut Awang,
penyebabnya adalah industri media massa cenderung semakin digerakkan
kepentingan pasar. Kriminalitas menjadi komoditas.

"Market-driven journalism, begitu gambarannya," kata Awang.

Kriminolog dari Universitas Indonesia, Adrianus Meliala, mengatakan,
dalam hal kecenderungan gejala copycat (meniru) peristiwa
kriminalitas, media massa sebatas merupakan penyebab antara.

"Praktik kriminalnya itu sendiri banyak faktor yang mendorong.
Sementara, informasi dari media massa hanya menginspirasi caranya.
Memutilasi, misalnya, lebih didorong oleh keinginan kuat untuk
menghilangkan jejak, Sebab, pelaku sadar bahwa identitas korban adalah
entry point bagi polisi untuk menuju ke pelaku," kata Adrianus.

Senada dengan Adrianus, psikolog sosial Sartono Mukadis meyakini
gejala copycat, jika toh demikian, tidak begitu saja terjadi. Sartono
lebih cenderung meyakini sudah ada sesuatu yang salah di tengah
masyarakat saat ini. Sartono menjelaskannya sebagai kondisi state of
anomie, suatu kondisi masyarakat yang gamang karena mulai kehilangan
norma.

Penuh perhitungan

Kesadaran pelaku kriminal tersebut justru dianggap Adrianus sebagai
indikasi yang "positif". Menurutnya, masyarakat, termasuk pelaku
kejahatan, sadar bahwa segala ruang saat ini telah terjangkau oleh hukum.

Dengan demikian, praktik kriminalitas harus dilakukan dan
disembunyikan dengan upaya lebih keras. Pelaku kejahatan menjadi lebih
kalkulatif. Dalam hal ini, mutilasi, menurut Adrianus, boleh dibilang
cermin dari upaya keras itu. Sebab, hampir semua kasus mutilasi
bertujuan menghilangkan jejak pelaku dengan cara merusak korban
sehingga tanpa identitas.

Selain faktor media massa, Sudarmono, sejarawan Universitas Negeri
Sebelas Maret, Solo, mencermati dampak urbanisasi yang membuat kaum
urbannya mengalami perubahan perilaku, mulai dari aspek materialisme
sampai kekerasan.

"Hal-hal buruk dari Jakarta (kota) pun tertular dan dibawa pulang ke
tempat asal. Begitu pula kekerasan, menjadi mudah diadopsi," imbuh
Sudarmono.

Sudarmono menilai sejarah negeri ini memang "kaya" akan cerita
kekerasan berikut kekejiannya. Bahkan, sejak zaman raja-raja Jawa
berkuasa luas. Sudarmono memberi contoh pada suatu masa pernah ada
seorang penjahat yang dihukum dengan dikuliti, lalu kulitnya
dilekatkan di pintu alun-alun selatan Kota Solo sebagai peringatan.

Terlepas dari rentetan sejarah itu, bagaimanapun kekejian terus
menggejala. Tak heran, Sartono pun bertanya apakah saat ini merupakan
gejala mass neurosis, gangguan mental massal?

 

Kirim email ke