Oleh Martin Lukito Sinaga
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/12/24/03010114/natal.sebagai.pemberian


Secara umum, Natal diserukan sebagai peristiwa Immanuel: Allah
menghadirkan diri-Nya di tengah manusia. Dan itu tampak dalam
kelahiran putra-Nya, Yesus Kristus, di Bumi ini. Namun, seruan itu
tidak tanpa kontradiksi.

Saat lahirnya, Yesus harus bersembunyi dari intaian Kaisar Agustus.
Kaisar yang mendaku selaku pembawa damai itu (Pax Agustae) harus
bekerja dengan tangan besi lewat para tentaranya, sementara Yesus yang
dilarikan ke Betlehem dikatakan selaku raja damai, tetapi
mengerjakannya bersama "bala tentara surga". Dan, pesan damai semesta
pun "hanya" dikumandangkan di antara para gembala di padang gurun sepi.

Tentu kontradiksi yang lain ialah tentang kelahiran tanpa
persetubuhan, suatu kelahiran dari perawan Maria, peristiwa yang bisa
dikatakan sebagai creatio ex nihilo. Di sini ada alusi pada kelahiran
anak Abraham (Ishak) yang terberikan begitu saja, yang "bahan-bahannya
tak tersedia dan tak ada" (ex nihilo). Ia muncul dari mimpi lalu
menerobos di tengah usia senja yang renta.

Maka, salah satu pesan terdalam Natal ialah tindakan Allah yang
menghadirkan diri-Nya (Immanuel) itu adalah tindakan-Nya memberi
dengan turah, tindakan yang mengejutkan dari yang Ultimate. Jika kisah
penciptaan dunia dalam Alkitab pun diartikan sebagai momen creatio ex
nihilo, sungguh cerita Natal adalah juga cerita bahwa "pada mulanya
yang ada ialah pemberian".

Maka, Natal ialah tentang hidup manusia yang dilimpahi (saturated),
hidup yang sejatinya dan intinya adalah a gift. Dan selanjutnya kita
boleh tahu bahwa horizon hidup yang terbentang di hadapan kita ialah
sebentuk kanvas keterberian.

Pertukaran ekonomi semata

Sudut pandang ini sungguh penting—ia segera menjadi
kontradiktif—mengingat zaman ini melihat hidup "pada mulanya" sebagai
ihwal pertukaran ataupun transaksi. Homo economicus telah menjadi
kesadaran diri yang utama, yang melahirkan sosok otonom yang
terisolasi dan yang tidak bertanggung jawab kepada apa pun. Yang ia
mau ialah menjual jasanya untuk mendapat balik obyek-obyek keuntungannya.

Manusia seperti ini akan mudah "diambil" oleh industri budaya yang
selalu menghasilkan obyek-obyek konsumsi baru untuk memenuhi hasrat
manusia. Obyek-obyek itu seolah memberi pengakuan kepada manusia bahwa
ia sukses dan mampu dalam transaksi hidup. Maka, manusia menganut
"pertukaran pasar bebas" dan ia pun amat bergantung pada instansi yang
tampaknya mengakui keberadaannya tadi.

Di sini kita memang bicara soal pengaruh globalisasi yang secara
mendasar terkait pasar ekonomis yang terbuka, tetapi terintegrasi.
Pasar kecil menjadi bergantung pada pasar dunia. Jika terjadi krisis
ekonomi, keperluan "kecil" hidup kita sehari-hari pun menjadi
bermasalah. Hidup menjadi rentan dan sehari-hari nasib kita begitu
telanjang (brute-luck) dan tak stabil. Tampaknya situasi telanjang nan
rentan telah menjadi ritme hidup dan kerja kini; dan bagi siapa saja
yang lemah daya tukarnya, ia menjadi seonggok makhluk redundant dan
biasanya akan pula diabaikan.

Untuk memproteksi diri, terhadap ketidakpastian dan kerentanan yang
akut tadi, manusia membentengi diri dalam institusi-institusi yang
fundamentalistik. Semakin mendalam kecemasan, semakin kuat cengkeraman
institusi itu. Agama tentu menjadi salah satu benteng pertahanan yang
terbentuk di sini, dan karena modusnya yang cenderung absolut, ia
segera direngkuh dan cenderung membentuk roh totalitarian.

Menyitir Hannah Arendt, ruang privat pertahanan diri yang totalitarian
dan primordial itu akan segera mengubah dirinya menjadi semacam
monster sejarah.

Bersama untuk memberi

Tentu soal pertukaran komoditas itu sudah sedemikian lama
dipercakapkan. Bahkan, Marcel Mauss (dalam buku klasik The Gift) sudah
secara deterministis menandaskan bahwa ikatan sosial akan selalu
berisikan pemberian yang sejatinya ialah sebentuk pertukaran. Tidak
ada yang gratis, tidak ada pemberian dalam sikap gratuitous, semua
menuntut "pengembalian". Agaknya ini pula paradigma kapitalisme kita
kini: perusahaan terbatas dibentuk agar ia hanya melihat benda yang
langka sebatas komoditas. Malah, semua ihwal hidup hendak diserapnya
dan dipertalikan dalam langgam bisnis seperti ini.

Kontradiksi Natal kiranya memberi pilihan bahwa ruang kegembiraan
bersama di mana pemberian menjadi yang utama masih bisa tercipta. Ada
yang menyatukan antara yang memberi dan yang menerima, yaitu Pemberian
Asali, yang datang melimpah dan turah pada manusia. Maka, pertemuan
memberi menjadi pertemuan sukacita. Kalaupun kita perlu menerima
(menuntut) sesuatu in return, kiranya horizon kita ialah ke arah "God
who sees in secret, rewards in secret" (kata Jacques Derrida).
Kerahasiaan tadi tidak pernah kita bisa pastikan, tetapi ia balik
memanggil kita untuk melepas dan berbagi. Maka, yang terjadi ialah
sebentuk pertukaran sukacita (mengutip Martin Luther).

Berbagai persekutuan dalam masyarakat (termasuk agama atau
ecclesia/gereja) sebenarnya bisa terbangun dalam dasar pemberian tadi.
Ia bukan sebentuk proteksi privat yang fundamentalistik, bukan pula
sebentuk agensi pasar. Ia bisa memulai memberi dan menemui
individu-individu di negeri ini yang sudah sedemikian terabaikan, yang
hampir tak bisa "membayar" apa pun, dan kalau terlambat mereka akan
teronggok sendiri.

Martin Lukito Sinaga Pendeta Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS)

 

 

Kirim email ke