Baru ini saya membaca komentar tentang suatu masalah dengan berimbang..... perlu kiranya kita untuk belajar tidak selalu menghakimi, belum tentu kita apabila duduk pada posisi itu mampu melakukan yang terbaik.
Tks ----- Original Message ----- From: "Berthy B Rahawarin" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Friday, November 21, 2008 11:26 AM Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Budiman: Soeharto Guru Bangsa? Menyesatkan ("JASMERAH" unt BK dan Pak Harto) Dear All, Normatifnya, berlaku bagi baik BK (Bung Karno) maupun Pak Harto, apa yang dikatakan Soekarno, "Jangan sekali-sekali melupakan sejarah!" (JASMERAH). Soekarno BUKAN Malaikat. Demikian halnya Pak Harto. Dan kita sekalian, termasuk Budiman? Untuk seratus tahun ke depan, Bung Karno dan Pak Harto masih akan menjadi studi sejarah. Sejarah yang ditulis berimbang sajalah yang akan diterima. Kalau menjilat Bung Karno atau keturunannya sambil menjelek-jelekkan Pak Harto, obyektifitas sejarah sangat terganggu. Demikianlah sebaliknya, yang umumnya dilakukan Orde Baru, tidak mengemukakan sejarah secara obyektif sehingga bahkan kesalah-kesalahan fundamental Bung Karno pun tidak muncul secara rasional obyektif. JADI, hanya dengan studi obyektif atas sejarah saja akan menyelamatkan bangsa dan negara ini dari seretnya dua kubu: Kubu soekarnois dan soehartois saling menyalahkan, tanpa ujung, tiada henti. Jadi, bukan hanya terhadap Soeharto "jasmerah" Soekarno digunakan, tapi "jasmerah" itu harus digunakan sendiri oleh Soekarno. Kalo, "pihak ketiga" PKS tiba-tiba muncul sebagai "mediator", nasibnya akan kasihan, karena "a pure political interest" yang menjadi target. Bukan, sebuah obyektifitas sejarah. Dan ini akan merugikan upaya rekonstruksi dan dekonstruksi studi sejarah, dan dialog sejarah yang menegakkan martabat bangsa. PKS kurang hati-hati dalam hal ini. Dan, itu terlihat (dapat juga dihitung) indikasinya dari polling detik.com tentang: pahlawan atau tidakkah pak Harto. Untuk beberapa hari Pak Harto bertengger "layak disebut pahlawan" dengan angka telak 89 atau 91 %. Hari ini, 21 November, hasil polling itu menyatakan, Pak Harto tidak layak disebut Pahlawan dgn prosentase 67%. Sebenarnya, kepahlawanan Soekarno maupun Soeharto LEBIH TIDAK PANTAS lagi DIUJI DALAM SUATU POLLING. Setelah menyelesaikan tugas-tugasnya, mereka berdua dengan segala kesuksesan dan keterbatasan telah memimpin negara Republik Indonesia. Kebanyakan kita, paling banyak menjadi komentator atau penilai. Dan, penilaian kita juga akan saling tindih-menindih, serang-menyerang silih berganti. Obyektifitas yang mutlak dalam sejarah juga tidak mudah didapat. Yang ada, adalah bahwa mereka berkuasa. Kita hanya berkuasa atas kata-kata dan lidah kita. Sejarah memilih hanya beberapa orang untuk mengubah dunia, dan Soekarno dan Soeharto telah melakukannya. Dan, kita hanya membuat sejarah, bila kita sedikit saja berupaya untuk OBYEKTIF. Ya, "jas-merah" harus kita pakai, tidak harus ke partai merah, apalagi putih mix. wassalam, ex toto corde, Berthy B Rahawarin [EMAIL PROTECTED] Untuk sesuatu yang kuyakini sebagai benar, kuuji berulang-kali sampai kebenaran itu kuanggap tetap perlu diuji. (Oleh, Anak Ayahku yang bukan Saudaraku)
