Oleh JANSEN H SINAMO
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/07/00324417/kekerasan.bukan.kegemaran.orang.batak



Berita politik terheboh pekan ini tentulah unjuk rasa brutal di
Sumatera Utara, Selasa lalu, yang menewaskan Abdul Azis Angkat, Ketua
DPRD provinsi berpenduduk multietnik itu.

Tak bisa lain satu kesan sisa yang menonjol: Batak itu memang keras.
Di milis Forum Pembaca Kompas, yang beranggotakan hampir 10.000 orang
itu, seorang warganya menulis, ”Sebagai orang yang dibesarkan di Kota
Medan, saya merasa malu. Apalagi kejadian pilu ini terkait pembentukan
Provinsi Tapanuli. Saya sangat malu sebagai suku Batak!”

Orang Batak memang jadi terdakwa dalam insiden ini. Namun, tak banyak
yang tahu, sang korban sebenarnya juga orang Batak, berasal dari
subetnik Pakpak. Marga-marga Pakpak, seperti Angkat, Bintang, Gajah,
Padang, Sinamo, Tumanggor, dan banyak lagi hampir tak dikenal sebagai
marga Batak seperti yang tenar lebih dulu dari rumpun Batak lain,
seperti Sirait, Sihombing, Sembiring, Ginting, Pohan, Panjaitan,
Silalahi, Siahaan, Siregar, Sinaga, atau Saragih.

Perlu ditegaskan, kekerasan bukanlah kegemaran khusus orang Batak.
Bukan pula ciri khasnya. Semua kaum dan suku pernah melakukannya: di
Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara, bahkan di semua
penjuru benua dan pelosok dunia, seperti di istana raja-raja Persia,
kaisar Romawi, prabu Singosariâ€"ingat misalnya hikayat keris Mpu
Gandringâ€" dan sultan-sultan Mataram. Cuma di Antartika tak ada
kekerasan. Manusia, apalagi keraton, tak ada di sana.

Kekerasan tetap digemari

Kekerasan sebagai metode mewujudkan kehendak telah dipraktikkan
manusia sejak purbakala. Meski dianggap buruk kini, harus dijauhi agar
tidak dicela oleh masyarakat beradab, kekerasan memang membawa nikmat
bagi pelaku. Jalan kekerasan terlihat sangat praktis, instan, dan
ekonomis, serta membawa hasil secara efektif. Tak heran Brutus
melakukannya terhadap Caesar di Roma, Ken Arok terhadap Tunggul
Ametung di Tumapel, dan Soeharto di Buru, Aceh, dan Papua. Amerika
melakukannya di Irak dan Afganistan; Israel di Gaza dan Tepi Barat;
serta pendukung bakal Provinsi Tapanuli di Kantor DPRD Sumatera Utara,
Selasa lalu. Bisa diduga, kita masih terus menyaksikan aksi kekerasan
di berbagai panggung kehidupan, dari skala kecil sampai kolosal, oleh
aktor individual maupun satuan resmi nasional.

Persaingan adalah mulanya, konflik kepentingan adalah arenanya, dan
perwujudan kekuasaan adalah cita-cita ultimatnya. Sudah niscaya ada
pihak yang tersisih, kalah, terluka, hilang, atau mati. Namun, korban
dianggap wajar belaka, memang seharusnya demikian, dan baiklah
dilupakan begitu saja.

Pada saat yang sama, pelaku kekerasan, jika berhasil, selain
memperoleh kenikmatan intrinsik yang hebatâ€"perhatikan ekspresi puas
wajah pendemo saat menjebol gerbang, mengobrak-abrik ruang sidang,
atau meninju Azis Angkatâ€"dielu-elukan bak pahlawan, diberi legitimasi,
dihadiahi privilese, serta dikukuhkan posisinya dalam panteon sosial
kelompoknya.

Pada zaman ini, meminjam Thomas L Friedman, dunia sudah datarâ€"ketika
peristiwa kekerasan ditonton lalu didiskusikan lewat televisiâ€"maka
orang pun meniru kekerasan itu. Tidak saja cara dan tekniknya, tetapi
juga nafsu dan motivasinya, sekaligus dan serentak.

Demikianlah etos kekerasan merambah makin luas dan berakar makin dalam
di seluruh dunia. Tinggal menunggu momen ledak yang pas.
Disederhanakan, begitulah keterangan Rene Girard, sejarawan dan filsuf
kondang kelahiran Avignon, Perancis, tentang situasi dan dinamika
kekerasan dalam sejarah kontemporer kita.

Pancaroba demokrasi

Demokrasi sebagai sistem, prinsip, proses, dan prosedur sebenarnya
tidak asing bagi orang Batak sejak zaman prakolonial. Pada zaman Orde
Baru yang sistem politik nasionalnya tidak demokratis, di tingkat
adatnya orang Batak tetap saja bergaya demokratis. Tatkala kesempatan
membentuk Provinsi Tapanuli terbuka lebar sedekade lalu seusai
tumbangnya Orde Baru, antusiasme besar melanda warga elite
eks-Karesidenan Tapanuli itu.

Namun, warga ternyata sudah banyak berubah: semakin kompleks, semakin
sadar kelompok, dan semakin berbeda kepentingan maupun orientasi
politiknya. Ditambah dengan belum matangnya demokrasi Republik di
musim pancaroba reformasi ini, provinsi yang didamba-dambakan tak juga
terbentuk sesudah menghabiskan banyak waktu, tenaga, dan ongkos,
akhirnya melahirkan frustrasi yang berujung amuk massa. Itulah yang
terjadi Selasa, 3 Februari, itu di Medan.

Namun, ini tak bisa diterima. Demokrasi sebagai proses mengadabkan
perilaku negara dan warganya hanya bisa terwujud melalui jalan hukum.
Hukum harus ditegakkan! Siapa pun yang melanggar hukum Selasa lalu
harus diproses secara hukum pula.

Membuka jalan damai

Ketika pada tahun 1980-an film laga Rambo mencuat, berkoinsidensi
dengan populernya lagu-lagu lembut Rinto Harahap, entah dari mana
asalnya, muncullah ungkapan kocak ”tampang Rambo hati Rinto” untuk
menggambarkan dualitas karakter orang Batak. Tampang dan suara Batak
yang keras biasa terlihat di terminal bus, metromini, kantor, termasuk
gereja; tetapi di situ juga mereka tarik suara, memetik gitar, dan
melantunkan kor.

Namun, dualitas ini pun bukan monopoli orang Batak. Semua kaum begitu:
bisa keras, bahkan membunuh secara sadis jika terdesak, tapi juga
memiliki sisi yang lembut, penuh cinta, dan puitis.

Guru-guru dan ajaran-ajaran kebajikan seperti yang berasal dari
Siddharta Gautama, Yesus Kristus, Jalaluddin Rumi, hingga Mahatma
Gandhi, Bunda Teresa, dan Nelson Mandela yang telah mewarnai berbagai
peradaban dan kebudayaan sejak dulu juga memengaruhi masyarakat Batak.
Ini jelas tampak dalam keseniannya, tembang-tembang maupun sastranya,
serta relasi-relasi interpersonalnya.

Jika berkonflik, sama seperti kelompok masyarakat lain, orang Batak
juga mempunyai strategi budaya, perangkat adat, dan instrumen sosial
tersendiri untuk menyelesaikannya. Yang terkenal misalnya sistem
Dalihan Natolu dengan panduan sehimpunan kaidah canggih semisal
”menjaga padi di ladang tanpa bandringan” atau ”menggembalakan kerbau
di padang tanpa pecut”.

Namun, keberhasilan strategi dan aplikasi perangkat dan instrumen di
atas pada akhirnya sangat bergantung pada kualitas pribadi warganya,
keefektifan birokrasi organisasi-organisasinya, serta integritas
prosedur dan mekanisme operasionalnya.

Kini, setelah anarki Medan, saat semua perangkat di atas diragukan
keandalannya, warga Batak sebaiknya kembali berpaling kepada watak
terhalusnya, mengakses kalbu terbaiknya, dan mengizinkan hati cantik
itu, hati Rinto, kembali tampil mengalun dengan tembang merdu berjudul
”Jalan Penuh Damai Menunggumu”.

Horas ma. Njuah-njuah banta karina.

JANSEN H SINAMO Direktur Institut Darma Mahardika; Guru; Penulis buku
Delapan Etos Kerja Profesional, Tinggal di Jakarta

 



Kirim email ke