Mas Budiman,
Maaf, karena kesibukan saya, saya agak terlambat merespon jawaban anda.
Kalau cerita anda benar, hal itu akan sangat menyakitkan perasaan rakyat,
karena pemimpin yang telah diangkat sebagai pahlawan ternyata seorang
"pengkhianat bangsa".
Dengan tidak membuat pernyataan secara tertulis tentang "tindak
pengkhianatan" tersebut, kelihatannya yang bersangkutan sudah menyadari bahwa
tindakannya salah besar karena telah mengkhianati bangsanya sendiri, apapun
alasannya.
Pengkhianatan tersebut akan terungkap jika ada pihak ketiga yang menuliskan
tentang kronologis tersebut.
Katakanlah kasus pengkhianatan tersebut terungkap luas saat Orde Baru masih
eksis, apakah mungkin pemegang otoritas Orde Baru secara terbuka berani membuat
pernyataan tertulis (bisa dalam buku sejarah atau memoar seorang pemimpin)
bahwa memata - matai bangsanya sendiri untuk kepentingan bangsa Asing bisa
disebut sebagai "tindakan kepahlawanan" sehingga pantas untuk mendapatkan gelar
Pahlawan Nasional?
Saya kok meragukan hal tersebut.
Jadi kesimpulan saya adalah: Ada perbedaan antara "Proses Pembiaran" karena
kelompoknya sedang berkuasa dengan " mendukung sepenuh hati" tindakan
pengkhianatan tersebut sehingga berani menuliskannya dalam buku sejarah kita.
Jadi dengan terungkapnya bahwa ternyata Adam Malik agen CIA, pasti akan
menyakitkan bagi rakyat Indonesia, terutama keluarganya, tidak terkecuali bekas
pimpinan Orde Baru.
Soal ada Jendral Angkatan Darat yang dengan angkuh dan bangga mengakui
pernah "mengkhianati bangsanya", menurut saya itu adalah tindakan yang sangat
bodoh dan ceroboh. Umumnya orang yang sedang mabuk kemenangan dan mabuk
kekuasaan, biasanya cenderung ceroboh.
Dalam kondisi umum, tindakan tersebut akan menghancurkan karir politiknya.
Bahwa sampai saat ini yang bersangkutan masih eksis, itu hanya masalah nasib
baik saja karena adanya "Proses Pembiaran" dari pihak - pihak yang mengetahui
peristiwa tersebut.
Tapi jika dia berani membuat pernyataan secara tertulis atau ada pihak ketiga
yang menuliskan hal tersebut, hampir dipastikan karir politiknya akan tamat.
Salam,
Adyanto Aditomo
Budiman Sudjatmiko <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Mas Adyanto
saya tdk mau langsung menjawab pertanyaan anda. Tapi saya mau berkisah
berdasarkan kesaksian seorang mantan TNI AU yg tetap survive di era Orba (kita
tahu banyak mantan perwira TNI AU yg dituduh terlibat G 30 S). Mantan perwira
menengah TNI AU ini adalah ayah teman baik saya (seorang mantan aktivis HMI di
Surabaya):
Ayah teman saya ini, sebut saja si A, suatu saat di awal-awal era Orba
menghadiri sebuah pertemuan antar angkatan udara dan angkatan darat. Kemudian
seorang perwira dari AD (angkatan darat) yang dikenal sebagai tangan kanan
Soeharto dlm penumpasan PKI pd tahun 1965 angkat bicara. Sebut saja, tanan
kanan Soeharto oni sebagai X. X dalam pertemuan tsb bicara:
'saya senang sekarang ini AD dan AU bisa akur. Dulu sebelum 65 kita selalu
bersaing. Contohnya waktu konfrontasi dgn Malaysia. Suatu saat AU menerjunkan
intel-nya secara besar-besaran di wilayah Malaysia. Mereka diterjunkan utk
menyusup ke Malaysia dgn menggunakan seragam hansip Malaysia.
Waktu itu, kita membocorkan ke pihak Malaysia bahwa para intel AURI diterjunkan
ke Malaysia dgn dipakaikan seragam hansip Malaysia. Kita bocorkan kapan para
intel AURI ini akan mulai diterjunkan. Berdasarkan info yg kita kirim ke pihak
Malaysia, maka beberapa hari sebelum intelijen AURI itu diterjunkan ke
Malaysia, maka pihak Malaysia SEGERA MEMERINTAHKAN AGAR SERAGAM HANSIP
SE-MALAySIA DIGANTI SAMA SEKALI DGN CORAK SERAGAM BARU.'
Si X ini kemudian melanjutkan...: 'Sehingga saat para intel AURI (yg sdh banyak
dipengaruhi PKI ini) diterjunkan ke Malaysia menggunakan seragam Hansip
Malaysia yg lama, mereka dgn mudah segera ditangkap dan dibunuh oleh Malaysia',
demikian tutur si X dgn bangga bercerita di hadapan prajurit AD dan AU
Indonesia. Si X menceritakan ttg kisah tersebut pada awal-awal berkuasanya Orde
Baru (dia sdg di-elu-elu-kan sbg salah satu pahlawan Orba) , ketika AURI 'yg
kesusupan PKI' itu dianggap jauh lebih berbahaya ketimbang Malaysia yg sdg
berkonfrontasi secara politik dan militer dgn Indonesia.
Dan si X ini sampai sekarang jadi tokoh 'pahlawan' Indonesia, sebagai mantan
tangan kanan Soeharto dlm menumpas PKI thn 1965.
Ini adalah kisah yg tak akan mungkin ada dalam buku resmi kita. Jadi tetap saja
ada pengaruhnya kan soal status pemenang itu dlm menempatkan mana 'pahlawan'
dan mana 'pengkhianat'?
Semenjak kejadian itu lah, ayah teman saya yg perwira menengah TNI AU ini
hilang respek-nya terhadap Orde Baru...
wassalam
Budiman Sudjatmiko
Yang pernah dituduh mengkhianati 'ideologi negara' hanya krn melawan Orde Baru
Soeharto
--- On Wed, 11/26/08, Adyanto Aditomo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Adyanto Aditomo <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: RE: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Wartawan AS Sebut Adam Malik Agen CIA
To: [email protected]
Date: Wednesday, November 26, 2008, 9:56 AM
Mas Budiman Sudjatmiko,
Menurut saya persoalannya tidaklah sesederhana itu.
Seorang pemimpin Negara, kalau dikemudian hari ternyata merupakan mata - mata
dari negara asing, akan sangat melukai perasaan rakyatnya.
Andaikata tindakan mata - mata tersebut untuk negara lain (katakanlah
ditugaskan untuk memata - matai negara tetangga), itupun sudah menyakitkan hati
rakyatnya, apa lagi kalau tugasnya untuk memata - matai bangsanya sendiri.
Betapa menyakitkan kenyataan tersebut.
Apalagi kalau kemudian terbukti bahwa jabatan yang dia sandang adalah hasil
pekerjaannya sebagai mata - mata (saat itu mungkin Soeharto tidak menyadari
bahwa Adam Malik merupakan agen CIA dan keberhasilan Adam Malik menjadi Wakil
Presiden akibat ikut campur tangannya Pemerintah AS).
Waduh, menyedihkan sekali.
Menurut saya, jika seorang pejabat publik memata - matai bangsanya sendiri
untuk kepentingan bangsa asing, maka seluruh gelar kehormatan dari Negara yang
pernah dia sandang, sebaiknya dibatalkan saja.
Gelar kehormatan dari negara tidak pantas untuk seorang pengkhianat.
Soal pernyataan bahwa : "Pahlawan dan Pengkhianat dalam sejarah, ditentukan
oleh pemenang", rasanya tidak berlaku bagi pihak yang bersedia memata - matai
bangsanya untuk kepentingan bangsa asing.
Mas Budiman punya contoh untuk hal ini???
Salam,
Adyanto Aditomo
Budiman Sudjatmiko <budiman.repdem@ yahoo.com> wrote:
Soal apakah ada pejabat publik Indonesia masa lalu dan masa kini jadi agen
intelijen asing, saya kira bukan sesuatu yg mustahil. Namanya saja inteiljen.
Kita tak usah reaksioner membantahnya, krn tokh sulit dibuktikan ketidakbenaran
maupun kebenarannya.
Tapi, kontroversi ini mengingatkan kita bahwa republik ini tidaklah dibangun
oleh semangat yg sepenuhnya murni...selalu ada banyak pernik. Tinggal saja kita
mau berdewasa menerima itu sebagai realita.
Pada akhirnya pahlawan dan pengkhianat dlm sejarah, selalu ditentukan oleh
pemenang
Kisah-kisah pejabat publik jadi agen intelijen asing, saya kira sdh banyak
terjadi di dunia spionase
wassalam
Budiman Sudjatmiko
[Non-text portions of this message have been removed]
---------------------------------
Mulai chatting dengan teman di Yahoo! Pingbox baru sekarang!!
Membuat tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah
[Non-text portions of this message have been removed]