Menyoal kemelut pemekaran provinsi Sumatera Utara memang tak terlepas
dari ketimpangan pembangunan dan euforia otonomi daerah.

Padahal, rumusan otonomi daerah yg sesungguhnya tidaklah harus dibuat
ribet! Prinsipnya ialah bagaimana mengelola belanja pemerintah daerah
untuk mewujudkan perbaikan pelayanan publik & pemberdayaan masyarakat;
bukan untuk menambah pundi-pundi pribadi/golongan. 
Contoh sukses sementaranya? Penerapan 'e-government' ala Kota Sragen,
ada juga Kota Tarakan,dll.

Insiden demonstrasi pembentukan Provinsi Tapanuli memang memalukan &
memilukan. Ya, Tapanuli memang satu-satunya keresidenan (di Sumatera)
yang tidak diubah statusnya menjadi provinsi. Ya, setiap orang berhak
merasakan euforia otonomi daerah.

Namun, fakta tak terbantahkan ialah pembentukan Provinsi Tapanuli
diselimuti penolakan dari Kabupaten Tapanuli Selatan! Sungguh ironis,
ingin membentuk suatu provinsi bernama Tapanuli, tapi salah satu
kabupaten yg masih menyandang nama Tapanuli menolak!

Bila menilik lebih jauh, pada era otonomi daerah, keinginan memisahkan
diri lebih kuat daripada keinginan bersatu & menggalang integrasi! 

Salam,

Patrick Hutapea

--- In [email protected], iwan piliang
<iwan.pili...@...> wrote:
>
> Hepeng Mangatur Nagaraon, Pah-Poh Kehidupan
>    
>    
>   Narasi Perjalanan ke Pinarik, Sumut, dan rekonstruksi kematian
Azis Angkat, Ketua DPRD
>    
>    
>   EOR-EOR, sejenis kumbang hijau yang suka menempel di batang-batang
kayu - - di daerah lain disebut uwir-uwir - -  terus beruir di siang
di desa Pinarik, Tarsigoppulon, Dolog Sigoppulon, Kabupaten Padang
Lawas Utara, Sumatera Utara itu.   Dari kediaman Raja Junjungan Rambe,
yang berdekatan dengan lapangan di sebelah  SD Negeri  100520 di  desa
itu, terdengar lamat-lamat suara seorang guru, Ibu Sinaga, sedang
memberikan bimbingan belajar  kepada 9 anak kelas 6 SD.  Kotek ayam
penduduk, teriakan soang berleher panjang berlalu lalang,  meramaikan
kampung di siang di  pukul 14 di Selasa, 17 Februari 2009 itu.
>    
>   Desa Pinarik, walaupun masuk ke wilayah kabupaten pemekaran baru,
lokasinya  lebih mudah dicapai naik sepeda motor  - - populer disebut
kereta di sana - - satu setengah jam saja dari kota Rantau Prapat, 
>    
>   Seorang bapak tua berkepala botak, jalannya agak bungkuk,
menyalami Patuan. Saya tak paham isi percakapan. Saya diperperkenal
Patuan sebagai wartawan. Bapak tua itu rupanya  berkata-kata dalam
bahasa Batak. Suara baritonnya meninggi.
>    
>   "Oh, orang yang kerjanya cari-cari salah orang lain."
>    
>   "Gajah di pelupuk mata tidak tampak, tungau di seberang lautan
terlihat."
>    
>   Begitu kalimat Patuan menterjemahkan. 
>    
>   Hadirin sekitar  tujuh orang di lepau itu tertawa mendengar sosok
yang dituakan itu. 
>    
>   Saya ikutan cengengesan. 
>    
>   Memperolok saya  rupanya. Tidak apalah, perut sudah kenyang dengan
lemang. Saya lebih terkesima, cerita orang di lepau itu, bahwa 20
tahun lalu jika hendak ke Rantau Prapat, mereka berjalan kaki 12 jam.
Pulang ke Pinarik, 12 jam  lagi. Sebuah perjalanan perjuangan - -
bukan partai yang perjuangan.
>    
>   Seharusnya kini kian baik, Pinarik sudah  masuk ke daerah
pemekaran, bukankah anggaran membangun sekolah kian bertambah di
Kabupaten Padang Lawas Utara, yang baru dimekarkan?
>    
>   Kenyataan berbeda, di luar perkiraan.
>    
>   Keadaan itu bertolak belakang dengan fasilitas yang diterima
Bupati berikut jajaran kepala dinas yang ada.

>    
>   Tragis memang!
>    
>   Reformasi 10 tahun ini, tidak pernah menyinggung perihal mendasar
itu.  Penguasa dan anggota dewan tidak pernah membahas perihal ini
secara khusus.  Juga oleh kalangan yang sebanarnya bisa menjadikan hal
mendasar ini sebagi isu program mereka. Bahkan kondisi sekolah yang
memprihatinkan di Pinarik, seakan tidak terjamah. Bayangkan, seorang
anak kelas satu SD yang secara psikologi pendidikan cenderung looking
up, harus mendengar pelajaran anak kelas 2 di dalam satu ruangan,  di
alam Indonesia merdeka 64 tahun. 
>    
>   Anehnya, poster dan baliho caleg partai-partai masuk pula  ke
daerah ini. Namun tak satupun dari mereka yang datang, memberikan
perhatian soal kondisi riil di lapangan, kondisi nyata yang dihadapi
masyarakat kebanyakan. Maka tidak berlebihan bila obrolan di warung
kopi di jalanan, saya simak lebih  kepada  membicarakan uang "saku"
caleg dan partai yang bakal mereka terima. 
>    
>   "Urusan memilih nanti, ya kami tak akan dosa, toh kini ada solusi,
tinggal mencontreng. Nah siapa yang kasih uang kami contreng. Jadi
banyak yang kami contreng. Kami tak dosa," kata seorang pria. Ia 
membuka bengkel sepeda motor,  saya temui di saat balik ke arah Rantau
Prapat di petang merembang.
>    
>   "Toh kalau ditanya sudah dicontreng, buktinya sudah. Semua bisa 
kami contreng!"
>    
>   Itulah kenyataan di lapangan. 
>    
>   Ke mana kawan-kawan wartawan di Sumut, tidakkah mereka mau
mereportase? Sebuah daerah yang dapat dicapai dengan 6 jam berkereta
api plus bermotor satu setengah jam saja, sudah demikian adanya. 
>    
>   Saya tanyakan kepada Patuan, apakah di segenap desa di banyak
kabupaten di Sumut kini, khususnya di jejeran Bukit Barisan itu
demikian adanya?
>    
>   "Begitulah bang!" 
>    
>   Seorang wartawan Medan yang sudah pindah ke Jakarta sejak dua
tahun lalu, Didik L. Pambudi, ketika mendengar  cerita saya
membenarkan bahwa semangat reportase jurnalis  kini seakan pudar.
>    
>   Animo jurnalis berlomba-lomba menempati pos di kantor gubernur,
kantor DPRD, mangkal di airport, sebagai tempat lalu lintas pejabat,
sebagai lahan mangkal dianggap seksi. Yang disebut berita, misalnya,
adalah  kutipan pejabat yang baru mendarat di Medan. Itulah bahan,
misalnya.
>    
>   Padahal di saat trias politika tidak berbuat meningkatkan mutu
peradaban, maka tumpuan harapan berikutnya,  yakni media,  bisa dibuat
 sebagai kekuatan keempat, berguna berdemokrasi. Celakanya media di
Sumut, kini, terindikasi dimiliki oleh kelompok tertentu, dan berisi
muatan untuk kepentingan tertentu pula.
>    
>   Ada seorang pengusaha, karena memiliki uang  membuat harian.
Harian ini terindikasi digunakan antara lain untuk melakukan
bergaining usaha dengan Pemda. Jika pun ada koran yang sudah
bersejarah dan berwibawa di kota Medan, dia tak menghindarkan diri
dari memisahkan tegas antara isi redaksi dan iklan, tidak ada satu pun
memberikan garis pembatas secara real, yang dikenal fire wall antara
isi redaksi dan iklan - - langkah yang belakangan dilakukan KOMPAS,
memberi garis halus pembatas, secara fisik.
>    
>   Bila kelompok tertentu tidak memiliki media, seperti koran, maka 
pundi-pundi uang, menggapai tangan wartawan, melalui amplop yang sudah
seakan biasa merajalela. Klimaksnya, berita koran Sinar Indonesia Baru
(SIB), yang kini sedang disediliki oleh kepolisian Medan, terindikasi
 memprovokasi pembentukan Propinsi Tapanuli (Protap), menggerakkan
demo. Demo yang  menewaskan Azis Angkat, Ketua DPRD Sumut, 3 Februari
2009 lalu. 
>    
>   Peristiwa itu  memang layak disayangkan, apalagi jika tangan media
 terindikasi turut bermain-main api. Dalam keadaan demikian, acuan
buku yang ditulis oleh Bill Kovach dan Tom Rosentiel, The Element of
Jounalism, kini seakan menjadi kewajiban dipelajari oleh kalangan
wartawan, Isinya; kewajiban jurnalisme pada pencarian kebenaran,
loyalitas utama kepada warga, disiplin verifikasi, independensi dari
objek liputan, pemantau independen kekuasaan, membuka forum bagi
publik untuk saling kritik dan menemukan kompromi, membuat hal penting
menjadi menarik dan relevan, berita komprehensif dan proporsional, 
mendengarkan hati nurani personal. 
>    
>   Belakangan kedua penulis buku ini memberikan tambahan elemen
ke-10, yakni mengibarkan citizen reporter di dunia online, sebagai
upaya alternatif pengimbang  penulisan media mainstream dalam bentuk blog.
>    
>   Di media mainstream di Medan, kini terindikasi pula, misalnya
bupati, tampil dalam setiap liputan redaksi. Begitu saya verifikasi,
rupanya  perihal itu berkorelasi dengan setoran sang bupati ke media
bersangkutan. Dalam keadaan demikian bagaimana media Medan berpihak
bagi warganya. Dan kondisi ini, sejatinya, bukan saja didominasi di
daerah Sumut, sebuah fenomena di banyak wilayah negeri ini kini terjadi. 
>    
>   Di keadan media demikian untuk jangka panjang, yang dirugikan
adalah ranah kehidupan secara keseluruhan, tanpa terkecuali, mulai
pemodal, termasuk jurnalis, terlebih masyarakat. Untuk jangka pendek,
bisa jadi kalangan tertentu yang "memainkan" media diuntungkan. 
Karenanya, Bill Kovach di Washington DC, 23 Oktober 2008 lalu, memang
mengharapkan tumbuhnya citizen reporter, khsusnya blogger profesional,
sebagai penyeimbang  mainstream.
>    
>   DALAM kerangka mencoba belajar  menjadi blogger yang memenuhi
elemen jurnalisme itu, saya menemui Rambe Kamarulzaman,  kakak sepupu
 Kepala Desa Pinarik. Ia anggota DPR komisi VI, 2004-2009, dari Partai
Golkar. Rambe pernah menjabat sebagai Ketua Angakatan Muda Pembaruan
Golkar (AMPG), kini sedang berusaha maju menjadi Calon Anggota DPD,
dari Sumut. Ia dekat dengan Azis Angkat (Alm), Ketua DPRD Sumut, yang
juga  Ketua Fraksi Golkar Sumut itu.
>    
>   Ia memutuskan beralih ke DPD, bercita-cita lebih memfungsikan
lembaga itu. "Seharusnya DPD itu, orang-orangnya banyak mangkal di
daerah. Dan di setiap propinsi ada perwakilannya, di mana di dalam
kantor ada perwakilan masing-masing kabupaten. Sehingga segenap
permasalahn daerah dapat ditampung dan difasilitasi DPD," tuturnya.
>    
>   Saya menemui Rambe di kediamannya di bilangan Jl. Selamat, tidak
jauh dari Simpang Limun, Medan. Wajahnya tenang, bicara seakan diatur.
Ia  mengenang dialog di telepon terakhir kalinya,  2 Februari 2009,
pukul 22.30,  dengan Azis Angkat dari rumahnya di Jagakarsa, Jakarta
Selatan.
>    
>   "Cukup lama saya  berbicara di telepon dengan almathum. Termasuk
menyampaikan esoknya saya ke Medan dan berencana bertemu membicarakan
kegiatan bersama sosialisasi program ke lapangan ke daerah-daerah,"
tuturnya.
>    
>   Sekilas Rambe menangkap kesan, bahwa Azis mengeluh bahwa dirinya
seakan dipojokkan, dalam pembetukan Protap. Apalagi Gubernur Sumut,
pada 26 September 2008 lalu, sudah pula mengirim  surat ke Mendagri
akan persetujuannya terhadap pembentukan Propinsi  Tapanuli (Protap),
sementara perihal itu belum melalui pengesahan sidang pleno DPRD Sumut.
>    
>   Siangnya sesuai  rencana, Rambe pada 3 Februari itu berangkat dari
Jakarta  naik Garuda ke Medan. Mendarat di Polonia sekitar pukul 14. 
Supir yang sudah dianggapnya kerabat kerja itu,  Yoppy Manuputty, baru
saja membukakan pintu Kijang Inova Silvernya.
>    
>   "Saya lalu membuka hand phone, hendak menelepon Azis Angkat."
>    
>   Sebaliknya, telepon genggam Rambe keburu berbunyi.
>    
>   Di seberang bukan Azis. Suara lain, sosok kepala  perwakilan Pemda
Sumut di Jakarta. Ia mengabarkan, bahwa Azis Angkat baru saja
berpulang ke pangkuan Illahi.
>    
>   Ajal  di tangan Tuhan. 
>
   SELASA petang di jalan Hindu, pusat kota Medan. Oleh Aulia Andri,
jurnalis yang juga dosen di Universitas Negeri Medan (Unimed), saya
diperkenalkan kepada Irsan Mulyadi, wartawan  Antarasumut.com. kantor
berita Antara  versi online. Foto Irsan-lah yang menjadi headline foto
koran Kompas, Jakarta,  pada 4 Februari 2009. Di fotonya tampak
kerumunan desakan massa yang menghalangi Azis Angkat turun dari tangga
kantor DPRD Sumut. Foto yang diabadikan kamera digital pocket itu,
salah satu mencatat sejarah.
>    
>   Ketika saya temui, Irsan bercelana jeans dan ber-t-shirt. Pria
kelahiran 1984  bertubuh kecil itu memperlihatkan kepada saya
rangkaian foto koleksinya tentang demo yang terjadi pada  3 Februari
2009 itu. 
>    
>   Foto-fotonya berbicara.
>    
>   Pukul 9.20 Irsan sudah tancap dengan sepeda motor Revo-nya ke
DPRD, sesuai dengan pesan yang diterimanya dari sesama wartawan, bahwa
akan ada demo. Pagi itu ia mendapati kantor DPRD masih lengang. 
>    
>   "Hanya baru terlihat tujuh angkot," ujar Irsan.
>    
>   "Setelah duduk-duduk sekitar sepuluh  menit saya mendengar suara
pendemo datang dari arah lapangan."
>    
>   Di barisan pendemo itu Irsan melihat sebuah mobil pick up membawa
pengeras suara, berikut keyboard. Tampak pula seorang penyanyi
melantunkan lagu-lagu Batak. Seorang pria berbadan tinggi, mengenakan
ulos bertelanjang dada  mengenakan songkok macam yang dipakai pahlawan
Sisingamangaraja XII.  Di barisan belakang, ada pula rombongan ibu-ibu
berbaju kurung berjilbab.
>    
>   Rombongan ini mendesak masuk. Terjadi adegan dorong-dorongan.
Aparat kemanan kantor DPRD tidak bisa menghindari desakan massa. Kaca
dinding pecah.  "Tak lama kemudian dari bawah tangga, dua peti mati
datang digotong ke dalam oleh pendemo. Pendemo berhasil masuk ke dalam
ruang sidang," tutur Irsan.
>    
>   Dalam verifikasi saya, peti mati itu disewa oleh demonstran, dua
buah,  seharga Rp 200 ribu. Masing-masing peti jati berukiran putih  
itu berharga Rp 4 juta. Dalam sejarah hidup, mengamati foto Irsan,
baru itulah saya melihat demo, menggunakan peti mati asli. Biasanya di
Jakarta, demonstran membawa keranda yang dibuat dari kertas siraman
cat saja. Bahkan ditemukan pula spanduk yang mengatakan cuma dua
pilihan: Protab atau mati. Menurut kepercayaan Batak Toba,
membawa-bawa peti mati yang bukan untuk keperluannya adalah pamali.
>    
>   Melihat demo mulai  anarkis, Irsan sempat kembali ke parkir
mengamankan motornya yang baru saja dua bulan dibeli.  Ketika dia
masuk kembali ke ruang sidang, ada teriakan bahwa Protap mesti jadi.
>    
>   "Lihat bukan saja orang Batak mendukung, tetapi ibu-ibu berjilbab
ini juga mendukung Protab. Ini tak ada hubunganya dengan SARA, Protab
mutlak mesti disahkan."
>    
>   Ada pula yang berteriak, "Semua pintu jangan ada yang bisa dibuka."
>    
>   "Rapat dengan Azis Angkat dimulai  tiga puluh menit lagi."
>    
>   Peti mati sudah diletakkan dimeja dekat pimpinan sidang.  
>    
>   Saat itu pimpinan sidang, Azis Angkat sudah diamankan ke ruangan
lain yang lebih kecil. 
>    
>   "Rupanya, saya perhatikan ia sudah dibawa turun ke luar. Polisi
yang mengawal di bagian pintu kiri sempat dilempar gelas, dilempar
peti mati. Jalan bagi pendemo menjadi terbuka mengejar Azis Angkat."
>    
>   Dari sekuen foto Irsan, saya menyimak dengan jelas, bahwa  sosok
Azis Angkat menjadi bulan-bulanan. Bahkan  dua foto yang saya minta
dan bawa dari koleksi Irsan, memperlihatkan baju putih hingga kaus
dalam Azis ditarik. Lengan bajunya dihela tiga orang. Keadaan memang
memprihatinkan.
>    
>   Ada pula  foto Irsan di saat Aziz Angkat tersandar ke dinding
dekat Bank Mandiri, hanya dua orang saja yang melindunginya. Sementara
di depannya, banyak sekali mahasiswa berjaket Kuning berbahu hitam - -
jaket yang biasa dipakai  Mahasiswa Universitas Sisingamangraja. Di
foto yang bicara, memang terlihat jelas pengamanan anggota dewan dari
pihak kepolisian tampak kurang. 
>    
>   Dalam keadaan lemas, Azis dibawa ke rumah sakit. Nyawanya tak
tertolong.
>    
>    
>   SELAMA  di Medan, saya mengamati seluruh liputan media.  Sabtu, 14
Februari 2009  di saat di sebuah warnet di bilangan Jl. Gajahmada saya
menyimak Harian Global: Gubernur mengaku keliru menandatangani
persetujuan pembentukan Provinsi Tapanuli. Namun menurutnya tidak ada
alasan untuk tidak meneken surat itu karena sudah melalui stafnya.
> 
> Kesalahan itu diakui Syamsul Arifin kepada wartawan Jumat, 13
Feruari 2009 sore, usai melakukan pertemuan tertutup dengan Tim
Pencari Fakta (TPF) Tragedi 3 Februari DPRDSU terkait keluarnya SK
Gubsu No.130/3422.K tertanggal 26 September 2008 tentang persetujuan
pembentukan Propinsi Tapanuli, yang ditandatangani tanpa sepengetahuan
DPRD.
> 
> Surat itu berisikan persetujuannya tentang pembentukan Protap,
pemberian dana bantuan, penyelenggaraan pemerintahan, penetapan calon
lokasi ibukota Protap. 
>    
>   Menurut Syamsul, sebelum ditandatanganinya, surat tersebut sudah
diparaf oleh pejabat di bawahnya. Pejabat yang memaraf ini antara lain
Kepala Biro Otonomi Daerah, Bukit Tambunan, Kepala Biro Hukum Ferlin
Nainggolan, Asisten Tata Pemerintahan Hasiholan Silaen dan Sekretaris
Daerah RE Nainggolan. 
>   Syamsul tampaknya lupa, bahwa perihal mengesahkan sebuah daerah
pemekaran di wilayah sebuah propinsi, harus melalui wakil rakyat di
DPRD. Di sinilah, blunder pertama terjadi. Blunder kedua, tak
dipungkiri konten muatan harian Sinar Indonesia Baru (SIB), 
terindikasi provokatif mendukung Protab, dan kini beberapa pengelola
harian itu sudah ditetapkan  sebagai tersangka, dari 70 orang
tersangka yang sudah mendekam  di Poltabes Medan.  Dan blunder ketiga,
ya,  jelaslah urusan demo yang anarkis, sebagaimana disaksikan
wartawan antarasumut.com, yang dipaparkan Irsan di atas.
>    
>   Sebaliknya kini, ada kalangan yang mendesak agar harian SIB
ditutup. Langkah itu juga tidak bijaksana, karena sesunguhnyya harian
itu punya pembaca, terutama kalangan  penganut kristen HKBP. 
>    
>   Ada pula yang luput dari perhatian media di pusat. Menurut Aulia
Andri, kordinator antarasumut.com, sehari sebelum demo Protap, terjadi
pula demo besar dan damai pembentukan Propinsi Sumatera Tenggara, ke
dalam rencana Sumatera Tenggara itu, diikuti pula Kabupaten yang
semula berkenan masuk ke Protap.  Demo ini konon, menyulut semangat
pihak pendukung Protap melakukan demo lagi. "Izin demo Protap, baru
diurus di kepolisian, petang, sehari sebelumnya," ujar Aulia Andri.
>    
>   Akhirnya, begitulah  adanya. Jika media tidak menerapkan elemen
jurnalisme sebagaimana dipaparkan Bill Kovach dan Tom Rosentiel, 
keberpihakan media menjadi sempit. Dan jurnalis yang tak mengemban 
elemen kedua  setidaknya, hanya berkutat di ranah menggadang  corong,
cenderung menjadi alat,  tidak meningkatkan mutu kehidupan. 
>    
>   Akan selamanyakah kita berada di perangkap hepeng mangatur
nagaraon? Uang mengatur segalanya? Apalagi pemekaran wilayah yang di
Indonesia kini terjadi  tidak menjamin sebuah wilayah pemekaran
memberikan kesejahteraan bagi warga. Logika mekar lalu sejahtera,
layak dipertanyakan.
>    
>   Itu juga yang saya lihat di daerah pemekaran macam di Kalimantan
Tengah.  Yang ada hanyalah penambahan pejabat baru yang bermobil bagus
hilir mudik. Rumah dinasnya singgasana.  Entah ke mana Indonesia baru
yang kita gadang-gadang. Sialnya di keseluruhan lini, media, pers,
jurnalis, kini terindikasi menjadi bagian: corong kekuasaan dan uang!*** 
>    
>   Iwan Piliang, Literary Citizen Reporter, presstalk.info



Kirim email ke