kaoou elite partai nggak mampu menerima kebenaran ilmiah yang sudah teruji, namanya bukan hanya bego, tapi otoriter. ada cerita dari umar kayam: pak harto sellau mengundang para pakar untuk diskusi atau kongko. dan seperti kebiasaan pak harto, dia selalu dengan tekun mendengarkan paparan para pakar. setelah diskusi atau kongko itu, dalam perjalan pulang ke rumah masing-masing biasanya para pakar dari masing-masing faksi politik menganggap bahwa merekalah yang pikirannya diterima. tapi, beberapa hari kemudian, keluar keputusan yang sama sekali berbeda dari apa yang disampaikan oleh para pakar. pelajarn dari pak harto, sang otoriter yang wibawanya membuat orang bisa mingkem dan sungkem (misalnya abdul gafur yang orang indotim itu, yang setengah mati belajar dodo mlaku dan ngglesot serta belajar ungkapan bahasa jawa; kalou harmoko kan sudah dari sononya sendika dawuh kepada siapa saja yang berkuasa!), adalah bahwa betapapun otoriternya diperlukan bagi elite atau ketua partai memiliki kapasitas bukan hanya mendengar, tapi mendengarKAN, kapasitas dialog dan siap untuk berbeda dan menghargai perbedaan itu. dan kita harapkan kepada elite partai benar-benar menjunjung kebenaran ilmiah. sebab, di jaman sekarang yang kondisinya menjadi konsekuensi logis dari jaman pak harto adalah kian rapuhnya dunia akademisi, dan ditambah dengan gaya hidup kalangan elite kampus yang mengejar berbagai kebutuhannya, yang membuat keputusan akademis bisa jeblog dan kejeblos ke dalam lobang yang memalukan. apakah saya berlebihan jika berharap kepada partai yang kini kian centang perentang dan ambruk pamornya? halim hd.
--- On Sat, 11/29/08, Sulaeman_H. <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Sulaeman_H. <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Iman Sugema Tim Pakar Megawati To: [email protected] Date: Saturday, November 29, 2008, 7:48 PM Mungkin supaya lebih jelas, yang mesti dijaga independensinya itu pemikiran intelektualnya tapi sebagai individu bisa saja jadi anggota suatu partai atas pertimbangan masing-masing. Jiwa intelektual tidak bisa digadaikan, diselewengkan atau dikorbankan demi kepentingan partai. Sekali berbuat demikian maka kepercayaan orang terhadap profesionalisme sang intelektual tersebut akan luntur. Hidup satu partai tidak harus 100% segalanya pemikirannya seragam dari yang prinsipal sampai remeh-temeh. Kalau ada partai yang tidak mentolerir perbedaan pendapat sekecil apapun antar sesama anggota ya sebaiknya kaum intelektual jangan mau masuk ke partai itu untuk dijadikan kerbau dicocok hidung. Kalau sudah dicocok hidung maka siapa yang pinter, si intelektual atau si pencocok hidung? SH
