Laporan wartawan Inggried Dwi Wedhaswary

http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/02/20/15110149/SBY-JK-Mega.Berlaga..Sultan.Kuda.Hitam



JAKARTA, JUMAT â€" Pernyataan kesiapan Jusuf Kalla menjadi calon
presiden, dipastikan akan mengubah konstelasi kompetisi pada pemilihan
presiden Juli mendatang meskipun Golkar belum menetapkan secara resmi
JK sebagai capresnya. Bagaimana analisis, jika yang maju bertarung
sebagai capres adalah SBY, JK, dan Megawati?

 

Pengamat politik UI Arbi Sanit mengatakan, siapa pun yang bertarung,
kunci kemenangan ada pada siapa sosok pendampingnya. Menurut Arbi,
"kuda hitam" berada di Sri Sultan HB X.

 

"Tergantung siapa partnership-nya. Kalau SBY dengan Sri Mulyani, dia
kurang politis, lebih kental teknokratnya. Siapa yang dapat wakilnya
Sultan, akan menang. Di situ (Sultan) kuncinya. Sultan 'kuda hitam'
wapres," ujar Arbi, di Gedung DPR, Jumat (20/2).

 

Sebagai Raja Jawa, Arbi memandang bahwa Sultan bisa meningkatkan
elektabilitas pasangan pada pilpres mendatang. Sebab, tak hanya bisa
meraih suara pemilih di Jawa, Sultan juga akan mampu menarik orang
Jawa di luar Pulau Jawa. "Selain suara Golkar," lanjut dia.

 

Bagaimana dengan keinginan kuat Sultan menjadi presiden? Arbi
mengatakan, kemungkinan besar Sultan akan berubah pikiran dan menerima
tawaran menjadi cawapres. Dengan usianya saat ini, menurut Arbi, tahun
2009 merupakan pintu masuk terbaik bagi Sultan.

 

"Kalau tunggu lima tahun lagi, dia (Sultan) sudah tua. Secara rasional
dia bisa bargaining (dengan SBY, JK, dan Mega). Tapi dengan SBY dia
akan lebih mulus," ujarnya.

 

Bargaining yang dimaksud, Sultan bisa bernegosiasi dengan pasangannya,
untuk diberikan kesempatan menjadi RI 1. Dengan SBY, jalan Sultan akan
lebih mulus karena pada tahun 2014 SBY tidak akan bisa maju kembali.
Sementara dengan JK dan Mega, kesempatannya lebih kecil karena
berpeluang bersaing kembali lima tahun mendatang.


Kirim email ke