http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/11/12/00314963/soekarwo-saifullah.menang


Surabaya, Kompas - Di bawah penjagaan ketat aparat keamanan, Selasa
(11/11), penghitungan resmi Pemilihan Kepala Daerah Jawa Timur putaran
kedua oleh Komisi Pemilihan Umum Jawa Timur menunjukkan pasangan
Soekarwo-Saifullah Yusuf keluar sebagai pemenang.

Pasangan itu unggul tipis 60.223 suara dari pasangan Khofifah Indar
Parawansa-Mudjiono (Kaji).

Soekarwo berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan warga Jatim.
Ia berjanji mewujudkan rasa terima kasih dan syukur lewat pengabdian
lima tahun ke depan. "Tidak usah melihat masa lalu. Mari bersama-sama
melangkah untuk masa depan Jatim yang lebih baik," ujarnya.

Ia juga meminta para pendukungnya agar menahan diri dan tidak
merayakan kemenangan dengan cara berlebihan. "Jangan menyinggung pihak
lain. Meski mendukung calon berbeda, semua rakyat Jatim harus diajak
bersama membangun Jatim," ujarnya, Selasa.

Dalam penghitungan suara di Hotel Mercure Surabaya, Selasa, KPU Jatim
menghitung ada 15.399.665 suara sah. Dari jumlah itu, 7.729.944 suara
diraih Soekarwo-Saifullah (Karsa) dan 7.669.721 suara diraih pasangan
Kaji, sementara 506.343 suara dinyatakan tidak sah.

"Kalau tidak ada gugatan, KPU akan mengadakan pleno untuk menetapkan
pemenang pada 15 November 2008. Kalau ada gugatan, penetapan menunggu
proses pengadilan," ujar Ketua KPU Jatim Wahyudi Purnomo.

Dalam penghitungan kemarin, tim pemenangan Kaji berkali-kali
menginterupsi. Interupsi pertama disampaikan sebelum Wahyudi membuka
rapat pleno terbuka untuk penghitungan suara. "Kami meminta pleno ini
ditunda sampai protes Kaji dijawab secara resmi oleh KPU," ujar
Sekretaris Tim Pemenangan Kaji M Mirdasy.

Kaji melayangkan protes pada 8 November lalu. Dalam protes itu, Kaji
antara lain meminta pemungutan suara ulang di empat kabupaten di
Madura, penghentian penghitungan di beberapa kabupaten/kota, dan
penghitungan ulang di beberapa kabupaten/kota. "Kami memiliki bukti
indikasi kecurangan yang merugikan Kaji," ujarnya.

Gugat ke MK

Wahyudi mengatakan, jawaban resmi harus dibahas dalam rapat pleno dan
KPU Jatim belum mengagendakannya. "Keberatan-keberatan akan dicatat
dalam berita acara penghitungan ini," ujarnya.

Merasa keberatan mereka tak ditanggapi, tim Kaji menolak
menandatangani berita acara penghitungan suara di tingkat provinsi.
Kaji memastikan akan menggugat penghitungan itu ke Mahkamah Konstitusi.

Anggota Panwas Pilgub Jatim, Abdullah Bufteim, mengatakan, sebagian
besar berita acara penghitungan di kabupaten/kota tidak mencantumkan
keberatan. Menurut undang-undang, keberatan dianggap tidak ada atau
tidak bisa diprotes jika tak dimasukkan dalam berita acara penghitungan.

Ia mengungkapkan, Panwas memang mendapatkan banyak laporan
pelanggaran. Laporan itu sudah diteruskan kepada KPU dan kepolisian
yang berwenang mengeksekusi sanksi kepada pelanggar. "Panwas tidak
punya hak mengeksekusi," tuturnya.

Dalam konferensi pers yang dihadiri, antara lain, calon wakil gubernur
Mudjiono, Ketua DPW PDI-P Sirmadji, Ketua DPW Partai Patriot La Nyalla
Mattalitti, dan Ketua Umum PKNU Choirul Anam, Khofifah menegaskan
gugatan sengketa pilkada kepada MK.

"Anggota tim kami sudah berangkat ke Jakarta tadi pagi (Senin, 10/11)
menuju kantor Mahkamah Konstitusi. Tim tersebut juga membawa
bukti-bukti yang menjadi dasar gugatan kami ke MK," ujar Khofifah.

Berdasarkan catatan tim Kaji, kecurangan tersebut berupa penghitungan
suara yang tidak dihitung secara prosedural. Kecurangan itu terjadi di
tingkat Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) yang tidak menghitung suara
di setiap tempat pemungutan suara, tetapi penghitungan dilakukan di
setiap desa.

"Kami juga memiliki bukti foto pembukaan kotak suara di tengah jalan
dari TPS menuju PPK," ucap Khofifah sambil meminta pengulangan
pemungutan suara di Kabupaten Sumenep, Pamekasan, dan Sampang, Madura,
yang menurut tim Kaji terjadi banyak kecurangan.

Ketua Partai Demokrat Anas Urbaningrum kemarin berharap semua pihak
menghormati hasil rekapitulasi resmi Pilkada Jatim. Sebab, siapa pun
pemenangnya merupakan pilihan dan simbol kemenangan warga Jatim. "Kami
yakin warga Jatim cukup cerdas, dewasa, dan tak suka berkonflik,"
katanya. (RAZ/APO/DEE/NWO)

Kirim email ke