Mas Budiman,

  Kasus anda mungkin berbeda dengan Sumitro Djojohadikusumo.
  Kecuali kalau mas Budiman pernah memata - matai bangsanya sendiri untuk 
kepentingan bangsa asing, tuduhan Orde Baru bahwa mas Budiman adalah 
pengkhianat itu betul 100 %.
  Tapi kalau soal "tidak sejalan dengan penguasa" dan kemudian diberi gelar 
"pengkhianat", memang sangat tergantung dari siapa yang menjadi pemenangnya.
  Jika ada pergantian Rezim, biasanya "gelar pengkhianat" akan berubah menjadi 
"gelar pahlawan".
  Tetapi untuk Sumitro yang menjadi mata - mata bangsa asing?
  Menurut saya, rezim manapun yang berkuasa akan kesulitan untuk membuat 
pernyataan resmi bahwa tindakan memata - matai bangsanya sendiri untuk 
kepentingan Pihak Asing adalah tindakan kepahlawanan sehingga pantas untuk 
dimasukkan kedalam buku sejarah agar bisa menjadi teladan bagi generasi penerus 
bangsa.
  Wah, gak mungkin lah itu.

  Salam,



  Adyanto Aditomo


Budiman Sudjatmiko <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Sekali lagi, resensi Indra menunjukkan pada kita bahwa selain (kemungkinan) 
salah seorang mantan wapres di era Orde Baru itu adalah agen CIA, juga seorang 
mantan menteri ristek dan ekonomi Orba (yg sekaligus besan mantan penguasa 
Orba) juga diduga pernah menjadi antek asing (Australia, menurut versi buku yg 
diresensi oleh Indra ini), terutama dalam kalimat Indra:
'Yang menjadi penghubung �bantuan simpati� adalah Soemitro Djojohadikusumo dari 
pihak PRRI/Permesta, dan Critchley sebagai Australian High Commisioner di 
Malaysia, terutama dengan keluarnya semacam memorandum tanggal 24 Desember 
1957'.
Jadi, sekali lagi, pahlawan dan pengkhianat (terhadap bangsa) dalam sejarah 
bangsa ini DITULIS OLEH PARA PEMENANG. Dan karena Orde Baru tidak pernah 
sungguh-sungguh kalah, maka versi mereka tentang pemenang dan pengkhianat MASIH 
BERLAKU SAMPAI SEKARANG.
�
wassalam
�
Budiman Sudjatmiko
Merasa bersyukur krn Orba GAGAL terus menggolongan saya sbg 'pengkhianat'




Kirim email ke