http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/03/04/16554366/Wartawan.Harus.Main.Cantik
JAKARTA, RABU â" Direktur Eksekutif Kemitraan Pembaruan Tata Pemerintahan di Indonesia Mohammad Sobary meminta wartawan Indonesia bermain cantik dalam menyampaikan kritik atau pemberitaannya. Dengan begitu, subyek yang dikritik bisa berubah tanpa harus ada rasa sakit hati. "Jika seorang wartawan bermain cantik dalam melakukan kritiknya, orang yang dikritik tidak akan sakit hati," kata Sobary di Jakarta, Rabu (4/3). Sejumlah tips yang disampaikannya, antara lain, pemilihan katanya haruslah cerdas, data yang disampaikan faktual, dan kritik disampaikan dengan sedikit humor. "Sehingga tidak ada alasan (bagi yang dikritik) untuk marah," katanya. Agar seorang wartawan mempunyai kemampuan berbahasa yang luar biasa, ia harus banyak membaca karya-karya para senior. "Banyak membaca esai-esai. Baru setelah itu wartawan akan mendapat insight. Untuk wartawan pemula memang harus membutuhkan banyak waktu untuk belajar," ujar mantan Direktur Kantor Berita Antara itu. Menurut Sobary, dilihat dari jenis medianya, baru media cetak yang sudah sedikit bermain cantik dalam mengkritik. Wartawan pada media cetak mempunyai waktu untuk merenungkan kata-kata apa yang akan mereka gunakan. "Kalau wartawan TV itu parah. Karena terburu-buru, bahasa yang mereka gunakan kacau. Kata-kata sering kali diulang-ulang," terang Sobary. Untuk radio, Sobary memberikan pendapat, baru RRI yang tertata dengan apik. "Karena RRI sudah berumur, maka RRI sudah tertata rapi, meskipun ada beberapa bagian RRI tidak memberikan pencerahan pada pendengarnya." Sedangkan untuk media online, Sobary menyatakan lebih diuntungkan karena bisa cepat melakukan koreksi. "Karena diburu setan, media online harus cepat menayangkan berita. Kadang kala ada kesalahan pada berita awal, namun terus diperbaiki pada berita selanjutnya," jelas Sobary. C5-09
