Bung Roni , Saya mencium bau pesimisme yang kental dalam tulisan Anda. Anda boleh ngomong tentang rokok semau anda , termasuk itu tadi Pajak negara , tenaga kerja atau bisnis yang berkaitan dengan industri rokok. Kalau anda memang�tidak (lagi) punya idealisme , ya sudah... Saya bisa menangkap kekhawatiran anda. Tapi tidakkah anda khawatir terhadap masa depan puluhan juta anak anak kita yang jelas jelas sedang disasar oleh industri rokok untuk kepentingan pelestarian bisnis mereka. Tidak ada sumber pengganti bagi perokok perokok yang akan mati , kecuali para remaja. Adakah anda peduli ? atau anda belum juga paham ? Mereka secara nyata�sedang�digiring menuju ke sebuah perbudakan struktural. Perbudakan yang direstui oleh pemerintah yang telah menafikan ajakan ajakan keshalehan internasional�oleh hampir semua bangsa di dunia. Keshalehan murni tanpa polusi , kolusi�dan konspirasi , karena tujuannya memang satu yaitu�penyelamatan generasi . Sementara�yang diupayakan oleh pemerintah kita adalah perluasan Industri ,�yang ujungnya adalah peningkatan produksi , pencapaian target taksasi , dengan jelas jelas mengorbankan generasi . Termasuk�tentang pendirian pabrik�Sampoerna yang di Karawang yang anda sebut�itu , yang kapasitas produksinya mencapai 9 milyar batang pertahun !!! Dengan dalih penyerapan tenaga kerja , mereka�biarkan sawah disulap jadi�pabrik�. Buruh tani akan dengan�senang hati hijrah ke perburuhan industri tanpa resiko badan menjadi kotor berdaki dan iming iming gaji yang sedikit�tinggi. Karawang , yang sejak saya SD dulu terkenal sebagai lumbung padi akan berubah menjadi sentra rokok yang berikutnya setelah�Kudus dan Kediri .� Roadmap yang�akan menjadikan remaja remaja kita�perokok pengganti�, mereka restui, sekaligus restu bagi penyebaran bencana berupa��kanker , stroke , serangan jantung dan impotensi�. Di seluruh dunia , bisnis yang berkaitan dengan rokok menurun terus , seiring meningkatnya pemahaman masyarakat�dan� kepedulian pemerintahnya akan�bahaya yang ada didepan mata . juga seiring dengan kepatuhan pemerintahnya kepada�konvensi yang telah mereka ratifikasi karena keinginan�berpartisipasi menegakkan ketertiban dan kesehatan�bersama�. Jangan tanya bagaimana pemerintah kita�bung . Alih alih meratifikasi ,�malah seakan mendukung genosida yang dilakukan�oleh industri . Pertanyaan saya simple bung� : Adakah�Anda peduli ?�� Atau�Anda harus menunggu dulu kerusakan yang akan terjadi duapuluh tahun lagi ??�� ��
Fuad Baradja Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok (LM-3) Jakarta. --- On Sat, 12/6/08, Roni Febrianto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Roni Febrianto <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re : Masalah Rokok To: [email protected] Date: Saturday, December 6, 2008, 1:01 AM Selamat Siang , Sangat sulit menaggulangi masalah Rokok yang memang ada banyak kepentingan mulai dari Pajak ( negara ) , Lapangan Kerja ( buruh dan pedagang ,petani tembako ), Bisnis ( Pengusaha sekelas Jarum ,Gudang Garam dll ) belum lagi kebiasaan merokok yang sudah jadi bagian dari gaya hidup kalo ngak mau dibilang kebutuhan ,untuk pecandu lebih baik tidak makan siang dari pada tidak merokok . Lihat di Karawang akan ada pabrik besar Group Sampoerna yang sedang dibangun yang menandakan industri Rokok tidak banyak terpengaruh krisis ,akan ada ribuan buruh yang akan dapat lapangan kerja . Kalo Pemerintah tidak bisa brantas tuntas Narkoba yang jelas dilarang negara dan Agama ,jangan berharap banyak untuk bisa mengurangi jumlah perokok apalagi saat sedang stress dalam krisis konon rokok akan jadi jalan pintas untuk mengurangi kepenatan . Kalo DKI sudah ada Perda larangan merokok toh akan diabaikan apalagi kalo masih banyak iklan rokok dan kegiatatan sekelas Jak Jazz ato Liga Dji Sam Soe bisa diselenggarakan dengan sponsor pabrik rokok .Silahkan lanjutkan kampanye anti rokok bagi yang memang masih punya idealisme . Terima Kasih
