Oleh Samuel Mulia
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/22/0300512/copy.paste



Saya membaca bukunya Warren Buffett. Tahukah Anda siapa dia? Capcai ah… cari 
aja ndiri. He-he-he … saya bercanda, jangan naik pitam dulu. Cepat marah itu 
tak sehat. Katanya. Saya membuktikan itu benar adanya. Yang sehat saya, yang 
tidak sehat orang lain, maksudnya.

Warren Buffett adalah nama seorang pria, sampun sepuh, pemilik perusahaan 
investasi terkemuka di Amrik, bukan di Indonesia.

Mengapa saya membeli buku salah satu orang terkaya yang sempat menggeser posisi 
Bill Gates sebagai juara satu itu? Hanya satu alasan saja. Saya ingin kaya 
seperti Pak Buffett. Sama seperti keinginan manusia umumnya. Maksud saya, 
manusia yang umumnya memang senang uang. Mau itu dasarnya rakus, setengah 
rakus, atau baru mau jadi rakus.

Bercita-cita menjadi Buffet

Padahal, di sebuah majalah yang pernah saya baca, Pak Buffett tak pernah 
bercita-cita jadi kaya meski ia pandai mencari uang sejak kecil saat 
teman-temannya belum punya niat mendapatkan uang seperti dia. Saya justru 
selalu bercita-cita jadi kaya sejak kecil, tetapi tak punya naluri seperti Pak 
Buffett.

Makanya sampai sekarang cita-cita saya itu masih menyala-nyala karena waktu 
kecil bisanya cuma mainan, setelah remaja dan setengah dewasa masih minta uang 
ke Ayah. Sekolah di dalam dan luar negeri juga atas biaya ortu karena Tuhan 
menganugerahi saya otak yang tidak memungkinkan mendapat beasiswa. Maka. kalau 
saya berdoa untuk Ayah, doanya semoga ia diberi panjang umur. Alasannya bukan 
karena saya anak berhati mulia, tetapi agar Ayah tetap hidup dan punya uang. 
Selama ia masih hidup dan punya uang, selama itu saya bisa mendapatkan 
"beasiswa".

Kalau melihat keadaan saya dan membandingkan dengan Pak Buffett, weleh, weleh, 
saya kok cuma punya apartemen di daerah bintang tujuh. Pusing maksudnya. Karena 
bus, kopaja, dan teman-temannya sering kali membuat taksi atau kalau kebetulan 
diantar mobil teman, kesulitan menyeberang jalan masuk.

Sampai hari ini saya tak punya pulau pribadi atau pesawat pribadi. Sementara 
teman saya dan temannya teman saya itu malah sudah bolak-balik terbang dengan 
"kendaraan" pribadinya itu dan mengundang saya sesekali ke pulau. Sesekali lho 
karena mereka tidak menganggap saya teman dekat.

Seperti pesta jetset yang saya hadiri dua minggu lalu, yang telah membuat 
beberapa kalangan jetset yang tak diundang mengajukan aksi protes. Tak sampai 
demo, tentunya, tetapi sudah cukup membuat pihak pengundang kewalahan menjawab 
pertanyaan, mengapa saya tak diundang. Saya sampai geleng kepala, sebegitu 
pentingnyakah atau perlunya sampai mereka harus protes?

Saya teringat dahulu, kala saya masih seperti itu. Harus diakui ada rasa 
tersisihkan karena tak diundang dan merasa tidak dianggap. Tak bisa sama 
seperti yang diundang. Jadi, dulu saya ini tukang minta-minta. Minta diundang, 
maksudnya. Selalu bekerja keras, agar bisa hadir di mana-mana.

Menjadi "Buffet"

Nah, saat saya berlibur di pulau teman itu saya menengadahkan kepala ke atas 
dan berkata. "Tuhan di manakah letak keadilan yang beradab itu?" Kok orang 
sampai bisa beli pulau, sementara tanah 200 meter persegi yang ditawarkan teman 
saya saja tak mampu saya beli. Teman saya mengajarkan untuk copy paste gaya 
para koruptor.

Sempat saya pikirkan ide itu. Tetapi, di buku yang saya baca, Pak Buffett tak 
korupsi. Namanya juga lagi getol mau seperti Pak Buffett, yaaa … saya pikir 
nurut apa kata dia saja.

Kalau Pak Buffett bermain saham, saya juga bermain saham. Pasar lagi ambruk, 
saya juga ikut ambruk. Tetapi, pesan seorang penulis mengenai Pak Buffett, yang 
saya baca di sebuah majalah keuangan buatan Indonesia, begini, "Ingat strategi 
Buffett, ia membeli saham ketika pasar sedang jatuh. Ia berani masuk ketika 
orang lain takut. Dan, hasilnya, ia rasakan dalam jangka panjang." Makanya, 
saya masuk ke pasar saham di tengah pasar yang gitu deh itu.

Kemudian saya tertawa. Maksud saya, menertawakan diri sendiri. Saya tak membaca 
dengan hati-hati kalimat si penulis tadi. Ia berani masuk ketika orang takut. 
Der… saya terdiam, tertunduk tanda tak mampu. Saya hanya ingin seperti dia, 
saya lupa instrumen lain yang dia miliki tak saya miliki.

Saya pengecut, tak berani seperti Buffett. Saya tak punya nyali seperti 
Buffett. Jadi, mau kaya ternyata bukan cuma baca bukunya, tetapi nyali dan luck 
juga menentukan. Itu kemudian yang membuat saya mundur teratur untuk tidak 
melakukan copy paste.

Buffett dan saya dua sosok berbeda. Yang tak memiliki kekuatan mental sama. 
Setelah saya kehilangan lebih dari 50 persen investasi, saya seperti dihujam 
pisau. Dengan mental macam tempe, saya kapok. Itu yang membedakan saya dari 
orang terkaya itu. Dia tidak takut, saya takut.

Dan, justru yang lebih penting dari semua itu adalah sensitivitas. Tingkat 
kepekaan yang berbeda. Saya tak memiliki kepekaan yang sama. Bahkan, saya tak 
peka kapan harus menarik dan kapan harus mengulur. Nalar saya tak secanggih 
milik pria sepuh itu saat bermain "layangan". Saya canggih main tarik-ulur di 
tempat lain.

Maka, setelah saya membaca buku Pak Buffett, saya salut dengan dia. Saya 
memutuskan berhenti menjadi kaya seperti dirinya. Karena kemampuan saya menjadi 
kaya bukan hanya bermodalkan membaca bukunya dan mendengar teori bermain 
layangan. Saya perlu banyak hal dan ada instrumen lain yang diperlukan untuk 
itu. Instrumen itu tak ada pada saya.

Nurani saya nyeletuk, "Mas, lo enggak bakal jadi seperti Buffett. Jadi, seperti 
buffet, ya."

Samuel Mulia Penulis Mode dan Gaya Hidup

Kirim email ke