Oleh Lusiana Indriasari

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/22/0135037/repotnya.mengajar.anak.membaca



Sejak bulan Desember tahun lalu, sekolah dasar swasta mulai menerima
murid baru. Dengan proses seleksi yang ketat, anak taman kanak-kanak
yang akan masuk sekolah dasar dituntut sudah lancar membaca, menulis,
dan berhitung.

Ketentuan yang mengharuskan anak taman kanak-kanak (TK) bisa membaca,
menulis, dan berhitung (calistung) membuat orangtua tergopoh
mempersiapkan anak-anak mereka. Mereka tak segan-segan "memaksa"
anaknya belajar calistung.

Kepada anak-anak umur 5-6 tahun yang masih perlu mengembangkan
kecerdasan sosialnya, para orangtua tersebut mulai rutin menerapkan
jam belajar di rumah. Ada juga yang membawa anak-anaknya ke tempat les
calistung atau menyekolahkan anak balitanya lebih awal agar bisa
segera mengenal huruf dan angka.

Fauzi (38), misalnya, cemas luar biasa ketika waktu untuk tes seleksi
di sebuah sekolah dasar swasta di Tangerang tinggal satu bulan lagi,
sementara anak laki- lakinya, Pramoda (6), belum begitu lancar membaca.

Ayah dua anak itu lalu memasukkan Pramoda ke tempat les khusus
calistung. Setiap hari, Pramoda mendapat tambahan jam belajar selama
satu setengah jam, dari hari Senin sampai Jumat.

Oleh Fauzi, les itu dianggap perlu meski Pramoda sudah sekolah TK dari
pukul 08.00-11.30. Baru beberapa hari ikut les, Pramoda mogok. "Kalau
tidak les, nanti dia tidak bisa masuk SD," kata Fauzi yang menentang
gagasan istrinya untuk mengajar sendiri anak mereka bila Pramoda tidak
diterima di SD mana pun.

Fauzi dan istrinya memilih sekolah swasta tersebut karena dianggap
berkualitas dan dekat dengan rumah. Sekolah negeri di dekat rumah
tidak dilirik karena mereka meragukan kualitasnya. Di lingkungan
tempat tinggal Fauzi, sekolah swasta lain juga menerapkan seleksi
calistung dengan tingkat kesulitan berbeda-beda.

Waktu yang dimiliki orangtua mengajari anak membaca, menulis, dan
berhitung semakin sempit. Meski tahun ajaran baru jatuh pada Juni
nanti, sebagian SD swasta sudah membuka pendaftaran lebih awal.

SD Pembangunan Jaya di Bintaro, Tangerang, misalnya, sudah membuka
pendaftaran dan mengadakan tes sejak Desember 2008.

Winny Rachmawaty (40), warga Pondok Karya, Tangerang, hanya punya
waktu enam bulan untuk menyiapkan anaknya, Kean (6), agar bisa
calistung dan ikut seleksi masuk SD Pembangunan Jaya. "Kean tidak
betah duduk lama-lama, jadi saya mengajari membaca menulis hanya lima
menit setiap hari," kata Winny.

Standar tinggi

Otonomi sekolah yang memungkinkan sekolah membuat kurikulum sendiri
mendorong sekolah berlomba-lomba menetapkan standar kompetensi yang
tinggi terhadap murid-muridnya. Oleh karena standarnya tinggi, maka
tes seleksi juga dibuat lebih sulit.

Menurut psikolog perkembangan anak, Seto Mulyadi, mengapa murid yang
diterima di kelas I SD diharuskan sudah bisa calistung sejak TK agar
di SD anak sudah bisa dijejali materi pelajaran yang lebih sulit lagi.

"Materi pelajaran yang sulit biasanya diberikan sekolah-sekolah
favorit," kata Seto.

Andri (35) punya pengalaman buruk memasukkan anaknya, Kevin (10), ke
SD swasta di Cirebon, Jawa Tengah. Ketika berumur enam tahun dan
bersekolah di TK dari yayasan yang sama, juga di Cirebon, Kevin belum
bisa membaca, apalagi menulis dan berhitung. Kevin bisa diterima masuk
SD karena kedua sekolah itu masih satu yayasan.

Meski bisa masuk SD, Kevin keteteran. Dia sama sekali tidak bisa
mengikuti pelajaran yang diberikan guru karena di SD tersebut sama
sekali tidak ada pengulangan untuk pelajaran membaca, menulis, dan
berhitung.

Ketika Kevin baru bisa membaca kata dengan dua suku kata, SD tersebut
sudah memberikan soal yang jawabannya harus ditulis sendiri dengan
kalimat panjang. Hasilnya, setiap kali ulangan, nilai Kevin selalu jelek.

"Anakku stres karena setiap kali ulangan selalu tidak bisa membaca
soal," kata Andri. Menurut Andri, selama satu tahun Kevin ketinggalan
pelajaran. Setiap kali mau ada ulangan, Kevin selalu menangis bila
diajak belajar.

Seperti kebanyakan orangtua, Andri tidak punya keberanian menunda
anaknya bersekolah di SD. Dengan alasan malu kalau anaknya dianggap
bodoh atau ketinggalan dibandingkan anak lain, Andri hanya bisa
memaksa anaknya belajar calistung.

Kirim email ke