rate Bank Sentral sebuah negara di era cross border (globalisasi)
pasar finansial tidak lagi menjadi sesuatu yang se"teoritis" di text
book tentang bunga acuan untuk mengatur money supply..

Sebelum terlalu jauh, kita pahami dulu, jalur produksi perbankan
adalah (1) Kredit ke sektor riil; (2) Treasury / Financial Market dan
(3) Fee Based Income (misal jasa ATM).

Apa bahan baku di Perbankan, maka jawabannya adalah Kepercayaan dari
Nasabah yang menyimpan dananya di Bank (baca DPK: Dana Pihak
Ketiga)... seperti layaknya di Pabrik bahan baku ada "harganya",
itulah yang dipandu "rate" secara teoritis

Jika harga bahan baku (cost of capital) tinggi, maka harga jual dari
bunga kredit dan imbal hasil treasury jadi Tinggi, serta hitungan pay
back invetment untuk belanja infrastruktur penopang fee based income
akan ketat..

Sekarang,
(1) Kita punya historis BI rate turun drastis dari 19% ke 7,5-8%
(stabil 3 tahun), tapi kredit ke sektor riil tetap rendah... yang
terjadi ke Kredit Konsumsi dan Modal Kerja (sektor riil yang sudah
berjalan dan lancar)... padahal yang kita ributkan kan yang ekspansif
ke sektor riil baru yang menyerap lapangan kerja menganggur

(2) rate antar negara adalah satu faktor krusial, September 2007 The
Fed turun dan Cina naik, terbukti Cina bertambah Devisanya dan The Fed
berkurang (uangnya lari keluar)

(3) saat ini Cina juga mulai turun, karena mereka secara moneter "di
atas angin".. artinya buat apa keluar duit bayar bunga, kalau uang
yang mau diserap sudah jenuh... Dengan alasan yang sama, saat ini
memang ada ruang BI rate turun. TERLEBIH dengan struktur portopolio
terbesar di tangan asing, memberi bunga agar dana tersebut bertajan
tidak relevan saat ini, karena yang punya bangkrut jadi apapun akan
mereka tarik

(4) Ketika Fed rate "harus" turun secara politis, dan secara realita
The Fed menghadapi likuiditas yag mengering karena dananya keluar...
The Fed membuat instrumen moneter lainnya untuk menarik dana kembali,
yaitu RePO, SLTD, TAF dan TSLF..Jadi, hati-hati melihat Fed rate turun
saja tidak cukup untu mengatakan "kondusif"... yang sudah kita
rasakan, ketika benih yag ditanam RePO dan TAF di racing pasar kita
dari sep 2007 - agustus 2008 DITARIK keluar ya seperti yang kita
rasakan hari ini barangnya keuar dan demand USD meningkat, sehingga
kurs Rupiah melemah dan harga tempe naik

(5) Perhatikan paket kebijakan Obama, sangat mengutamakan belanja
fiskal, artinya dana diluar besar kemungkinan akan terus ditarik...
hati-hati juga ancaman penerbitan T-Bill di AS, karena bisa jadi
mereka main "Fed rate rendah" tapi T-Bill tinngi, nah kalau orang kaya
kita hanya mikir return bisa eli tuh T-Bill.. jadi kompleksitas
moneter harus komprehensif kita lihat, karena memang seperti arena
perang.,.

(6) soal sektor riil, masalahnya bukan hanya BI rate, karena jelas
tidak linier dengan bunga kredit maupun menggeser perilaku bankir...
Kalau saya di posisi pemerintah sih saya akan deal dengan dana lokal
yang fokus ke sektor riil untuk "menggiring" intermediasi... Kita bisa
main BI rate rendah, tapi yang lebih penting kita mesti KAMPRET
(Krearif, Aktif, Mandiri, Produktif, Reaktif, Energik, Terintegrasi)..
That's the game!

Merdeka!,
-Yanuar Rizky-
mail to: [email protected]
on the net: http://www.elrizky.net
elrizkyNet::dari RT-RW ke Internet menuju Pasar Modal::




On Wed, Dec 17, 2008 at 6:46 PM, bakri arbie <[email protected]> wrote:
> Yth Bung Yanuar,
>
> Dari berita detikfinance dikatakan bahwa pemerintah AS menurunkun bunga bank
> menjadi
> kisaran 0 - 0,25%, dimaksudkan untuk memulihkan kegairahan para pelaku
> ekonomi di
> Amerika Serikat.Pemulihan ini untuk membuat titik balik akibat terpuruknya
> bisnis
> maya di Wall Street yang menggelembung sedemikian besarnya hingga banyak
> yang
> merugi dan terjadinya phk besar-besaran.
> Begitu pula di Eropa, suku bunganya diturunkan untuk tujuan yang
> sama,memulihkan kegairahan ekonomi.
>
> Sebagai orang awam saya bertanya kepada Bung Yanuar, kalau terapi dinegeri
> sono,
> untuk memulihkan gairah ekonomi bunga bank diturunkan, mengapa bunga bank di
> Indonesia kok tetap nemplok dipohon yang tinggi diatas 10%.
> Bagaimana para wirausahawan atau entrepreneur lokal bisa tumbuh ?
> Bakal susah dong mencapai cita-cita HIPMI 4 juta pengusaha UKM di
> Indonesia..
>
> Apa ilmu ekonomi disana beda dengan di Indonesia atau paradigma, konsep atau
> cara berpikirnya yang berbeda ?
> Kapan ya kita jadi cerdas membangun bangsa ?
> Mohon pencerahan dari Bung Yanuar atau para ekonom lainnya.
>
> Salam Hormat,
> Bakri Arbie.
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> 

Kirim email ke