Oleh M Said Marsaoly
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/28/00475924/kekuatan.yang.harus.tunduk.pada.akal



Dari mana sebenarnya kebenaran bersumber? Dari kenyataan atau dari
satu dunia di atasnya? Benarkah imajinasi menjadi sumber dasarnya?
Lalu di mana akal, di mana pengetahuan? Benarkah ”imajinasi lebih
penting dari pengetahuan”?

Ruang imajinatif memang telah menjadi kamar tersendiri dalam rumah
besar bernama pengetahuan. Baik rumah yang berfondasi indera maupun
yang berdasar rasio. Seluruhnya menerima imajinasi sebagai anak
kandung yang amat disayangi bahkan selalu dipuji dan diagungkan.
Namun, sekali lagi, benarkah karena itu imajinasi lebih penting dari
pengetahuan?

Tulisan ini memang tergelitik oleh tulisan lain di rubrik ini, dari
Bagus Takwin (Kompas, 6/12/2008) yang meminjam ungkapan Einstein,
”imajinasi lebih penting dari pengetahuan”. Tulisan yang seakan telah
merepresentasikan teori masyhur Einstein, E=mc². Bahwa, menurut
Takwin, imajinasilah yang membawa Einstein pada pemahaman tentang
relativisme gerak. Kita akan periksa ini.

Tempat istimewa

Imajinasi memang telah mendapat tempat yang istimewa dalam
kesusastraan dan seni. Namun meletakkan imajinasi sebagai instrumen
memperbarui kebenaran adalah hal yang (memiliki konsekuensi)
tersendiri. Dari mana sebenarnya asal kebenaran? Dengan instrumen apa
manusia mengenali kebenaran? Dan apakah kebenaran mengalami perubahan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut telah menyedot perhatian berbagai
kalangan dari dulu hingga kini dan ”kebenaran” tinggal menjadi misteri
filsafat hingga saat ini. Hal itu akan semakin kompleks bahkan khaotis
bila pengetahuan manusia tidak mampu membedakan antara konsepsi dan
afirmasi (gagasan dan penilaian). Dalam filsafat Islam, keduanya
dikenal dengan tasawwur dan tasdiq.

Bukankah dua persoalan itu telah menelurkan dua gagasan besar dalam
jagat filsafat? Dan bukankah munculnya rasionalisme dan empirisme
terbukti tidak mampu keduanya sebagai sumber pokok pengetahuan.

Imajinasi menuju persepsi

Dalam epistemologi, imajinasi ditempatkan pada urutan kedua setelah
indera sebagai perangkat dasar pengetahuan. Hal itu disebabkan
imajinasi tidak dapat berdiri sendiri. Imajinasi dapat bekerja setelah
indera mempersepsi obyek tertentu. Obyek itu kemudian tersimpan dalam
benak manusia dalam bentuk imateriil.

Karena itu, imajinasi hanya dapat mendeskripsikan sesuatu meskipun
indera telah terputus dari realitas material. Namun, ia tidak dapat
menetapkannya sebagai sebuah pengetahuan baru. Maka, proses
kreativitas manusia dalam dunia obyek (world of objects) adalah
kesimpulan dan ketetapan akal bukan imajinasi.

Misalnya, pertanyaan kita kenapa burung dapat terbang? Pertanyaan
”kenapa” adalah ciri akal-rasional. Bukankah dalam imajinasi tidak
dapat menetapkan kausalitas? Ia adalah konsepsi primer yang muncul
dalam akal.

Dalam tradisi pemikiran Islam biasanya diterima tiga tingkat pemikiran
manusia. Dan rasionalitas atau logika ada di tingkat pertama. Yang
kedua adalah hal yang bersifat spiritual, rohaniah. Yang ini terkait
dengan perasaan-perasaan atau pengalaman-pengalaman keagamaan. Di
antara keduanyalah terletak imajinasi.

Filosof seperti Mullah Sadra (1571-1640) menyebut, persepsi tentang
dunia fisik eksternal, penglihatan misalnya, terjadi ketika jiwa
mempersepsi. Kemudian jiwa menciptakan bentuk imateriil yang sama
dengan obyek eksternal melalui iluminasi akal aktif, ketika organ
penglihatan dan segala kondisi yang dipersyaratkan terpenuhi. Bentuk
ini kemudian hadir dalam jiwa perseptif: jiwa memahami melalui
pengetahuan akan kehadiran (Inggris: Knowledge by presence, Arab:
Al-’ilmu Al-Huduri). Artinya: jiwa memahami dengan kesadaran.

Kehadiran itu seperti perbuatan bagi seorang pelaku. Bentuk yang
diciptakan oleh jiwa ini tidak selamanya hanya menjadi penyempurnaan
sekunder, tetapi selanjutnya justru jiwa ”menjadi” bentuk tersebut.
Jiwa berubah dari tidak mengetahui menjadi mengetahui (al-hikmah
Al-muta’aliyyah, Vol 9 halaman 285).

Imajinasi dan akal-rasional

Imajinasi rasional-logis oleh filosof Muslim biasanya disampaikan
lewat bahasa yang mengandalkan pada tata bahasa (grammar) yang teratur
dan urut-urutan logis. Yang spiritual, kata sebagian orangâ€"termasuk
Al-Ghazaliâ€"tak bisa diungkapkan secara rasional. Namun, beberapa sufi
tertentu mencoba mengungkapkannya.

Termasuk di dalamnya yang amat terkenal dan produktif dalam
mengungkapkan perasaan-perasaan keagamaannya adalah Ibn ’Arabi.

Terkait relasi imajinasi dan akal-rasional, Muhammad Baqir Sadar
(1935-1980) dalam bukunya, Falsafatunaâ€"setelah mengulas pendapat para
filosof mengenai perbedaan sumber-sumber pokok pengetahuanâ€"menyajikan
sebuah teori yang khas dalam filsafat Islam yang disebut ”Teori
Disposesi” (nazhariyyah al-intiza’).

Teori ini terangkum dalam pembagian konsepsi primer dan sekunder.
Konsepsi primer adalah dasar konseptual bagi akal manusia. Ia lahir
dari persepsi inderawi secara langsung beserta segala hal yang
dikandungnya. Misalnya konsepsi kita tentang rasa, warna, bau, panas,
dan lain-lain. Bagi Baqir Sadar, persepsi inderawi menjadi awal
munculnya konsepsi itu. Ia menciptakan ide tentang hal itu dalam akal
manusia.

Baqir Sadar percaya bahwa dari ide-ide tersebut terbentuklah kaidah
pertama (primer) tentang konsepsi. Dengan dasar itu, akal kemudian
memunculkan konsepsi sekunder. Dengan demikian, mulailah daur
penciptaan inovasi dan konstruksi. Inilah yang diistilahkan dengan
kata intiza’ (disposesi). Dalam kalimat lain, teori disposesi adalah
pertemuan fakta obyektif dengan konsep akal.

Lalu di manakah posisi imajinasi? Imajinasi berada di antara keduanya.
Ia menjadi sumber konstruksi, tetapi bukan ia sendiri yang
mengonstruksi kebenaran. Kebenaran hanya dapat dikonstruksi oleh akal.

Wilayah imajinasi ada dalam dunia ide, bukan pada fakta obyektif.
Karena itu, kebenaran saintifik dan kebenaran imajinatif amat jauh
berbeda. Namun bukan berarti keduanya tidak dapat bertemu.

Pertemuan keduanya terjadi di dunia imajinasi, sementara dalam dunia
obyektif indera dan akallah yang bekerja sama. Di sinilah terjadi
”generalisasi” sebagai output yang saintifik. Dan bukankah
”generalisasi” itu sendiri adalah simpulan akal?

Itulah sebabnya para filosof Muslim percaya bahwa daya imajinasi harus
ditempatkan di bawah kendali daya rasional. Jika dilepaskan dari daya
rasional, daya imajinasi berisiko kehilangan kendali dan sekaligus
kehilangan akses kepada realitas otentik yang ada di alam imajinasi.

 

Kirim email ke