Ini yang namanya kebijakan yang dimaksudkan u/menyelesaikan masalah malah 
melahirkan masalah baru.  Persoalan persekolahan timbul karena makin saratnya 
beban siswa sampai2 anak nyaris tak memiliki waktu yang cukup u/berinteraksi 
secara sosial dengan bebas.  Tak jarang anak hanya bermain dengan kawan 
sekolahnya namun tak kenal dengan anak sebaya di lingkungan tempat tinggalnya.  
Sekolah berpacu u/mencetak anak2 yang jago menghapal namun minim nalar.  
Beragam lomba dilakukan namun bukanlah lomba yang menumbuhkan semangat 
u/menghargai proses, melainkan sekedar hasil.  U/itu kemudian terciptalah 
beragam les, yang membuat anak makin lama berada di sekolah dan makin minim 
u/berinteraksi dengan lingkungan tempat tinggalnya.

Sekolah juga makin tak jelas arahnya, makin mengerikan.  Berlomba dalam 
pemenuhan fasilitas sekunder, bahkan tersier, seperti AC, yang ujung2nya makin 
meningkatkan beban iuran bulanan yg harus dibayar o/siswa.  Sekolah menjadi 
barang bermerek lain yg makin melebarkan jurang antara kelompok kaya dan 
miskin.  Anak dari keluarga miskin atau menengah terpaksa kalah dalam berlomba 
hanya karena kawan sebayanya dari keluarga kaya lebih memiliki kesempatan 
keterpaparan yang lebih, bukan karena kemampuan otak atau kemampuan belajarnya. 
 Dunia persekolahan makin mengerikan.

Orangtua pun akan berlomba2 memasukkan anaknya ke sekolah2 yg katanya bagus 
atau hebat, yang jarak tempuh dari tempat tinggal siswa amat jauh dan ujung2nya 
membuat persoalan tersendiri u/transportasi.  Orangtua tak lagi bebas melepas 
anak, yang sudah SMP tau SMA sekalipun, sendirian ke sekolah.  Maka antrilah 
para supir menjemput anak di sekolah.  Lahirlah kesemrawutan baru di jam2 
tertentu.

Nah, jika ingin menyelesaikan persoalan ini maka beranilah kembali ke dasar 
yang menimbulkan persoalan itu sendiri, bukan dengan menciptakan persoalan baru 
sperti membuat jam mulai belajar di sekolah menjadi 6.30!  Perbaiki mutu 
sekolah seperti dulu sehingga anak tidak perlu beranjak jauh dari tempat 
tinggalnya dan masih memiliki waktu bermain maupun interaksi sosial lainnya.  
Maka sarana bermain dan fasilitas sosial bagi anak dan remaja per wilayah pun 
perlu tersedia dengan baik dan terjangkau, jangan hanya sengaja ditumpuk di 
daerah2 tertentu.


ED




Sent from my BlackBerry� wireless device from XL GPRS network

-----Original Message-----
From: Arief Baskoro <[EMAIL PROTECTED]>

Date: Fri, 21 Nov 2008 00:04:26
To: <[email protected]>
Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Mulai 1 Januari, Sekolah Masuk Pukul 06.30


Kasihan amat anak - anakku, sudah setiap hari harus bangun dan berangkat pagi - 
pagi sekali, lalu pulangnya sangat sore, karena ada bimbel lah , pramuka, 
ekskul dll, sehingga tidak pernah ada lagi yang namanya tidur siang, ataupun 
main bersama teman - teman di sore hari. Malam hari sudah terlalu capek untuk 
bisa bercengkrama dengan keluarga.
Hari libur benar2 diisi untuk istirahat dan tidur karena terlalu penat 
menjalani hari2nya, saya pun tak berani mengganggu karena kasihan.
Sekarang ternyata harus masuk sekolah lebih pagi lagi, dikobankan hanya demi 
jalan raya tidak macet lagi.
satu lagi bentuk solusi sekenanya, tanpa peduli ataupun pikir panjang siapa 
yang dikorbankan.

yang penting rapat, dapet solusi yang kelihatan keren, laporan, haha hihi.... 
dapet duit...

 Arief Baskoro
(anakku oh anakku...)

Kirim email ke