Sungguh tepat Dr. Ninok Leksono membuka tulisannya dengan sebuah quotation dari 
PM Jawaharlal Nehru. Meskipun berlatar belakang lawyer, Nehru mengamini visi 
seorang menak Parsi, Sir Ardeshir Dalal, anggota Majelis Eksekutif Viceroy, 
sebelum India merdeka. Nasehat Sir Ardeshir Dalal begini: "Kemakmuran India di 
masa merdeka nanti menjadi kenyataan bila India kuat dalam bidang Iptek, karena 
Iptek lebih penting daripada modal uang. Maka India harus punya: (1) Sekolah 
tinggi teknik kelas dunia; dan (2) Lembaga riset kelas dunia. Maka beliau 
mengusulkan pembentukan Council of Scientific Industrial Research yang tentunya 
dilengkapi dengan berbagai lab dan untuk mengisinya dengan SDM memadai, dia 
melakukan pendekatan ke pemerintah AS untuk memberikan beasiswa kepada ratusan 
ilmuwan dan insinyur India untuk melanjutkan studi PhD di MIT dll. Payungnya 
sudah ada, yaitu TCM (Technology Cooperation Mission). Tergantung pada beasiswa 
luar
 negeri saja tentu tidak mungkin. Itu makanya lahir gagasan mendirikan IIT 
(Indian Institute of Technology), mula-mula di 5 kota, sekarang ada di 7 kota 
termasuk Bombay (Mumbai) dan Madras (Chennai). Jelas India dari awal sudah 
punya cetak biru untuk menjadi kekuatan Asia, sekarang setelah China. Dari awal 
India sudah punya industri baja, salah satu pangkal industrialisasi. Di akhir 
abad ke-20, India beranjak ke knowledge economy: Wipro-Infosys-TCS 3 serangkai 
yang omzetnya tahun lalu diatas satu milyard dollar dan diperdagangkan di 
Nasdaq (NY). Meskipun terkendala, tahun ini mobil Tata Nano yang harganya 
sekitar Rp 30 juta akan tersedia di show room.
 


Mengapa India tak kekurangan SDM Iptek? Selain karena visi kenegarawanan Sir 
Adeshir Dalal dan PM Nehru sehingga India mencetak 300,000 insinyur baru tiap 
tahun, juga didukung nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Lho kok nilai 
masyarakat? Dalam buku "The Ignited", Presiden Dr. Abdul Kalam yang gemar tatap 
muika dengan anak sekolah, menulis "Dari sekian ribu anak sekolah di seluruh 
penjuru India yang saya tanyai tentang cita-citanya, sebagian besar mengatakan 
ingin menjadi seperti saya (Bapak Roket India) dan insinyur. Menyusul dokter 
dan guru.  Tak ada satupun yang ingin jadi birokrat dan politisi".  Jangan 
heran di India lebih susah mencari fakultas ilmu sosial daripada Technological 
Colleges.

Mungkin Anda menyergah saya: Lho India sedemikian maju, kenapa di sana banyak 
orang sangat miskin. Saya balik, apa lagi kalau tidak banyak orang pintar, 
makin miskin lagi. Yah, India baru membuka diri ekonominya tahun 1991 di bawah 
PM Rajiv Gandhi, pelopor pembaharuan ekonomi adalah menteri perekonomian 
Manmohan Singh (sekarang PM). Setelah tahun 1991, membekaklah 'middfle class' 
India. Ingin tahu besarnya middle class    Ondia? 300 juta!!!

Salam,
RM
  

--- On Wed, 25/2/09, Agus Hamonangan <[email protected]> wrote:

From: Agus Hamonangan <[email protected]>
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Iptek, Politik, dan Politisi
To: [email protected]
Date: Wednesday, 25 February, 2009, 9:24 AM






Oleh NINOK LEKSONO
http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2009/02/25/ 00141440/ iptek.politik. 
dan.politisi


















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke