Fadel ketika itu sedang berada di Malang bukan di Jogya ketika gempa terjadi dan sangat beruntung kalau sekiranya kawasan kantor Gubernur Gorontalo (tempat Fadel berkantor) di puncak Botu dengan pemandangan menghadap danau Limboto itu tidak mengalami kerusakan, karena kawasan kantor Gubernur yang relatif baru dan megah itu dibangun pada bukit dengan kemiringan lereng yang curam dan rawan longsor serta sembrono perencanaan teknis pematangan tanahnya (seperti grading tanahnya) sehingga Bentor (Becak Motor) mendapatkan kesulitan dan berbahaya mendaki jalan menuju ke kawasan tersebut.
Gautama Harsha -------------------------------------------------------- > Ma'rufin Sudibyo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Sampai kini tercatat 'hanya' 4 orang tewas dan 50-an orang luka- > luka dalam bencana Gempa Gorontalo 17 November 2008 lalu. > tahun anggaran mendatang. Ironisnya, Fadel Muhammad sang > gubernur, lebih memilih keluyuran ke Yogyakarta mempromosikan > bukunya "Reinventing Local Government..." Ya, inilah potret > birokrasi Indonesia yang tak jua berubah, lebih suka ngurus diri > dan popularitasnya sendiri ketimbang peduli dan berempati pada > penderitaan orang banyak. > .....................dst........... > Di sepanjang patahan Gorontalo misalnya, yang membelah kota > Gorontalo dan Danau Limboto, dijumpai mineral bahan tambang seperti > emas dan tembaga (Katili, 1969). > .......................dst............................. > Dan tentu saja, dengan patahan melintas tepat membelah kota, kota > Gorontalo senantiasa menderitakan ancaman laten akan guncangan > gempa merusak dan membunuh di masa depan. > .......................dst.................. > Salam, > > Ma'rufin
