Salam Bung Adhie,
Di dalam jurnalisme ada langgam penulisan Sketsa, setidaknya, begitu yang saya
ketahui dari senior. Nah saya menulis Sketsa mencoba bergaya literair.
Jika hanya membaca judul, dan tak suka membaca panjang, maka Anda hanya akan
"marah", dan merasa buang waktu, karena tak akan menemukan premis. Apalagi
tulisan ini tidak ber-taiching (pemikat) - - judul, langusng isi.
Karenanya sekali-kali perlu juga kerendahan hati barangkali untuk membaca utuh,
dan di www.presstalk.info, ada komentar-komentar lain yang berbeda dengan
koementar Anda tentang tulisan ini.
Jika membaca utuh sebetulnya, premis tulisan ini kritik tajam terhadap konten
penyiaran teve swasta; Reg-reg, yang klenik, termasuk sosok penyantet dengan
nama Joko Bodoh, Gendeng ini dan itu, yang faktual, memang berlaku gendeng,
macam memukul kucing dengan palu, untuk menunjukkan cara menyantet, dan yang
disantet tetap tak kena santet, tetapi seekor kucing mati - - dalam kontek
kucing itu saya menghubungkan kisah dengan almarhumah Ibu saya yang penggemar
kucing. Juga kritik tajam mengapa TVRI ada yang menghambat pembangunan
towernya? - - Amrozi, sebagai kasus, juga koreksi tajam terhadaop gaya liputan.
Kendati demikian, saya sangat hargai posting Bung Adhie ini, dengan demikian
menjadi titik perhatian saya untuk memberi judul ke depan.
Satu catatan saya, kita ke depan butuh banyak media alternatif, dan gaya
penulisan alternatif, sehingga kita menjadi "kaya", kritis dan benar kreatif.
Terima kasih,
iwan piliang
Adhie Massardi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Kleniknya
di mana soal Eksekusi Amrozi itu?
Kok berbelit-belit dan panjang lebar ya?
Saya sih mendengar ada instruksi entah dari siapa
bahwa eksekusi harus dilaksanakan pada TANGGAL 9
karena, katanya, ANGKA 9 itu angka hoki si pemberi perintah.
Masya Allah...!
Kematian orang pun harus disesuaikan...
-
[Non-text portions of this message have been removed]