Oleh Richard Oh
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/11/29/01215125/siapa.lagi.ingin.jadi.kritikus.film


Menjadi kritikus film di negara ini ternyata sangat mudah. Tidak perlu
prakualifikasi, tidak seperti seorang pakar ekonomi yang minimal perlu
gelar sarjana ekonomi atau pengalaman sebagai seorang praktisi bisnis.
Kredensial seorang kritikus film kita berkisar dari pemerhati film,
kataloger film, penggiat film, hingga wartawan khusus film.

Maka, tidaklah mengherankan jika resensi film yang tiap minggu kita
baca di beberapa media besar seperti saling sahut-menyahut, hampir
seragam dalam penafsirannya, ataupun kisaran penafsirannya. Kritikan
para 'kritikus' ini pada akhirnya tidak ubahnya muntahan segar seorang
penonton, sebuah impresi superfisial tentang sebuah karya. Tidak bisa
ditanggapi sebagai sebuah kritikan. Karena tulisan seperti itu tidak
menukik ke dalam eksplorasi-eksplorasi pemikiran.

Kritikus seperti ini digambarkan oleh Roland Barthes sebagai kritikus
neither-nor, kritikus bukan ini atau itu. Intinya, penulis seperti itu
bukanlah seorang kritikus sejati karena untuk membedah setiap detail
gambar, suara, kerangka, makna, pergelutan ungkapan seorang sutradara,
dibutuhkan kepiawaian yang setara pula. Untuk merinci sinematografi,
seorang kritikus diharapkan punya kualifikasi juga dalam bidang ini,
seperti pencahayaan, pengambilan sudut gambar, penggunaan lensa
kamera, problema digital dan seluloid dan bahasa visual seorang
sutradara. Untuk kerangka sebuah film, diharapkan kritikus itu paham
tentang penyuntingan film, struktur narasi, penguasaan genre film
tertentu, konsistensi karakterisasi, nada yang ditekan pada satu titik
atau titik-titik tertentu.

Dia juga bukan seorang pemikir. Untuk mengkritik sebuah karya, boleh
saja seorang kritikus tidak menguasai semua aspek perfilman, tetapi ia
dituntut bisa berpikir secara sistematis. Ini adalah kriteria utama
yang memisahkan seorang kritikus sejati dengan kritikus bukan ini atau
itu.

Penonton vs kritikus

Tidak seperti seorang pencipta yang senantiasa ditantang untuk
membongkar rujukan-rujukan estetika, seorang kritikus dituntut untuk
bisa memetakan sebuah pemikiran. Apa pun bentuk pemikiran itu, asal ia
segar, merupakan sebuah respons puitis, berjarak, dan tidak frontal.

Kritikan adalah sebuah pemikiran yang mengarah ke satu arah (Barthes):
ke arah kesimpulan pemikiran. Ketika kritikus itu memutuskan menulis
sebuah kritikan, ia sebenarnya merespons pada bahasa. Pertama pada
bahasa secara literal, kemudian pada bahasa karya itu.

Saat kritikus itu menuangkan pemikirannya ke dalam sebuah tulisan,
pemikirannya mau tidak mau patuh pada bahasa dengan segala aturan
gramatika dan sintaksisnya. Dengan kata lain, tatanan bahasa dan
logika bahasa itu memaksa sebuah pemikiran yang tersadur dalam bahasa
mau tidak mau merunut dan terarah (ke sebuah kesimpulan makna).

Kritikus itu juga merespons pada bahasa sebuah karya. Bahasa yang
dimaksudkan tentunya adalah gaya sebuah karya: gaya dalam penuturan,
penyeleksian, penekanan pada obyek-obyek tertentu dalam sebuah karya,
keunikan ekspresi (dalam dialog ataupun karakter) dan metodologi dalam
membangun sebuah bagan karya. Sang kritikus akan mencari sebuah serat
atau serat-serat bahasa di dalam karya itu untuk kemudian dirajut
kembali menjadi sebuah pengupasan segar, terarah, dan kohesif.

Seorang kritikus menonton sebuah film tidak seperti seorang penonton
biasa. Seorang penonton biasa menonton sebuah film karena hasrat.
Hasratnya terpicu untuk menonton, memahami, menikmati sebuah film.
Maka, hubungan antara penonton dan film bermula dari subyek yang ingin
mendominasi sebuah obyek. Tujuan sang penonton biasa boleh digambarkan
sebagai sebuah hasrat yang agresif.

Penonton biasa dan film yang ditonton terjalin dalam sebuah hubungan
yang sepihak, yaitu melalui hasrat subyektivitas penonton pada obyek,
yakni film: maka hubungan ini lebih tepat kalau digambarkan sebagai
sebuah hubungan fisikal ketimbang mental. Oleh karena itu, ketika
seorang penonton biasa berkomentar tentang sebuah film, artikulasi
bentuk oralnya hanya bisa kita tafsir sebagai sebuah reaksi, atau
impresi, yang tidak berakar pada sebuah pemikiran yang terarah karena
ia hanya sekadar artikulasi, tidak terbangun dalam sebuah sistemasi
pemikiran yang hanya bisa terwujud dalam sebuah tulisan. Artikulasi
tidak bisa ditangkap dalam sebuah bagan real, kecuali dalam tulisan.
Ia hambur dalam ketiadaan begitu sebuah ungkapan terucap. Untuk supaya
sebuah artikulasi bisa terwujud menjadi kenyataan (menurut Derrida),
subyek perlu mati dahulu. Maka, dalam hal ini, kita tidak memiliki
banyak pilihan selain merujuk pada pemikiran Mallarmé, yang juga
diandalkan oleh Barthes: yaitu menangkap dahulu imanen (ilahi)
berkelabat dalam kata-kata kemudian membiarkannya memudar kembali ke
antah berantah ketika kata-kata itu tersusun rapi dalam satu bait
puisi (atau kalimat).

Pendekatan seni kritik

Sublasi (asimilasi entitas kecil ke dalam bagan yang jauh lebih
besar). Menurut Harold Bloom, semua karya mempunyai dna dari
karya-karya sebelumnya. Susan Sontag belajar dari John Cage, sang
komposer yang terkenal karena komposisinya diseling banyak kesunyapan
tak berdenting, pernah menyatakan bahwa di era modern ini hampir tidak
mungkin lagi bagi seorang pencipta seni untuk melepaskan diri secara
signifikan dari pengaruh-pengaruh pencipta seni sebelumnya.
Kemungkinan yang masih ada adalah eksplorasi-eksplorasi di
pinggir-pinggir kerangka, atau seperti John Cage, melawan dominasi
pengaruh pencipta sebelumnya dengan sebuah kesunyapan. Hanya itu
satu-satunya cara untuk memotong ari-ari kepengaruhan pada karya-karya
sebelumnya. Kepiawaian seorang pencipta pada saat ini sangat
tergantung kelincahannya dalam mengsublasi berbagai pengaruh ke dalam
karyanya sehingga sebuah makhluk eklektis baru, karya paduan berbagai
materi, bisa tercipta. Seorang kritikus yang berwawasan harus bisa
secara saksama mendata/merinci pergumulan eklektis dalam sebuah karya.

Puitis, Menyamping. Di bagian ini, saya kira kita bisa meminjam dari
Alain Badiou dan Gilles Deleuze untuk memberikan sedikit pengarahan
yang berguna. Bagi Alain Badiou, sebuah karya seni ibaratnya sebuah
event. Karena setiap kejadian adalah unik, maka dalam keterperangkapan
kita dalam situasi baru yang masih baru itu, sangatlah susah bagi kita
untuk mengupasnya secara langsung. Karena kita masih terperangkap
dalam sebuah ungkapan yang masih belum bisa dikategorikan ataupun
direduksi menjadi sebuah pernyataan konkret, satu-satu cara untuk bisa
mengupaskan karya itu adalah secara tidak langsung (indirect) dan
puitis. Yang dimaksud secara tidak langsung dan puitis adalah sebagai
berikut: seorang kritikus perlu merespons sebuah karya dengan berkarya
seni atau mencoba mengitari karya itu di pinggiran, tidak frontal,
tetapi puitis.

Kita juga bisa memetik banyak pengetahuan dari apa yang Deleuze
peroleh ketika ia mewawancara Francis Bacon, rupawan Inggris yang
terkenal dengan lukisan-lukisannya yang mencoba menangkap sebuah
jeritan. Ketika ditanya Deleuze bagaimana ia menilik kembali karyanya
setelah karya itu selesai dikerjakan, Bacon menjawab bahwa ketika ia
mengerjakan karya, ia memakai satu set teori yang berbeda dengan
ketika ia mencoba menelaah kembali karyanya setelah selesai. Dari
sini, Deleuze mendapatkan kesimpulan bahwa ketika kita melihat sebuah
karya seni, kita tergugah melampaui diri kita. Respons kita tidak
beranjak dari ego, tetapi dari sebuah perasaan yang sangat kuat.
Karena keterpanahan kita pada sebuah karya tidak berhubungan dengan
ego kita, maka kita memandang sebuah karya seni dari sebuah jarak.
Intinya, penilaian kita tidak berdasarkan sebuah reaksi personal sarat
pradugaan pribadi. Maka, apa yang sering kita baca dalam berbagai
ulasan film seperti kata nasi basi atau omong kosong dan kata-kata
seperti itu, hanya mencerminkan sebuah reaksi yang tidak puitis dan
sangat frontal. Begitu kita membaca penulisan kritikus dengan
perbekalan kosakata seperti itu, kita langsung bisa menilai penulis
itu hanya sebatas kritikus bukan ini atau itu.

Verisimilasi vs Realitas. Kita sering juga menemukan dalam resensi
film keluhan tentang pencipta film yang kurang memiliki latar belakang
tertentu sehingga ia gagal membangun sebuah realitas yang meyakinkan.
Seperti film Riri Riza, Tiga Hari untuk Selamanya pernah dikritik oleh
seorang kritikus dengan kata-kata yang berkisar pada kegagalan Riri
Rizi pada film itu karena ia tidak mempunyai latar yang memadai untuk
mengupas lingkungan hidup atau kedudukan sosial seperti yang
ditampilkan dalam filmnya itu. Tanggapan seperti ini perlu diluruskan
dengan beberapa contoh yang membantu. Pertama, ketika kita
membicarakan sebuah karya fiksi, asumsi pada sebuah khayalan ataupun
impian langsung terbesit dalam ungkapan kita. Sudah jelas setiap
pencipta seni punya asumsi ataupun impresi yang berbeda pada realitas:
keunikan sudut pandangnya justru yang membuat kita tertarik pada
karyanya. Jika seorang kritikus menuntut pada seorang pencipta seni
supaya ia bisa membangun sebuah realitas yang dikenal oleh orang
banyak, penuntutan ini saya kira lebih tepat kalau ia ditujukan pada
karya dokumenter daripada karya fiksi. Keluwesan seorang pencipta seni
senantiasa berada dalam permainan realitas. Kepintarannya membangun
sebuah realitas bukan karena ia begitu mahir menciptakan sebuah
realitas yang begitu menyerupai kenyataan, tetapi lebih pada bagaimana
sang pencipta membuat realitas itu begitu hidup atau bernyawa. Jadi,
realitas dalam karya-karya seni tidak berarti keselarasannya pada
realitas, tetapi pada kebernyawaannya dalam sebuah karya.

Simulacra dan Gerakan Palsu. Gerakan sebuah film, menurut Deleuze,
adalah sebuah gerakan palsu: pergerakan kontinuitas sebuah film
merupakan sebuah ilusi yang tercipta ketika 24 frame film digerakkan
dalam sedetik. Dan, ketika sebuah obyek ditangkap oleh kamera, apa
yang ditangkap secara otomatis menjadi sebuah simulacra, sebuah
jiplakan dari obyek asli. Dengan demikian, semua bentuk rekaman
digital ataupun seluloid tidak mencerminkan sebuah kenyataan asli.
Kita bisa belajar dari sini untuk menilai dengan benar apa yang
dimaksudkan keaslian sebuah situasi atau karakterisasi sebuah karya
film. Rujukan pada akhirnya kembali ke apa yang saya ungkapkan di
atas, yaitu bukan ketergantungan pada verisimilasi karakter ataupun
situasi pada realitas, tetapi pada kesenyawaan (lifeness bukan
lifelikeness).

Semoga esai ini sedikit merepotkan mereka yang gandrung menulis
kritikan film, tetapi tidak sudi mendalami bidangnya, dan mengajak
mereka yang berpotensi untuk mengimbangi pergelutan pencipta seni
sehingga sebuah dialog yang mengasyikkan bisa tercipta dan sebuah
komunitas kesenian terbangun dengan sehat dan kekar untuk kemajuan
bersama.

Richard Oh Penulis Novel; Penggagas Penghargaan Sastra Kathulistiwa Award

Kirim email ke