Ma'af numpang pendapat dari diskusi para pakar politik ini 
kelihatannya cukup realistis untuk satu sisi pemikiran masa depan 
bangsa khususnya menyangkut HAM. Walaupun demikian beliau-beliau 
yang diskusi tersebut agaknya "lupa" amanat yang terkandung dalam 
pembukaan UUD 1945 walau sudah direvisi tetapi Pembukaan UUD 1945 
tetap seperti aslinya dan telah kita sepakati bersama sebagai 
bangsa. Salah satu kalimat dalam Pembukaan UUD 1945 dialinea pertama 
adalah : "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala 
bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus 
dihapus, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri 
keadilan. .....dst".

Untuk itu kalimat yang dikutip "Kompas" dari Mas Herry Priyono yang 
menyebutkan: " .... Itu sebabnya nasionalisme yang perlu 
dikembangkan ke depan bukan soal mengusir penjajah.......dst" Kok 
bertentangan dengan Pembukaan UUD 1945 yang saya kutip diatas, ma'af 
agaknya Mas Herry Priyono mencoba mereduksi seolah-olah Penjajahan 
itu sudah hilang dari dunia dan tidak bakal muncul-muncul lagi. 
Padahal sebenarnya dalam kenyatan pemikiran atau naluri menjajah 
itu "embedded" pada manusia utamanya pada pikiran dari kaum 
kolonialis/imprialis diseluruh dunia yang secara kasat mata baru 
saja ditunjukkan oleh Zionis Israel dengan dukungan terang-terangan 
dan tersembunyi dari pikiran kaum  Kolonialis/Imprialis atau mereka-
mereka yang telah terkontaminasi pemikian tsb  menghancur leburkan 
rakyat sipil Palestina secara keji sebagai akibat tuntutan para 
pejuang HAMMAS yang hanya menuntut perlakuan demi kemerdekaan dan 
keadilan seperti yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 dan  telah 
menjadi pedoman bangsa kita sejak lebih dari 63 tahun lalu. Sekali 
lagi saya cuma ingin mengingatkan bangsa ini khususnya para pakar 
atau yang mengaku pakar agar setiap pikiran, analisa  dan arahan 
yang akan kita berikan untuk kemajuan bangsa ini pada era 
GOMBALISASI ma'af salah ucap: GLOBALISASI , jangan sekali-kali 
MENGABAIKAN PEMBUKAAN UUD 1945 kecuali kalau bangsa kita mau 
diarahkan jadi pengekor jalan pikiran globalisasi dari kaum 
Kolonialis dan Imprialis yang telah berhasil meramu pemikiran 
globalisasi dari sisi pandang mereka sendiri tanpa menghiraukan 
pandangan lain sebaik apapun pandangan lain itu.

-- In [email protected], "Agus Hamonangan" 
<agushamonan...@...> wrote:
>
> 
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/01/21/00385881/pilih.caleg.plur
alis.dan.hargai.ham
> 
> 
> Jakarta, Kompas - Masyarakat pemilik suara diingatkan untuk memilih
> calon anggota legislatif dan partai politik yang penuh keberpihakan
> kepada pluralitas dan hak asasi manusia.
> 
> Tanpa itu, wajah lembaga legislatif dan bangsa ini akan semakin
> berorientasi ekonomi sehingga menegasikan begitu saja masalah
> kebangsaan yang mendasar. Implikasi jangka panjangnya, wajah 
intoleran
> terhadap perbedaan agama dan berkeyakinan bisa semakin buruk.
> 
> Hal ini disampaikan Direktur Eksekutif International Centre for 
Islam
> and Pluralism Syafii Anwar pada sesi refleksi awal tahun 
2009 "Merajut
> Ulang Keindonesiaan Kita" di Jakarta, Selasa (20/1). Sesi yang 
dipandu
> Direktur Eksekutif Ma'arif Institute Raja Juli Antoni ini juga
> menghadirkan dosen Pascasarjana STF Driyarkara, B Herry Priyono,
> sebagai pembicara.
> 
> Menurut Syafii, menjelang pemilu keterlibatan masyarakat dibutuhkan
> untuk memunculkan elite politik yang mengakui pluralitas dan
> melindungi hak asasi manusia.
> 
> "Tanpa keberanian memilih seperti ini, sulit untuk merawat 
kebinekaan,
> menjaga toleransi, memperkokoh kebangsaan, dan memaknai Pancasila,"
> ujarnya.
> 
> Tentang kebangsaan Indonesia, menurut Herry, terbentuk tidaknya
> Indonesia sebagai suatu bangsa sangat tergantung dari banyak hal di
> dunia global. Itu sebabnya nasionalisme yang perlu dikembangkan ke
> depan bukan soal mengusir penjajah, tetapi di bawah pimpinan
> pemerintah membuat berbagai kebijakan publik di berbagai bidang, 
baik
> ekonomi maupun agama, dengan langkah selektif terhadap kekuatan
> global. (MAM)
>


Kirim email ke