Oleh Evy Rachmawati
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/04/00541892/babak.baru.riset.sel.punca



Setelah sekitar delapan tahun diboikot secara politik, para ilmuwan di
Amerika Serikat mendapat lampu hijau untuk kembali mengembangkan riset
sel punca embrionik. Meski dibayangi masalah etika, hal ini
menimbulkan harapan akan adanya temuan baru.

Pesatnya perkembangan penelitian sel punca, khususnya embrionik, di AS
mengalami masa suram saat pemerintahan Presiden George Bush. Karena
dinilai tidak etis, Bush melarang pemerintah federal mendanai studi
mengenai sel punca dari embrio manusia.

Namun, era pemboikotan politik terhadap aktivitas riset sel punca,
khususnya embrionik, tidak lama lagi akan berakhir. Dalam kampanyenya,
Presiden Barack Obama telah berjanji untuk mencabut larangan riset dan
pemerintahannya mendukung penelitian sel punca.

Perubahan itu disambut gembira oleh para ilmuwan, termasuk Douglas
Melton dari Universitas Harvard. Ia dan sejumlah ilmuwan lain yang
memilih tetap bertahan di AS di bawah tekanan politik Bush secara
gigih terus mengembangkan riset sel punca meski dibatasi ruang geraknya.

Tragedi menginspirasi

Inspirasi para ilmuwan untuk terus bersemangat mengembangkan riset sel
punca bisa datang dari mana saja, termasuk tragedi. Dalam kasus
Melton, kegigihannya dalam meneliti sel punca embrionik berawal dari
penderitaan anaknya, Sam, saat berusia 6 bulan, yang didiagnosis
terkena diabetes tipe satu.

Penyakit itu tak hanya mengubah kehidupan Sam semasa kanak-kanak,
tetapi juga seluruh anggota keluarganya. Hampir setiap malam, Melton
dan istrinya mengecek kadar gula dalam darah anaknya dan memberi Sam
gula bila ternyata konsentrasinya terlalu rendah.

”Saya berpikir, tidak ada jalan untuk hidup, lalu saya putuskan untuk
tidak hanya pasrah tetapi harus berbuat sesuatu,” kata Melton kepada
Majalah Time.

Sebagai ahli biologi molekuler, Melton terus meneliti sel punca
embrionik dengan dukungan dana dari para alumni Universitas Harvard,
Harvard Stem Cell Institute (HSCI), dan beberapa lembaga swasta
lainnya. Ia juga menghasilkan 70 sel baru dan mendistribusikan 3.000
kopi kepada para ilmuwan di seluruh dunia secara gratis.

Bahkan, pada tahun 2008, Kevin Eggan, kolega dari Melton di HSCI
akhirnya menciptakan sel punca embrionik dari pasien tahun 2008.
Dengan teknologi induced pluripotent stem cells (iPS cells), Melton
dan rekannya berusaha melihat gambaran seluruh sel, tidak hanya sel
punca, yang berpotensi sebagai terapi.

Disetujui

Pada 23 Januari 2009 lalu, Badan Pengawas Makanan dan Obat-obatan
(FDA) akhirnya menyetujui uji klinik terapi sel punca embrionik pada
manusia. Meski otoritas setempat menyatakan hal itu tidak terkait
perubahan konstelasi politik, kenyataannya perubahan kebijakan itu
dilakukan setelah pelantikan Presiden Barack Obama.

Kejelasan mengenai uji klinik terapi sel punca untuk mengatasi nyeri
pada tulang belakang baru-baru ini diumumkan Geron, perusahaan
bioteknologi yang pertama kali mengajukan permohonan kepada FDA untuk
memulai uji klinik itu. Semula, FDA menolak dan meminta lebih banyak data.

Direktur Eksekutif Geron Thomas Okarma menganggap keberatan dari
pemerintahan semasa George W Bush berkuasa terhadap riset sel punca
embrionik tidak berperan dalam penundaan persetujuan riset itu oleh
FDA. Akan tetapi, pihak lain telah menduga persetujuan itu baru akan
diberikan setelah pemerintahan baru mulai bekerja.

”Persetujuan itu terkait perubahan pemerintahan. Kemungkinan
Pemerintahan Bush telah menekan FDA untuk menunda uji coba itu,” kata
Direktur Program Riset Sel Punca California Robert Klein. Persetujuan
FDA itu baru keluar setelah lebih dari 10 tahun lalu sel punca
embrionik pertama kali diisolasi di Universitas Wisconsin.

Sebelumnya, Presiden Obama telah berjanji untuk merevisi kebijakan
Bush yang menolak membiayai riset sel punca embrionik. Meski demikian,
sebagaimana dikutip kantor berita Associated Press, pemerintahan Obama
menyatakan tidak pernah menekan FDA agar memberi izin studi baru itu.

Faktanya, meski proyek sel punca telah memenuhi syarat untuk didanai
pemerintahan Bush, tapi dak ada kucuran dana federal untuk riset
terapi eksperimental tersebut.

Uji coba itu akan melibatkan 8-10 penderita nyeri tulang belakang.
Sel-sel punca embrionik akan diinjeksi ke dalam tulang belakang pada
punggung di lokasi yang sakit 7-14 hari setelah luka diobati. Oleh
karena, ada bukti bahwa terapi itu tidak akan bekerja dengan baik bila
nyeri itu telah terlalu lama terjadi.

Hal itu akan dilakukan di empat sampai tujuh pusat kesehatan di
Amerika Serikat. Pada studi dengan hewan coba yang mendapat satu kali
injeksi, sel-sel akan mengalami proses pematangan dan memperbaiki
kerusakan pada syaraf.

”Studi itu untuk menguji keamanan prosedur ini, tapi tim dokter juga
akan melihat apa ada tanda-tanda perbaikan seperti kembalinya
kemampuan gerakan kaki,” kata Okarma sebagaimana dikutip International
Herald Tribune. Apa pun hasilnya, studi itu akan menandai babak baru
berlanjutnya sejarah riset sel punca embrionik di Amerika Serikat.

Etika

Sejauh ini, sel punca merupakan hasil riset dasar bidang biologi yang
kemudian membawa terobosan besar bidang kedokteran. Sel punca adalah
sel tidak terdiferensiasi yang bisa memperbanyak diri untuk
menghasilkan sel punca lainnya. Berdasarkan asalnya, sel punca
dibedakan atas sel punca embrionik dan sel punca dewasa.

Sel punca embrionik adalah sel tunas yang diisolasi dari bagian inner
cell mass (ICM) blastosis dan bisa berdeferensiasi jadi semua jenis sel.

Adapun sel punca dewasa adalah sel tunas yang diisolasi dari jaringan
dewasa seperti sumsum tulang atau darah, dan dapat memperbanyak diri
tetapi kemampuan diferensiasinya terbatas jadi jenis sel tertentu.

Karena sel-sel itu bisa jadi beragam sel dalam tubuh, secara teoritis
sel punca bisa menyediakan jaringan untuk mengganti sel-sel yang rusak
dalam terapi diabetes, jantung, dan penyakit lain atau dikenal sebagai
terapi regeneratif.

Sel punca dewasa dianggap kurang optimal hasilnya dibanding sel punca
embrionik dalam hal tipe jaringan yang dapat dibentuk. Akan tetapi,
riset sel punca embrionik menimbulkan kontroversi karena embrio harus
dihancurkan bila hendak diambil sel puncanya.

Bila penggunaan blastosis tidak memungkinkan, teknologi yang dapat
membantu penyediaan sel punca embrionik adalah transfer inti sel atau
kloning. Namun, transfer inti sel atau kemampuan menghasilkan embrio
tanpa lewat fertilisasi ini masih menimbulkan kontroversi.

Awal ditemukan

Kekuatan tersembunyi dalam setiap tubuh manusia itu tidak akan
diketahui sampai tahun 1963, ketika peneliti dari Kanada Ernest
McCulloch dan James Till untuk pertama kali membuktikan keberadaan sel
punca di dalam darah.

Dalam uji laboratorium, mencit yang jadi hewan coba dirusak sel-sel
kekebalan tubuh mereka dan diinjeksi sel punca dari sumsum tulang.

Hasilnya, ada pertumbuhan sel pada setiap bagian yang diinjeksi.
Kemudian, tahun 1998 isolasi sel punca embrionik pertama kali
dilakukan James Thomson di Universitas Wisconsin-Madison.

Umur embrionik yang digunakan adalah satu minggu. Tak lama kemudian,
kelompok lain di Universitas John Hopkins juga berhasil mengisolasi
sel punca embrionik dari embrio manusia umur 5-9 minggu.

Pada Oktober 2007, Mario Capecchi, Martin Evans, dan Oliver Smithies
meraih Hadiah Nobel Kedokteran untuk riset mereka mengubah gen-gen
tertentu pada mencit memakai sel punca embrio hewan itu.

Sayangnya sejak tahun 2005, riset bidang sel punca embrionik di AS
tidak lagi dibiayai anggaran federal karena diboikot Presiden George W
Bush yang terpilih lagi tahun 2004. Alasan yang dikemukakan adalah
alasan etika.

Hal ini didukung kalangan Kristen dan Katolik yang fanatik di AS yang
menganggap embrio manusia tidak sepatutnya digunakan untuk eksperimen
dan dihancurkan.

Keputusan itu membuat banyak ilmuwan hengkang dari AS dan pindah ke
Inggris, Singapura dan China di mana pemerintah setempat menerima
aktivitas penelitian mereka.

Para ilmuwan lain yang tetap bertahan di AS kurang mendapat dukungan
dana dari pihak swasta untuk meneliti sel punca embrionik.

Di tengah kontroversi itu, tahun 2004 peneliti Korea Selatan Hwang Woo
Suk mengumumkan telah menghasilkan sel punca embrionik pertama kali
dari orang sehat dengan memakai metode kloning.

Berita ini sempat menggemparkan dunia, tetapi belakangan terbukti hal
itu adalah kebohongan dan diakui Hwang sebagai kesalahan fatal.

Pada November 2007 berita gembira datang dari Jepang saat dua ilmuwan
Jepang, Shinya Yamanaka dan Kazutoshi Takahashi, serta James Thomson
secara terpisah mengumumkan keberhasilan mereka menciptakan aneka
jenis sel somatik dari sel punca hasil pemrograman ulang sel somatik
dari sel-sel kulit manusia.

Temuan ini merupakan terobosan besar dalam terapi regeneratif tanpa
dibebani masalah etik karena tidak memakai sel-sel punca dari
pembiakan embrio. Saat ini, banyak negara seperti Italia dan Swiss
melarang penelitian sel punca embrionik dan kloning pada manusia.

Demi kesembuhan para penderita berbagai penyakit yang selama ini
kehilangan harapan hidup, sejumlah negara di dunia kini berlomba-lomba
mengembangkan uji klinik sel punca.

Tentunya, dalam menjalankan risetnya, peneliti harus mematuhi berbagai
aturan atau batasan yang berlaku secara nasional dan internasional
yang di dalamnya pun terdapat unsur-unsur etika.

 

 

Kirim email ke