http://kompas.com/read/xml/2009/02/14/10423162/politik.onani.politisi.narsis.


JAKARTA, SABTU â€" Perilaku politisi menjelang pemilu April mendatang
mulai menunjukkan sifat narsistiknya. Masing-masing politisi, baik
yang senior maupun junior, hanya mementingkan bagaimana menonjolkan
dirinya sendiri.

Demikian dikatakan pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
(LIPI), Hermawan Sulistyo, pada diskusi mingguan bertajuk Fatsoen
Politik Indonesia di Jakarta, Sabtu (14/2).

"Politik kita ini politik onani, di seluruh wilayah kita lihat baliho,
spanduk, hanya memuaskan diri calegnya sendiri. Ini gejala politik
narsis," ujar pria yang akrab disapa Kiki.

Kiki mengatakan, gaya berpolitik para politisi saat ini hanya
ditujukan untuk dirinya sendiri. "Berdasarkan survei di mana-mana, di
atas 80 persen masyarakat tidak tahu siapa calonnya. Jadi bikin
spanduk sendiri, dilihat sendiri dan mungkin yang milih dia sendiri
juga. Ini narcism, memuja diri sendiri," ujarnya.

Kiki juga melihat, adanya perubahan simbol-simbol kultural dari para
caleg, yang menonjolkan hal-hal yang tak berhubungan dengan politik.
"Sekarang yang muncul priyayi-priyayi baru dengan gelar yang berentet.
Padahal, enggak ada hubungan antara gelar dan partai," jelas dia.

Ketua DPP Firman Subagyo tak membantah gejala politik narsis. Ia
melihat, hal ini muncul karena tidak siapnya caleg dan parpol dengan
sistem suara terbanyak. "Karena tidak siap, banyak elite politik di
lapangan yang tidak melihat apa kebutuhan masyarakat. Mereka hanya
mengandalkan baliho, bagaimana membuat yang tidak kenal jadi kenal,"
ujar Firman. (ING)

Inggried Dwi Wedhaswary 

Kirim email ke