Bung Harya, tolong pertanyaan mendasar saya: Anda setuju tidak dengan memajukan jam sekolah anak?
Saya perhatikan jawaban anda hanya melulu dari sektor transportasi dari perspektif teknik. Makanya ketika milister lain bertanya mengenai konsistensi kebijakan, anda selalu mengelak. Anda hanya sibuk menyalahkan pertanyaan yang menurut anda 'tidak qualified' saja. Makanya anda juga jangan berpikir linear aja dong. Masalah kebijakan transportasi itu bukan hanya masalah teknik dan kecepatan semata Bung. Namun juga menyangkut masalah publik dan sosial. Anda memang pakar untuk masalah teknik. Tapi anda tidak pernah bahkan tidak mau menjelaskan masalah ini dari perspektif sosial dan politik di milist. Makanya anda hanya sibuk mengatakan orang lain tidak mengerti angka lah dan tidak mengerti konsep transportasi lah. Ketika kita kejar masalah favoritisme sekolah yang menyebabkan orang mau jauh2 datang ke Jakarta, anda bilang itu dalam bahasan nanti. Ketika kita tanya mengenai mengenai angkot yang ngetem dan birokrasi yang korup, anda bilang itu kita akan masukkan dalam agenda. Sejumlah proyek bus way yang belum jadi-jadi yang disebabkan oleh birokrasinya, anda tidak pernah singgung. Memang kemacetan itu sudah terjadi sejak lama Bung. Tapi kemacetan itu bukan karena persoalan teknik akibat kapasitas jalan yang tidak bertambah dan kualitas angkutan umum yang menurun saja, namun karena masalah perilaku masyarakat dan sistem birokrasi yang buruk juga. Nggak perlu lah tanya kuliah orang. Sebab kalau pun anda kuliah di universitas paling hebat di dunia ini pun juga tidak terlihat cerdas juga. Jawaban anda hanya mengulang-ngulang dari satu faktor saja. Peace Emir --- In [email protected], "Harya Setyaka" <harya.sety...@...> wrote: > > Bung Manneke, > > Kalau masuk sekolah jam 06.30 bukan hal yg baru, lantas kenapa anda > klaim ada korban? > > Just a reminder Bung, anda dulu giat sekali menuduh sy membeo. > Sy tegaskan bahwa tuduhan anda salah. > Sy pun punya dissenting opinion. > Tapi sy tidak ber-hobi 'selalu anti pemerintah'. Bukan watak sy utk > ber-negatif ria setiap saat. > > Juga mengenai program busway.. memang sy tahu anda tidak ada maslah > dengan itu, dan thanks atas dukungannya. Tapi anda keukeuh ngawur > bahwa kebijakan pemindahan jam sekolah adalah prioritas. Sy ingatkan > kembali, bahwa kemacetan sudah lama.. dan sejak itu pemerintah sudah > meresponsnya dengan Busway.. jaauuuh sebelum mewacanakan penggeseran > jam masuk sekolah. Jadi, sekali lagi, anda salah kalau bersikukuh > bahwa program penggeseran jam masuk sekolah sbg prioritas. > > Bukan ngebelokin ke Angka Bung.. tapi memberi pehamaman yg lebih > akurat mengenai besaran kesulitan yg dihadapi. Anda malah menganggap > enteng dengan alasan dangkal bahwa pembuatan taman Monas/Bund HI bisa > dilakukan. > Duit itu memang soal angka Bung! Kumahe ente? > Sekolah dimana sih dulu.. > > Tugas pemerintah memang fundraiser.. sy kan tidak pernah > mempermaslahkan hal ini. > FYI, salah satu sumber pendanaan proyek-2 adalah dari pajak BBM... > tentunya kondisi ini tidak aplikable di Indonesia. Cara lain ya tetap > dilakukan Bung, antara lain dengan Loan dan mengundang investor.. dan > iya.. pakai hitung-2an angka.. > > Sy baca frasa tambahan anda itu Bung... dan usulan involutif- obsolete > anda itu sudah direspons oleh pemerintah dengan pengenaan pajak > progresif pada pemilik kendaraan bermotor. > Tapi ternyata obat nya perlu yg lebih manjur toh? > > salam, > -K-
