Langkah-langkah ini memang belum tentu efektif. Langkah-langkah lain yang sudah dilaksanakan sebelumnya seperti adanya bus sekolah, juga ujung-ujungnya menjadi terbengkalai begitu saja. Untuk mewujudkan cara terbaik tidak cukup dengan melihat kebutuhan publik itu seperti apa. Yang tidak kalah pentingnya ialah bagaimana masyarakat terus-menerus memengaruhi regulasi transportasi dengan menggugat hal-hal yang terbukti tidak efektif. misalnya bis sekolah. Evaluasi perlu dilakukan. Bahkan, ketika akan diterapkannya aturan ini, saat yang bersamaan kita siapkan perangkat evaluasi. Perlu dicamkan dalam-dalam bahwa yang ditranpsortasikan adalah manusia. Mengatur benda mati berbeda dengan mengatur manusia. Manusia berubah seiring dengan regulasi itu sendiri, karena manusia yang diatur itu dapat membaca dan mencari manfaat bagi dirinya sendiri atas peraturan yang dibuat itu. Oleh sebab itu, kita sambut kebijakan ini dengan kepala dingin, dan kita lakukan monitoring dari awal, guna memastikan apakah langkah ini dapat disertai oleh langkah-langkah lain yang lebih baik, misalnya merubah bis sekolah menjadi vocer bagi anak-anak sekolah untuk menumpang bis yang mana saja, sejauh dia terbukti dari keluarga miskin? Artinya, sudut-sudut pandang atas masalah ini perlu ditelaah dari berbagai asumsi-asumsi. Menyambut kebijakan bukan menerima for granted, tetapi menyikapinya untuk mencapai taraf yang lebih bilamana dijalankan. Sebab, jika status quo yang kita maksudkan, maka tahun 2012 jalan-jalan jakarta akan menggiring Jakarta menjadi kota pemiskinan dahsyat, karena kemacetan menimbulkan kehilangan hampir Rp. 20 trilyun per tahun, sama dengan nilai APBD DKI setahunnya!
--- On Fri, 11/21/08, indah nuritasari <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: indah nuritasari <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Mulai 1 Januari, Sekolah Masuk Pukul 06.30 To: [email protected] Date: Friday, November 21, 2008, 9:15 PM Saya prihatin sekali membaca berita ini. Kasihan anak-anak kita, sudah terbebani banyak tugas masih harus direpoti dengan bangun pagi-pagi sekali. Jangan lupa, anak-anak perlu jam tidur yang cukup, paling tidak 11 jam sehari, terutama yang masih di bawah 10 tahun. Kalau masuk sekolah jam 6.30 berarti mereka harus bangun jam 5 atau 5.15, berarti harus pergi tidur jam 5 atau 6 sore? Mungkinkah? Belum lagi ditambah dengan kerepotan orang tua menyiapkan segala keperluan mereka, apalagi kalau si ortu juga bekerja di luar rumah. Padahal kalau ortu stress, anak juga stress dan hari-hari akan disambut dengan berat hati. Saya takut anak-anak kita akan memandang sekolah sebagai sesuatu yang menakutkan. Padahal pembelajaran yang sukses harus dimulai dengan sikap riang, iklas, dan semangat. Semoga bisa ada dialog untuk mengatasi hal ini. Indah(ortu yang prihatin)
