Lebih ciloko dan lebih kejinya lage, para antek-anteknya yang ditebarkan pada 
tataran akar rumput terus menerus ditiupin rasa permusuhan terhadap ;

1. Antara umat Islam terhadap Nasrani
2. Antara umat Nastani terhadap Islam.
3. Antar sesama umat Islam sendiri.
4. Bahaya laten PKI dan tidak bersih lingungan.

Demikian pula halnya ditingkat elit/akademisinya, ga bisa dipungkiri terjadinya 
pengkavlingan/pengkotakan-pengkotakan misale :
1. Untuk lenbaga/institusi/departemental dalam ranah "Ekonomi & Keuangan" itu 
dah kavlingnya alumnus UI.
2. Untuk lembaga/institusi/departemental dalam ranah "Industrial & Teknologi" 
dah kavlingnya alumnus ITB.
3. Untuk lembaga/institusi/departemental dalam ranah 
"pretanian/perikanan/kehutanan/perkebunan dah kavlingnya IPB.
4. Untuk lembaga/institusi/departemental dalam ranah "sospolhukkam" dah 
kavlingnya UGM berbagi dengan UNAIR, UNHAS; USU dll.

Butuh kebesaran jiwa negeri ini guna melebur dan mencairkan 
pengkotakan-pengkotakan tsb, sepanjang tidak adanya kebesaran jiwa dari negeri 
ini, dengan menyangkal dan mengingkari hal-hal tersebut diatas, maka 
kemunafikan demi kemunafikan akn terus terpelihara dinegeri ini.

Salam hangat,
Suhaimi




  ----- Original Message -----
  From: roy_marto
  To: [email protected]
  Sent: Wednesday, November 05, 2008 7:15 PM
  Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: IPB = Institut Pak Beye (SBY)...


  Dear temans,

  Pertanyaan ku sekarang (mudah mudahan bermutu) apakah terpuruknya
  bangsa Indonesia (1997) dan terbongkarnya kesalahan kesalahan dulu
  (sekarang) itu adalah kesalahan semua orang? Setahuku disebabkan
  kesalahan sekelompok/segelintir orang juga kan. Permasalahan nya di
  Indonesia, kesalahan segelintir dan sekolompok orang itu yang
  ditanggung oleh seluruh bangsa.

  Bagaimana pulak kalau jumlah yang segelintir itu memegang peranan
  yang sangat krusial dan penting dalam kehidupan bernegara, mereka
  semua pasti akan rame rame berteriak kalau memang mereka itu
  dihasilkan dari institusi/akademi/universitas/ yang "nge-TOP" atau
  pleksibel lah istilah nya tapi giliran bicara kegagalan malah
  bersembunyi dengan istilah segelintir.

  Lebih jauh aku mengatakan, apakah kita gak capek dengan peng-kotak
  kotakan alumni, almamater, lulusan dsb. Tidak cukup hebat kah bagimu
  alumni alumnian seperti chicago, barkley, belanda, jerman, jepang
  yang dulu dulu "ngurusin" bangsa tercinta itu� tapi lihat HASIL nya.
  Jangan jatuh pada kesalahan yang sama lagi. Janganlah analisis
  cemerlang mu terbatas oleh yang model beginian.

  Salam hangat,

  -aku-

Kirim email ke