Jakarta, Kompas - Di tengah berbagai perubahan yang mengarah pada
industri dan ekonomi kreatif, sumber daya manusia Indonesia jangan
hanya menjadi konsumen. Namun, juga harus ikut menjadi produsen.

Hal itu terungkap dalam seminar bertajuk "Ilmu Pengetahuan Budaya
sebagai Paradigma Keilmuan", Rabu (10/12). Seminar menghadirkan guru
besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia Prof Sapardi Djoko
Damono dan Prof Soerjanto Poespowardojo. Diskusi dimoderatori Prof
Melani Budianta.

Sapardi mengatakan, kultur bangsa-bangsa mengarah kepada kultur urban
yang ditandai antara lain dengan kreativitas. Kreativitas dan bakat
itu dapat dikembangkan. Perguruan tinggi, dalam hal ini Fakultas Ilmu
Budaya, menjadi salah satu tempatnya.

Industri kreatif dapat diartikan industri yang berakar pada
kreativitas individual, keterampilan, serta bakat yang menjanjikan
mata pencarian jika kekayaan intelektual yang dimiliki dimanfaatkan
sebaik-baiknya. Jenis-jenis industri kreatif, antara lain, desain,
media, dan ekspresi seperti musik, seni pertunjukan, serta seni rupa.

Prof Melani Budianta menambahkan, bagi akademisi yang terpenting tidak
terlarut, tetapi tetap kritis dalam melihat arah perkembangan industri
kreatif. "Industri kreatif ikut menentukan dan mengonstruksi siapa
kita. Kita dapat ikut masuk dan tetap kritis agar mampu
mengintervensi, dalam arti ikut menentukan mau dibawa ke mana bangsa
ini," ujarnya.

Soerjanto Poespowardojo menambahkan, pengembangan ilmu pengetahuan
budaya dewasa ini perlu dilengkapi dengan pendekatan multidisiplin
serta interdisiplin. (INE)


http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/12/11/01354641/jangan.hanya.jadi.konsumen.industri.kreatif

Kirim email ke