Aduuh, mosok TEMPO mempunyai evaluasi salah ttg wlikota Makassar dan 
Bupati Sragen? Buktinya tulisan dibawah ini. Atau jangan2 ini contoh 
komentar orang yang nggak kebagian proyek?

Salam&sorry, Opung (bukan org Sragen, bukan juga org Jawa)



From: guntoro soewarno <[email protected] 
<mailto:artikelguntoro%40yahoo.com>>
Subject: [Forum-Pembaca-
KOMPAS] Soal Bupati Sragen, Tempo Ketipu

Date: Tuesday, December 23, 2008, 4:22 AM

Tempo minggu ini, terutama laporan utama yang mengangkat

Bupati/Walikota berprestasi, sungguh tidak cermat, terutama ketika

menetapkan Bupati Sragen Untung masuk nominasi 10 besar terbaik.

Bahkan, laporan Tempo sungguh menipu, atau Tempo tertipu. Penjelasan

detilnya begini;

Pertama soal sekolah Untung yang Sarjana Hukum. Hingga kini pengadilan

manapun belum memutuskan soal laporan ijazah palsu Bupati Untung. Dan

ini sudah terjadi sejak Untung menjabat sebagai Bupati Sragen periode

pertama. Di internal masyarakat Sragen, kelompok kritis yang menyoal

masalah ijazah Untung mendapat teror yang luar biasa. Tempo saya kira

tidak cermat dalam soal ini.

Kedua, semua proyek mercusuar Bupati untung, ujung-ujungnya adalah

bisnis yang hanya dinikmati oleh orang-orang sangat elit dan terbatas

di lingkaran Bupati. Jaringan IT di desa-desa, tidak hanya proyek di

mayoritas Desa ini mubadzir, tapi siapa perusahaan penyedia IT? patut

diduga tidak lepas dari orang lingkaran dalam itu.

Begitupun soal pelayanan satu atap. Ujung-ujungnya untuk proyek 
strategis, keputusan tetap di tangan Bupati.

Ada satu proyek pipanisasi saluran air. Ceritanya, proyek ini untuk

memberdayakan semua potensi air yang ada di daerah itu. Yang terjadi

kemudian, setelah lokasi itu dieksloitasi, hal yang terjadi adalah

beberapa sumber air di sekitar lokasi itu jadi kering. Dan --nah ini

persoalannya- - perusahaan pengelola juga dinikmati oleh para kroninya.

Ketika Bupati untung menggebu untuk mengeksloitasi habis Kedung Ombo

sebagai obyek wisata, proyek ini tidak hanya mengada-ada, karena lahan

Kedung Ombo yang masuk wilayah Sragen tidak lebih dari 10%, akibatnya

Bupati mewajibkan warga Sragen untuk mengunjungi Kedung Ombo secara

periodik, tidak peduli apakah warga mampu atau tidak berkunjung ke sana.

Dan dampak ekonomi dari kebijakan yang terkesan bagus tapi sangat sarat

dengan dugaan kronisme adalah matinya pengusaha lokal, karena semua

proyek terpusat di lingkaran kekuasaan Bupati.

Cerita soal-soal seperti ini sebenarnya sudah menjadi buah bibir dan

bahan tertawaan warga sragen yang kritis dan membuat rakyat Sragen

mual-mual. Bupati untung kalau mau menilai ya hanya suka mendalang dan

rajin turun ke desa-desa itu saja yang positif. Selebihnya, pola

kekuasaan yang dikembangkan adalah kombinasi kolaborasi Politisi

Pengusaha. Tidak beda dengan Soeharto dengan Kroninya.

Saya sangat menyayangkan, karena Tempo yang biasanya kredibel, cermat 
dan bermutu, kali ini sungguh TERTIPU.

Salam

G Soewarno

Warga Sragen

Kirim email ke